Reportase

Diskusi Ilmiah: Manajemen Riset untuk Research Centers:
Leading and Managing Change: Developing a Strong Research Culture

Oleh: Åsa Olsson
Fellow of Research, Development & Innovation, LH Martin Institute

Yogyakarta, 10 Agustus 2018


 

pak andre

PKMK – Yogya. Sejak 2017, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kerja sama dengan LH Martin Institute, University of Melbourne dalam bidang manajemen pendidikan tinggi, termasuk manajemen lembaga riset di perguruan tinggi. Diskusi pada kesempatan kali ini membahas hasil observasi Åsa Olsson, peneliti LH Martin Institute, University of Melbourne tentang pengelolaan lembaga riset di lingkungan FKKMK UGM. Sebagai moderator, Prof. Laksono Trisnantoro menyampaikan bahwa kolaborasi yang dibangun antara FK-KMK UGM dan LH Martin Institute bertujuan untuk berbagi good practices dalam pengelolaan kapabilitas lembaga riset yang berkelanjutan.

Mengawali paparan, Åsa menyampaikan bahwa beberapa praktik yang dapat mendorong research excellent yaitu pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur penelitian, dan kolaborasi. Terkait dengan isu sumber daya manusia, beberapa aspek yang perlu dikembangkan yaitu kepemimpinan visioner, partisipasi tim dalam alokasi sumber daya, keberagaman grup riset dari aspek usia dan latar belakang, kemampuan untuk merekrut “academic stars”, proses seleksi yang ketat, kolaborasi dengan insan akademik, konsistensi antara sistem reward dan goal, dan jenjang karir serta promosi yang adil dan transparan sesuai dengan kinerja peneliti.

Sementara itu, ditinjau dari aspek infrastruktur, Åsa menjelaskan bahwa untuk mendorong research excellent, diperlukan otonomi dalam mengelola unit. Selain itu, keberlangsungan finansial, media komunikasi internal dan eksternal, proses belanja, dan proses etika penelitian yang efektif serta didukung oleh investasi riset seperti laboratorium dan IT merupakan aspek yang turut mendorong terwujudnya research excellence ditinjau dari aspek infrastruktur.

                Åsa menambahkan, kolaborasi juga merupakan aspek yang juga berperan penting dalam mendorong terwujudnya research excellent. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan kapasitas dalam berkolaborasi dengan para ahli, peningkatan kemampuan dalam mengakses peralatan dan data penelitian, selalu mengikuti ilmu pengetahuan yang sedang berkembang, berpartisipasi dalam iklim akademik global, mendorong publikasi di jurnal ber-impact factor tinggi, serta meningkatkan kemampuan dalam mengakses lembaga donor internasional.

Observasi yang dilakukan oleh Åsa terkait pada lembaga riset di lingkungan FK-KMK UGM menyimpulkan bahwa pada dasarnya seluruh lembaga riset telah memiliki arah yang stratejik, akademisi yang berkomitmen dalam dunia riset, serta keterbukaan dalam kolaborasi dan sharing. Selain itu, lembaga riset di lingkungan FK-KMK UGM juga memiliki infrastruktur yang mendukung riset seperti laboratorium dan IT, serta keberagaman dalam kapabilitas peneliti serta sumber dan besaran pendapatannya. Namun demikian, lembaga riset di lingkungan FK-KMK UGM masih memiliki banyak tantangan. Di level institusional, perubahan sistem keuangan khususnya regulasi terkait pajak, jenjang karier bagi peneliti, serta fleksibilitas kontrak peneliti masih menjadi tantangan.

Sementara itu, di level lembaga penelitian sendiri, kapasitas manajemen riset dan proyek, kemampuan menulis untuk kelompok pembaca yang beragam, kontrak donor yang bersifat jangka pendek, serta kurangnya kapabilitas peneliti dalam beberapa bidang penelitian tertentu juga ditemukan oleh Åsa. Terkait hal tersebut, Åsa merekomendasikan beberapa hal untuk perbaikan pada masa yang akan datang, antara lain mengembangkan fungsi manajemen penelitian dan profil lembaga riset, pelatihan menulis manuskrip artikel untuk jurnal internasional, pengembangan ketrampilan berjejaring, sharing penelitian yang sedang berlangsung, pengembangan manajemen waktu, serta mengembangkan sistem penggajian berbasis kinerja.

Beberapa diskusi yang muncul dalam pertemuan ini diantaranya pembahasan mengenai sistem manajemen sumber daya manusia yang berbeda antara UGM dan University of Melbourne. University of Melbourne mengakui staf akademik universitas dari kalangan peneliti. Sementara itu, peneliti non-dosen di UGM tidak termasuk ke dalam staf akademik. Selain itu, juga dibahas mengenai permasalahan kontrak jangka pendek para peneliti dan cara mengelola waktu peneliti yang merangkap pekerjaan sebagai tenaga pengajar.

Reporter: Dedik Sulistiawan