Reportase Sesi Siang: 

Forum Nasional I Manajemen Lembaga Penelitian

Kepemimpinan dan Penguatan Manajemen Lembaga Penelitian di Perguruan Tinggi


Sesi 3. Institutional research and innovation capacity, excecutive leadership

Sekitar 8 tahun terakhir, Fakultas Kedokteran UI telah mengembangkan Pusat Riset di bidang kedokteran. Pusat Riset ini awalnya bernama Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI). Harapannya, bukan hanya bidang kedokteran yang berkembang, melainkan juga bidang lain. Saat ini Pusat Riset sudah merangkul bidang lain, yaitu teknik, MIPA dan sebagainya. Program riset yang di bawah Pusat Riset berjumlah 17 topik. Pusat Riset ini juga menampilkan perkembangan riset di website yag dapat diakses secara bebas. Dalam Pusat Riset ini telah ada jenjang karir yang meliputi technician, riset assisten, fellow, research fellow dan lain-lain.

Saat ini Pusat Riset UI telah menetapkan sejumlah key performance untuk lembaga riset yang ada di lingkungan UI, ungkap dr. Budi Wiweko, Sp. OG (K), MPH, manajer riset FK UI. Melalui key performance tersebut, orang dan lembaga dapat diubah/diganti setiap waktu jika diperlukan. Ada beberapa hal yang menjadi fokus Pusat Riset saat ini, transdisiplin, clinical research, akselerasi public private partnership, pengembangan SDM, peningkataan pengelolaan fund.  Pusat Riset juga membentuk diagnostic research center yang tersertifikasi ISO 17025 sebagai pusat laboratorium uji pengembangan alat kesehatan.

Pusat Riset juga memfasilitasi sejumlah hal, yaitu:

-          Clinical research supporting unit

-          Writing center: pre submission, editing article, submission service

-          Technology transfer office

Tujuan akhir Pusat Riset ialah terbentuknya medical science techno park pada 2026. Jadi, seluruh hasil riset dari beragam disiplin ilmu, dapat mendukung perkembangan teknologi kedokteran.

Asa Olsson dari LH Martin Institute, University of Melbourne menyatakan riset tidak bisa diprediksi, hal ini yang menarik dari riset. Selain itu, harus ada banyak skill dalam strategic planning. Kemampuan engaging international collaboration juga dibutuhkan agar riset lebih dapat menjawab kebutuhan jaman. Asa juga menyatakan sangat mahal untuk merekrut tenaga internasional. Namun, jika diperlukan maka LH Martin Institute akan melakukannya. Selain itu, dalam dunia riset ada banyak funding, maka kita harus berhati-hati dalam penggunaan dana tersebut. LH Martin Institute merupakan  salah satu government institutional yang meningkatkan profesionalisme staf bidang akademik. Salah satunya dengan kolaborasi bersama Lund University dalam bidang innovation policy and management.

Budi Wiweko dalam diskusi menyatakan mengenai jenjang karir di Pusat Riset FK UI, pihaknya telah mengajukan hal tersebut ke FK UI dan Kemenristekdikti. Harapannya hal ini mampu mendorong EMIRI agar memiliki fleksibilitas penuh, dapat meng-hire orang, memiliki akun dan pembiayaan sendiri. Hal ini challenging karena masalah take home pay, jika mengikuti SBU banyak peneliti yang kurang berkenan. Faktanya, 70% pengajaran dilakukan oleh staf universitas, maka jenjang karirnya hanya mengajar atau meneliti saja (W).

Sesi 4. Kepemimpinan dan Manajemen Riset serta Tantangannya ke Depan

Prof. dr. Laksono Trisnantoro menyatakan dana penelitian dari pemerintah diperkirakan akan meningkat. Dana ini sebagian merupakan mandat/tugas, umumnya dana yang tidak terserap karena kurang serius penanganannya. Bagaimana menyerap dana penelitian? Salah satunya dibutuhkan manajemen yang baik. Beberapa catatan dari kurang berkembangnya manajemen riset di 9 pusat riset di FK, yaitu: riset tim/klaster belum terbangun, kerjasama dengan peneliti dan luar negeri belum baik, infrastruktur belum baik. Maka rencana operasional pasca kegiatan ini:

-          Bagaimana pengembangan peneliti full timer dan karirnya.

-          Tulang punggung riset/post doc harus dikembangkan dengan baik

-          Pengembangan manajemen

-          Pengembangan leadership riset tim/klaster (leader di Pusat/kapusat dan professor/lector kepala yang memimpin tim)

dr. Ahmad Hamim Sadewa, PhD melalui presentasi berjudul Penguatan Manajemen Riset di Program Studi S3 Kedokteran dan Kesehatan menyatakan beberapa poin penting: pertama, manajemen riset sangat penting, dulu peneliti bekerja individual (tanpa target dan roadmap). Kedua, peneliti penting untuk merencanakan (hal yang sama juga diungkapkan Asa Olsson). Riset yang teratur dan dikelola dengan baik, bisa memberikan hasil yang jelas. Ketiga, from clinic to application yang berat. Faktanya, pusat penelitian di FK UGM memiliki grant yang lebih besar dibandingkan prodi. Maka, anjuran dari program S3 ialah pusat penelitian di FK UGM bersedia mengikutsertakan mahasiswa S3 FK UGM yang memiliki potensi sebagai peneliti dan memiliki minat penelitian yang besar. Sehingga, masing-masing kelompok dapat membuat penelitian transnasionalnya. Hamim menegaskan perilaku pemimpin akademik perlu ditingkatkan, agar mahasiswa mampu menerapkan ruh penelitian itu sendiri pasca lulus.

Prof Adi Utarini, MSc, MPH, PhD (pembahas) menemukan kutipan dari sebuah jurnal dan membagikannya pada peserta seminar hari ini (15/5/2017) “area riset leadership tidak banyak literaturnya, bahkan neglected”. Jika menilik internal FK UGM, peneliti full timer: ada sekitar 100, dengan pendidikan S1-S3 (mereka terdaftar sebagai teknisi, hanya ada tenaga pendidik dan teknisi yang tercatat di pusat data UGM). Maka, perlu digalakkan kemandirian penuh atas karirnya, atau pengelolaan keuangannyapada pusat riset yang menaungi banyak peneliti. Hal ini menjadi peluang yang harus digali. Advokasi masih perlu digalakkan. Internal di FK, peneliti senior harus mampu mendapatkan pengakuan dari fakultas dan universitas. Pengembangan peneliti full timer tidak dapat dipisahkan dari pengembangan kemampuan dosen-dosen muda. Banyak mahasiswa S3 yang statusnya part time di FK, maka perlu harmonisasi. Faktanya, training tidak akan berdampak apapun. Maka, FK dan pusat menyisihkan dananya untuk investasi pada peneliti dan dosen muda.

Catatan akhir dari sesi 4 ialah mahasiswa S3 (TA 2017 ) telah dipertemukan  dengan promotornya melalui program pra Doktor S3 FK UGM, namun mereka dapat juga belajar di kampus lain. Tercatat 70 orang mendaftar, namun sebagian masih mencari topik penelitian. Motivasi pelajar S3 di Indonesia masih seputar meningkatkan karir, prestise atau tugas dari institusinya. Sayangnya, banyak alumni S3 yang tidak meneliti lagi, rata-rata memilih pekerjaan administratif.

dr. Yodi Mahendradhata, MSc, PhD selaku Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, FK UGM menyatakan Forum Manajemen Riset II akan diselenggarakan tahun depan di Universitas Indonesia, dr, Budi Wiweko sudah menyanggupi hal tersebut (W).

Reporter: Widarti (PKMK FK UGM)