Reportase: Capacity Building On Supporting Evidence Based In Policymaking Process

 

 

PKMK FK - KMK UGM, pada 4 -06 Februari mengadakan program workshop dengan tema “Supporting Evidence Based Use in Policymaking Process”. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan pengembangan kapasitas peneliti kebijakan kesehatan kerjasama Knowledge to Policy (K2P AUB) dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK FK - KMK UGM). Narasumber kegiatan workshop ini adalah perwakilan dari K2P AUB Lebanon, sebagai mentor bagi peneliti PKMK UGM dalam program pengembangan kapasitas tersebut.

 

Hari Pertama

HARI PERTAMA KEGIATAN workshop ini dimulai pada pukul 08.30 WIB dimulai dengan sambutan selamat datang kepada tim K2P AUB serta penjelasan maksud kegiatan kepada seluruh partisipan yang dibawakan langsung oleh sekretaris PKMK UGM, Shita Listyadewi, MPP. Sesi selanjutnya diserahkan kepada tim AUB untuk melakukan perkenalan antara partisipan dan narasumber dan kemudian dilanjutkan dengan overview kegiatan selama 3 hari kedepan oleh tim AUB, Clara Abou Samra, BSN., MPH.

Setelah memberikan overview kegiatan selama 3 hari kedepan, Clara Abou Samra, BSN., MPH. mempersilakan tim PKMK UGM untuk mempresentasikan capaian dari proyek Capacity Building antara K2P AUB dan PKMK UGM. Presentasi capaian dalam proyek ini disampaikan oleh Nelson Yonatan, SE, MBA. Dalam presentasinya, Nelson Yonatan, SE, MBA memaparkan kegiatan apa saja yang telah dilakukan bersama antara K2P AUB dan PKMK UGM mulai dari post mentorship program di K2P AUB Lebanon. Adapun garis besar kegiatan yang dilakukan PKMK UGM dibawa mentor dari K2P AUB antara lain, penyusunan rencana kegiatan, pemilihan dua topik prioritas yang akan didorong menjadi kebijakan. Setelah memilih dua topik prioritas, langkah selanjutnya adalah melakukan policymaking mapping sesuai dengan topik yang dipilih, melakukan assessment terhadap semua policymaking institution yang menjadi partner.

Selain kegiatan diatas, PKMK juga mengikuti Capacity Building lewat webinar dengan topik: Priority Setting on Health Policy and System Research, Effective Literature Searching, and Policy Brief Writing yang diselenggarakan oleh K2P AUB. Selain kegiatan webinar, PKMK UGM juga melakukan penulisan problem statement pada topik Sugar Sweetened Beverage dan Health Crisis Management serta menyelesaikan penulisan draft policy brief untuk dua topik tersebut.

Workshop ini dilaksanakan padapukul 08.30 hingga 15. 45 WIB selama tiga hari berturut -turut. Kegiatan pada hari pertama dimulai dengan pengenalan kepada proses pembuatan kebijakan kesehatan yang membahas lebih dalam dan secara mendetail mengenai siklus dari kebijakan, alasan mengapa penting menginformasikan evidence/bukti penelitian kepada pembuat kebijakan, usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mendukung penggunaan bukti dalam keputusan kebijakan, dan sesi ini diakhiri dengan diskusi antara narasumber, Clara Abou Samra, BSN., MPH. dan partisipan mengenai partisipasi apa yang dapat dilakukan oleh masing-masing institusi dalam upaya mendorong penggunaan bukti penelitian dalam pengambilan kebijakan kesehatan.

Pada sesi kedua hari pertama, pembahasan mengenai bagaimana menentukan topik prioritas yang akan didorong menjadi kebijakan dalam bidang kesehatan. Pada sesi ini narasumber, Rana Saleh, LD, MPH. memaparkan mengenai pentingnya menentukan topik, seberapa besar impact terhadap khalayak banyak dan seberapa besar topik tersebut menjadi perhatian pemerintah/ pembuat kebijakan. Pada sesi ini juga, Rana Saleh, LD, MPH menyampaikan beberapa tips bagaimana mencari evidence pendukung dalam penulisan policy brief. Tips tips mencari evidence dengan cara yang efektif sangat dibutuhkan di era sekarang dimana kita dibanjiri dengan informasi yang tersedia, disaat yang sama kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk membaca satu persatu artikel/informasi yang ada.

Setelah makan siang, kegiatan workshop dilanjutkan kembali dengan pembahasan pentingnya peran sintesis bukti (systematic review and rapid review) dalam mempengaruhi keputusan kebijakan. Pada sesi ini, Rana Saleh, LD, MPH memperkenalkan fitur-fitur utama dalam systematic review dan rapid review serta data base utama untuk mencari systematic review yang berkualitas menggunakan AMSTAR.

Sesi berikutnya diisi dengan overview pada perbedaan dari Knowledge translation yang tersedia (support summary, policy brief, briefing notes, rapid response services) yang tersedia untuk mendukung penggunaan bukti penelitian dalam keputusan kebijakan. Setelah menyampaikan perbedaan pada setiap terjemahan produk yang tersedia, narasumber dan peserta terlibat dalam diskusi mengenai priority topic dan persiapan untuk pelatihan berikutnya.

Reporter: Nelson Yonatan, SE, MBA.

Hari Kedua

Workshop Hari Kedua, workshop hari kedua berlangsung dari pukul 08.30 hingga pukul 15.30 WIB. Pada sesi pertama, Clara Abou Samra, BSN., MPH menyampaikan materi mengenai persiapan penulisan policy brief dengan topik: clarifying and framing the problem, dengan tujuan untuk memperkenalkan peserta pada daftar pertanyaan-pertanyaan yang perlu diperhatikan ketika hendak mengklarifikasi sebuah permasalahan. Selain itu, topik ini juga bertujuan untuk memperkenalkan cara/proses dan hal-hal penting dalam memilih topik prioritas.

Setelah coffee break, pelatihan dilanjutkan dengan pembahasan dan pelatihan bagaimana menyusun problem statement, problem clarification, dan problem framing. Pada sesi ini, peserta dibagi kedalam 5 kelompok dan masing-masing kelompok mengerjakan problem statement pada topik yang berbeda. Adapun topik yang dikerjakan adalah: Medical Specialist in Rural Area
Policy Brief towards Retention, Addressing barriers toward fully child immunization coverage in rural Area of Indonesia, Redirecting Government Funds of Indonesia to provide Healthcare for the underprivileged, Health Crisis Management, dan Sugar Sweetened Beverage Tax in Indonesia
. Masing masing kelompok menyusun problem statement, mencari data/ research evidence pendukung menggunakan cara/tips yang telah diajarkan hari sebelumnya.

Setelah mengerjakan problem statement pada masing - masing topik, tiap kelompok diberi waktu untuk mempresentasikan problem statement yang mereka telah susun secara bergantian dan langsung mendapatkan masukan dari narasumber mengenai topik yang mereka telah kerjakan. Kegiatan presentasi berlangsung selama 30 menit sebelum istirahat makan siang.

Selanjutnya, peserta mengikuti pelatihan persiapan penulisan policy brief selanjutnya pada tahap framing options and implementation considerations. Pada tahap ini, narasumber memaparkan daftar pertanyaan yang perlu diperhatikan ketika memframing pilihan-pilihan solusi untuk menjawab permasalahan yang ada pada problem statement. Pada tahap ini juga peserta diperkenalkan pada daftar pertanyaan yang perlu diperhatikan saat mengidentifikasi implementasi dari pilihan-pilihan solusi yang diberikan. Selain itu, pada tahap ini juga Rana Saleh, LD, MPH menyampaikan pentingnya memahami bagaimana research evidence dapat membantu menjawab setiap pertanyaan yang ada dalam problem statement.

Disesi terakhir hari kedua, peserta berlatih secara berkelompok pada topic application on framing options. Pada tahap ini setiap kelompok menjelaskan setiap kemungkinan pilihan solusi yang ada untuk menjawab permasalahan yang ada, penyebab permasalahan tersebut lebih awal. Selain itu, peserta bekerja secara kelompok mencari systematic review study yang berkaitan dengan permasalahan yang ada serta pilihan pilihan solusi yang dipilih masing masing kelompok. Diakhir acara, Clara Abou Samra, BSN., MPH. dan Rana Saleh, LD, MPH meminta perserta untuk mempersiapkan draft policy brief untuk dipresentasikan pada awal sesi hari ketiga.

Reporter: Nelson Yonatan, SE, MBA.

Hari Ketiga

Hari ketiga, berlangsung pukul 08.30 hingga pukul 15.45 WIB. Pada sesi pertama hari ketiga setelah acara dibuka oleh Clara Abou Samra, BSN., MPH., setiap kelompok dipersilakan untuk melakukan presentasi problem statement, options and solutions yang mereka telah susun untuk topik prioritas yang dipilih masing-masing kelompok. Presentasi dari masing-masing kelompok berjalan dengan sangat antusias. Narasumber Clara Abou Samra, BSN., MPH dan Rana Saleh, LD, MPH secara bergantian meberikan penilaian dan masukan serta pujian terhadap progres yang dicapai masing-masing kelompok dalam menulis outline draft policy brief.

Setelah presentasi selesai, kegiatan dilanjutkan oleh Rana Saleh, LD, MPH dengan materi Organizing a Policy Dialogue. Pada sesi ini, Rana Saleh, LD, MPH membawa peserta untuk lebih familiar dengan fungsi utama dan fitur-fitur pada policy dialogue. Selain itu, pada sesi ini juga Rana Saleh, LD, MPH menyampaikan betapa penting bagi tim advokasi untuk memahami tipe-tipe stakeholders yang dapat dilibatkan dalam policy dialogue. Penting bagi tim advokasi untuk bisa memilih key person yang tepat serta memili kemampuan untuk menangani tipe-tipe stakeholders dalam proses policy dialogue. Setelah memaparkan hal tersebut, Rana Saleh, LD, MPH mengajak Clara Abou Samra, BSN., MPH untuk Role Play bagaimana menghadapi tipe stakeholder yang emosional dan susah diatur.

Setelah coffee break, Clara Abou Samra, BSN, MPH kembali memberikan pelatihan mengenai bagaimana pentingnya data visualization. Pada sesi ini, Clara Abou Samra, BSN, MPH. memberikan berbagai contoh visualisasi data yang baik dan yang buruk serta meberikan contoh secara langsung cara melakukan visualisasi data dengan menggunakan aplikasi online piktochart. Setelah menjelaskan dan memberi contoh, Clara Abou Samra, BSN, MPH meminta setiap peserta untuk mencoba hal yang sama.

Sesi selanjutnya diisi oleh Rana Saleh, LD, MPH untuk memperkenalkan proses advokasi kepada peserta yang ada. Dalam pembahasannya, Rana Saleh, LD, MPH menyampaikan tips tips melakukan advokasi, siapa saja yang bisa dilibatkan, bagaimana memetahkan kekuatan masing-masing stakeholder dan treatment berdasarkan pemetaan masing-masing stakeholder yang ada. Selain itu, Rana Saleh, LD, MPH juga menyampaikan pentingnya tetap terhubung dengan setiap stakeholder yang telah dipetakan sesuai tingkat pengaruh, baik diposisi mendukung ataupun menghalangi dalam proses advokasi.

Pada sesi terakhir setalah makan siang, peserta kembali bekerja sesuai kelompok masing-masing untuk melakukan rencana mapping stakeholder masing masing topik serta menyusun rencana penyelesaian penulisan, advokasi, dan policy dialogue dari masing - masing kelompok berdasarkan topik yang dipilih. Sebelum mengakhiri seluruh kegiatan pelatihan, Clara Abou Samra, BSN., MPH dan Rana Saleh, LD, MPH melakukan diskusi bagaimana masing - masing partisipan dapat mendorong penggunaan evidence based dalam proses pengambilan kebijakan kesehatan yang ada di Indonesia, serta meminta peserta untuk mengisi lembar evaluasi mengenai kegiatan pelatihan yang sudah berjalan selama tiga hari.

 

Reporter: Nelson Yonatan, SE, MBA.

Hari Keempat

Puncak dari kegiatan workshop 3 hari yang diadakan oleh K2P AUB dan PKMK UGM adalah kegiatan konsultasi dengan pembuat kebijakan terkait potensi penetapan kebijakan cukai terhadap minuman berpemanis. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat,l 7 Februari 2020 di 25 street meeting room Hotel Manhattan Jakarta. Kegiatan ini dihadiri stakeholder dari Sub Direktorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Sub Direktorat Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Direktorat P2PTM Kemenkes, dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Bea dan Cukai (DBJ) Kemenkeu.

Kegiatan ini dimulai dengan perkenalan dari setiap peserta baik dari stakeholders yang diundang, tim PKMK dan tim K2P yang hadir dalam kegiatan konsultasi kebijakan ini. Setelah kegiatan perkenalan yang dipandu oleh Kurnia Widyastuti, MPH. Presentasi problem statement dari draft policy brief yang sudah disusun oleh tim PKMK dipaparkan oleh Agus Salim, MPH. Setelah menyampaikan problem statement yang ada, Kurnia selaku fasilitator dalam acara ini memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder yang ada untuk mengkaji serta membuka diskusi atas problem statement yang ada.

Selanjutnya, secara bergantian Kurnia dan Agus memaparkan cakupan masalah, inisiatif pada level pemerintah yang terkait pengurangan konsumsi minuman berpemanis, hambatan yang dihadapi pemerintah terkait konsumsi minuman berpemanis, inisiatif pada level pembiayaan serta tantangan yang ada terkait dengan konsumsi minuman berpemanis. Selain itu, diskusi mengenai level implementasi, tim PKMK menggali informasi dari para stakeholder apakah ada terdapat inisiatif yang telah diimplentasikan untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis serta apa saja kendala yang dihadapi.

Diskusi antara tim PKMK dan stakeholders dari Kemenkes dan Kemenkeu berjalan dengan penuh antusias dari masing-masing peserta. Para stakeholder menunjukkan ketertarikan dan kesiapan untuk berkolaborasi dengan PKMK UGM dalam mendorong upaya penanganan penyakit tidak menular, salah satunya lewat pengurangan konsumsi minuman berpemanis di kalangan masyarakat. Selanjutnya, tim PKMK yang difasilitasi oleh Kurnia dan Agus, melanjutkan pemaparan terkait pilihan pilihan solusi yang ditawarkan oleh tim PKMK UGM dalam upaya mengendalikan penyakit tidak menular, dalam hal ini penyakit yang berhubungan dengan konsumsi minuman berpemanis. Adapun pilihan pilihan solusi yang ditawarkan oleh PKMK adalah:

  1. Mengimplementasikan intervensi perubahan perilaku di sekolah-sekolah dan level masyarakat untuk membatasi konsumsi minuman berpemanis.
  2. Menerapkan regulasi cukai terhadap minuman berpemanis, membatasi peredaran minuman berpemanis di lingkungan sekolah
  3. Memastikan ketersediaan minuman sehat di sekolah supermarket dan restoran
  4. Mengatur pemasaran produk minuman berpemanis dan memastikan ketersediaan label peringatan yang jelas di kemasan minuman berpemanis.

Dari 4 usulan tersebut, stakeholder dari Kemenkes dan Kemenkeu melihat usulan nomor 2 sebagai usulan yang paling memungkinkan untuk diimplementasikan, sedangkan stakeholder dari Kemenkes melihat usulan nomor 1 sebagai hal yang perlu diupayakan dan ditingkatkan oleh Kemenkes guna melindungi segenap bangsa Indonesia seperti yang diamanatkan oleh UU. Diskusi berjalan sangat hangat dan menarik, hal ini terlihat dari antusias para stakeholder dari Kemenkes dan Kemenkeu yang aktif memberi masukan dan saran, hanya aja waktu Sholat Jumat sudah tiba sehingga diskusi harus segera diakhiri. PKMK dan stakeholder kemudian membicarakan rencana untuk pertemuan selanjutnya

Reporter: Nelson Yonatan, SE, MBA.