Reportase

Pertemuan Tahunan Ke - 21 PKMK FK - KMK UGM

“Membangun Sistem Kesehatan yang Inklusif”

Yogyakarta, 26 Februari 2019

 


 

pkmk 21th

PKMK – Yogya. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (PKMK FK - KMK UGM) pada Selasa, 26 Februari 2019 menyelenggarakan kegiatan rutin tahunan yakni Pertemuan Tahunan ke - 21 dengan tema “Membangun Sistem Kesehatan yang Inklusif”. Pembukaan pertemuan dilakukan oleh dr. Yodi Mahendradhata, MSc. Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan, mewakili Dekan FK - KMK UGM yang berhalangan hadir. Dalam sambutan pembukaannya, dr. Yodi mengapresiasi rekam jejak PKMK yang dapat dilihat di berbagai wilayah tanah air. Rekam jejaknya tidak hanya dengan pihak luar, namun juga dengan internal fakultas. PKMK telah menyumbangkan gagasan - gagasan inovatif bagi pengembangan fakultas dan pusat - pusat kajian di dalamnya, sehingga fakultas selalu menanti kontribusi - kontribusi selanjutnya dari PKMK.

Kemudian dalam sambutannya, Direktur PKMK FK-KMK UGM Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes., MAS melaporkan bahwa isu disparitas menjadi sorotan dalam pertemuan tahunan PKMK tahun ini. Disparitas di Indonesia terjadi di berbagai sektor tidak hanya sektor kesehatan. Sementara itu, khusus untuk sektor kesehatan, disparitas terjadi antara daerah satu dengan yang lain di Indonesia. Terutama antara daerah di sekitar Jawa Bali dengan daerah di luar Jawa. Seperti kesenjangan survival rate, usia harapan hidup, persalinan ibu di faskes, dan proporsi hemodialisis. Oleh karena itu, sesuai dengan visi misi PKMK yaitu terus melakukan cerita perubahan untuk upaya perbaikan dan membangun sistem kesehatan yang inklusif. Dibenarkan oleh dr. Andreasta bahwa rekam jejak PKMK dapat ditemukan di berbagai wilayah di tanah air, khususnya daerah pelosok yang masih tertinggal.

Dalam upaya mewujudkan sistem kesehatan yang inklusif, PKMK terus membangun sejumlah kemitraan dengan pihak - pihak terkait. Sejumlah kerja sama baru yang dijalin pada 2018 diantaranya dengan Caritas Jerman, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, American University di Beirut, Supertext Swedia, Clinton Health Access Initiative, Project HOPE, MERCK (JHPIEGO), Bappeda dan Litbang Kab. Banggai Kepulauan, serta RSUD Raja Ahmad Tabib Kepulauan Riau.

Selama 2018 pula, PKMK tidak berhenti menyelenggarakan teleconference baik webinar maupun Skype, dan tercatat terdapat 357 kali webinar dan 9 Skype. Ditambah 20 kali livestreaming dan 78 rekam offline. PKMK juga telah mengembangkan teknologi aplikasi pencegahan fraud di rumah sakit, dan saat ini telah bekerjasama dengan RSUP Prof. dr. Kandou Manado dengan keberhasilan mendeteksi rata – rata terjadi potensi 15 jenis fraud setiap harinya di RS kandou. Sedangkan untuk memudahkan administrasi sekaligus validitas proyek - proyek yang dikerjakan, PKMK sedang mengembangkan SIMPRO PKMK atau Sistem Informasi Manajemen Project PKMK, yang di dalamnya mencatat secara otomatis data proyek yang dikerjakan, data klien, durasi kegiatan, nilai proyek. Dengan sejumlah pencapaian tersebut, maka PKMK tidak boleh berhenti untuk mengaktualisasi diri dan tantangan ke depan adalah PKMK harus bisa menjadi rainmaker, melakukan re-invention, regeneration, dan menguatkan regulasi; dengan bersinergi bersama departemen - departemen klinis dan pusat kajian lain di FK - KMK serta rumah sakit di sekitarnya seperti RSA UGM dan RSUP dr. Sarjito Yogyakarta.

Menanggapi laporan direktur PKMK, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD berpesan meski PKMK sudah cukup dipercaya di ranah internasional namun jangan pernah melupakan dalam negerinya. Justru PKMK harus memiliki akar yang kuat dan dalam di Indonesia. Terutama terus berjuang untuk mewujudkan kesetaraan kesehatan di Indonesia, karena masih sangat senjangnya pelayanan kesehatan antar daerah di Indonesia. PKMK juga harus bisa menjadi front runner atau pelari utama dalam era digitalisasi. PKMK juga harus bisa membawa semangat filantropi, dengan banyaknya kerja sama dengan lembaga - lembaga filantropi asing.

Turut menanggapi laporan direktur PKMK, dr. Yodi Mahendradhata juga berpesan, agar PKMK sebagai inisiator pembuatan SIMPRO bersedia membagi ilmunya ke pusat - pusat kajian lain agar sistem administrasi proyeknya lebih baik. PKMK juga diminta untuk tidak hanya memperhatikan dalam negeri, tapi juga dalam fakultas. Pasalnya banyak sejumlah gagasan yang telah dikeluarkan oleh para ahli dari PKMK dan telah berjalan di fakultas, namun kurang mendapat pengawalan dari ahlinya, misalnya terkait Academic Health System (AHS).

Masuk dalam sesi paparan dari masing - masing divisi di PKMK, Divisi Mutu Pelayanan Kesehatan mengawali sesi tersebut dengan laporan dari Kepala Divisi Mutu PKMK yakni dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua. Dalam paparannya dr. Hanevi memaparkan dua cerita perubahan di divisi Mutu selama 2018 yakni tentang penetapan dokumen Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Peningkatan Mutu, dan Journal of Hospital Accreditation; bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan RI. Dilanjutkan dengan cerita perubahan dari divisi Manajemen Rumah Sakit (MRS), oleh kepala divisinya yakni Yos Hendra, SE, MM.Ak yang menceritakan tentang upaya divisi MRS membangun kesetaraan layanan kesehatan di Kabupaten Nias Utara yang masih tertinggal. Kemudian divisi e-health memaparkan tentang proyek Supertext bersama dengan Supertext Swedia, untuk menyampaikan pesan - pesan kesehatan terutama di daerah - daerah tertinggal. Kelebihan Supertext ini yaitu dapat digunakan melalui smartphone maupun HP biasa, juga bisa mengirim tulisan dan gambar, bisa menggunakan software maupun tanpa software, serta dapat dioperasikan di jaringan 2G maupun 3G. Mengingat masih minimnya akses komunikasi di daerah - daerah terpencil tersebut.

Pemaparan cerita perubahan dilanjutkan oleh divisi kebijakan dan manajemen kesehatan, dengan judul cerita Kesehatan untuk Semua. Tidak hanya masalah disparitas yang disoroti, namun masih banyak pihak - pihak yang termarjinalkan di dalam masyarakat sendiri. Yakni orang - orang dengan HIV AIDS, pecandu alkohol, pengguna narkoba, korban kekerasan, penyadang disabilitas, LGBT, warga binaan lapas, dan pekerja seksual. Pemaparan cerita perubahan diakhiri oleh divisi manajemen bencana, yang tidak terlalu banyak berubah program - programnya pada 2018. Seperti Hospital Disaster Plan yang masih berlanjut karena masih banyak rumah sakit di Indonesia yang belum siap menghadapi situasi bencana. Dalam kegiatan CFHC, divisi bencana juga menerbitkan stiker yang ditempel di rumah - rumah penduduk yang memiliki anggota keluarga yang rentan bencana seperti lansia, anak kecil atau bayi, serta penyadang disabilitas.

Menanggapi laporan masing - masing divisi tersebut, para ketua Board PKMK memberikan tanggapan yang positif dan saran yang membangun. Beberapa diantaranya dari Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD yang menyarankan agar PKMK dapat membangun sinergi untuk penelitian dengan para mahasiswa S2 di IKM, serta memanfaatkan keberadaan media social agar dapat dikenal semakin luas oleh para stakeholder. Sementara dr. Ibrahim Rahmat, SKp, SPd, M.Kes lebih menyoroti terhadap pemaparan dari divisi bencana, terkait meningkatnya angka gangguan jiwa pasca bencana. Adapun Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA memberikan masukan agar dibentuk wadah pelkatihan intensif atau camp bagi peneliti - peneliti muda di PKMK, misal untuk tata cara penulisan publikasi dan scientific approach.

Sesi terakhir pertemuan tahunan PKMK kali ini yakni sesi talkshow bersama perwakilan departemen klinis di FK - KMK dan perwakilan RSA UGM juga RSUP dr. Sarjito Yogyakarta; dalam rangka membahas peluang kerjasama yang sinergis antara PKMK dengan pihak - pihak tersebut. Hadir dalam talkshow yakni dari divisi obgynsos departemen Obgyn FK - KMK, Divisi Keperawatan Jiwa Dan Komunitas Departemen Jiwa, Divisi Pediatric Social dari Departemen Pediatric FK - KMK, Divisi Geriatric Social Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK - KMK, departemen Mata FK - KMK, Bagian Diklit RSUP dr. Sarjito Yogyakarta, serta Bagian Penelitian Dan Akademik RSA UGM. Dalam talkshow mengemuka sejumlah penyataan dan tanggapan, untuk kemungkinan kerjasama PKMK dengan divisi - divisi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Divisi MRS PKMK terkait penelitian akuntasi perilaku. Kemudian dari divisi Mutu PKMK terkait kerjasama penelitian fraud di RSA UGM dan RSUP dr. Sarjito Yogyakarta.

Reporter: Edna Novitasari (PKMK UGM)