Workshop Mitra KSI Mei 2017:

Bekerja dengan Media

8 Mei 2017


Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute saat membuka workshop Bekerja dengan Media (Senin, 8/5/2017) di kantor Tempo

Workshop mitra Knowledge Sector Initiative (KSI) kali ini mengusung tema ‘Bekerja dengan Media’. Workshop tersebut dilaksanakan pada 8-10 Mei 2017 di Jakarta. Hari pertama (8/5/2017) pelatihan dipusatkan di kantor Tempo, kawasan Jakarta Barat. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute. Mardiyah mengawali kelas dengan data yang mencengangkan, saat ini kita memasuki era banjir informasi. Kebiasaan pembaca surat kabar cetak hanya dua, yaitu skimming dan scanning. Jarang ada pembaca yang benar-benar menyimak tulisan wartawan.

Pelatihan kali ini, Tempo Institute mengajak seluruh mitra KSI untuk mengunjungi bagian redaksi dan bagian cetak. Selain dua bagian itu, Mardiyah Chamim juga membeberkan alur kerja Tempo, mulai dari rapat redaksi (dimana isu bermunculan dan perang ide terjadi), lalu masuk ke kolom perencanaan, diikuti penugasan reporter oleh redaktur, lalu muncul laporan lapangan reporter (keranjang mentah). Hasil dari keranjang mentah akan diedit oleh redaktur dan redaktur bahasa. Setelah itu, berita akan masuk ke keranjang matang, lalu berita masuk ke keranjang kreatif. Seluruh proses ini dilakukan tanpa terkecuali agar hanya berita bermutu yang sampai ke tangan pembaca.

Mardiyah juga mengungkapkan, agar hasil penelitian atau press conference dapat dimuat di media massa, maka materi tersebut harus disusun dengan bahasa yang menarik minimal pada judul dan paragraf pertama. Paragraf pertama yang menarik selalu dikawal oleh angle yang menarik untuk digali lebih jauh. Mengawali pelatihan yang akan diselenggarakan tiga hari ini, Yos Rizal (redaktur Sains Tempo) menyatakan angle atau sudut pandang selalu dalam kalimat tanya. Mengapa angle ini penting? Angle ini berfungsi untuk melatih penulis focus pada satu pertanyaan yang akna dijawab melalui tulisan.

Selain itu, diharapkan peneliti memiliki relasi yang baik dengan redaktur terkait pada satu media massa. Peneliti tidak dapat ‘memaksa’ agar materi atau hasil penelitiannya dimuat dalam koran. Peneliti hanya mampu melobi agar redaktur atau media massa yang dituju melirik hasil penelitian yang dikirimkan.

Kunjungan ke Dapur Berita Tempo

Anton Septian (redaktur Tempo) saat memaparkan kerja dapur media Tempo.co, koran Tempo dan majalah Tempo

Sejak 2012, Tempo menyatukan seluruh lini bisnisnya di satu gedung, yaitu di Palmerah Barat. Pasca 2012, seluruh akivitas pemberitaan di Tempo menganut asas konvergensi, kerja yang dilakukan terpsat antara staf Tempo.co, koran Tempo dan majalah Tempo. Maka, ide yang banyak dari reporter dan redaktur akan saling melengkapi satu sama lain. Di sisi pemberitaan, terdapat beberapa desk di Tempo, diantaranya: ekonomi bisnis, politik hukum, metropolitan, lifestyle, sains, periset foto, layouter dan redaktur bahasa. Sementara untuk penentuan ide atau isu yang akan diangkat, terkumpul di Super Desk, yang berada di lantai 3,5 kantor Tempo. Super Desk ini berisi meja panjang dan deretan redaktur serta social media expert yang akan membantu membaca data dari Google Analytic dan isu yang muncul di banyak media sosial. Nantinya masukan dari social media expert ini akan membantu dalam penentuan isu yang akan diangkat.

Yos Rizal Suriaji (redaktur Sains Tempo) memaparkan fungsi angle dalam berita​

Seluruh naskah berita yang masuk akan diperiksa redaktur dan redaktur bahasa, lalu dikirim ke periset foto untuk dilengkapi foto yang mendukung. Kemudian naskah berita dikirim ke layouter agar dapat disusun dummy-nya. Pasca dummy dicetak, naskah akan dilihat kembali (proofread) oleh redaktur dan redaktur bahasa (W).