Reportase

Webinar Tantangan Mewujudkan Kesetaraan Kesehatan di Indonesia, Thailand, dan Afrika Selatan

24 Oktober 2019

 


webinar kesetaraan kesehatan

Dok. PKMK – (kiri) Piya Hanvoravongchai (Program Director, The Equity Initiative) dan (kanan) Prof. Laksono Trisnantoro (PKMK UGM) pada webinar terkait kesetaraan kesehatan pada Kamis (24/10/2019) di UGM.

Kesetaraan kesehatan melibatkan upaya bersama dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesehatan bagi semua orang dan mengurangi ketidakadilan kesehatan. Kesetaraan kesehatan harus dicapai oleh setiap negara. Meskipun demikian, setiap negara masih menghadapi berbagai tantangan terkait akses pelayanan kesehatan dan proteksi finansial. Webinar kali ini membahas tantangan mewujudkan kesetaraan kesehatan di Thailand, Afrika Selatan, dan Indonesia. Kesetaraan kesehatan di Thailand menunjukkan bahwa Thailand memulai proteksi jaminan sosial pada 1970 untuk rakyat miskin, pegawai pemerintah, dan sektor formal dengan tantangan adverse selection pembiayaan, cakupan yang rendah dari sektor informal. Hal tersebut bukan hanya menjadi tantangan teknis, melainkan juga sangat politis. Pada 2002, Thailand menerapkan universal health coverage (UHC) yang terkenal dengan program asuransi kesehatan “30 Baht” dengan cakupan 92.4% dari total penduduk. Akhirnya pada 2008, cakupan UHC di negara tersebut mencapai 99%.

Pencapaian tersebut tetap menghadapi tantangan seperti kesetaraan untuk akses pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan, dan proteksi terhadap resiko finansial. Tantangan lain yang dihadapi Thailand adalah non communicable diseases, rendahnya utilisasi fasilitas kesehatan bagi penduduk lanjut usia terutama menurunnya jumlah lansia yang hidup bersama anak dan dukungan untuk biaya nonmedis, terutama untuk lansia miskin di daerah pedesaan. Hal tersebut belum termasuk tantangan asuransi kesehatan untuk migran. Di sisi lain, berbicara mengenai Afrika Selatan, banyak pencapaian penting dalam status kesehatan sejak demokrasi 1994 namun dirusak oleh ketidaksetaraan dan tingkat kemiskinan tinggi untuk negara berpenghasilan menengah. Penduduk kulit hitam tetap menghadapi kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan serta ketidaksetaraan gender karena sejarah kolonial dan apartheid.

Pada 2012 dengan dikeluarkannya Rencana Pengembangan Nasional, Afrika Selatan memiliki peta jalan untuk memberantas kemiskinan absolut, mengurangi tingkat pengangguran, dan secara signifikan mengurangi ketidaksetaraan. Rencana pengembangan nasional tersebut menargetkan bahwa pada 2030 Afrika Selatan dapat mencapai tingkat harapan hidup 70 tahun, menghasilkan generasi di bawah 20 tahun yang bebas HIV, mengurangi beban penyakit (NCD, HIV/TB, kekerasan, kesehatan ibu dan anak), mencapai UHC, dan secara signifikan mengurangi social determinant penyakit dan faktor lingkungan yang merugikan. Namun saat ini, Afrika Selatan masih menghadapi tantangan pencapaian indikator kesehatan yang tidak merata antar provinsi, pendapatan rumah tangga, pendidikan, perlakuan rasis, pengangguran dan kemiskinan, minimnya faktor kepemimpinan pemerintah pada sistem kesehatan, maupun perencanaan kesehatan yang terfragmentasi.

Demikian pula kondisi di Indonesia yang ditunjukkan dengan portabilitas layanan rujukan dengan kasus jantung masih menunjukkan bahwa penduduk di wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur lebih banyak mencari fasilitas layanan jantung di kota-kota besar di Jawa. Meskipun jaminan kesehatan nasional sudah diterapkan sejak 2014, utilisasinya belum dapat dinikmati oleh semua penduduk Indonesia. Kesenjangan antara penduduk miskin dan kaya semakin lebar terutama untuk cakupan dan pembiayaan. Indonesia masih menghadapi ketimpangan distribusi rumah sakit dan tenaga spesialis ditambah dengan tantangan lain seperti kondisi geografis.

Kesetaraan kesehatan masih menjadi masalah di Thailand, Afrika Selatan, bahkan Indonesia. Tantangan mengurangi ketidaksetaraan masih memerlukan berbagai upaya, diantaranya perlu aksi seperti meningkatkan pemahaman terhadap kesetaraan kesehatan, memperkuat bukti, mengintegrasikan berbagai pandangan mengenai kesetaraan kesehatan, mengubah narasi publik, mobilisasi untuk perubahan sistemik, dan membangun kemitraan dan kepemimpinan.

Reporter: Elisabeth L (PKMK UGM)