Project Experiences E-Health

(Pengembangan Dashboard Aplikasi Sarana, Prasarana dan Alat Kesehatan (ASPAK) untuk Mendukung Program KIA

Pengembangan  Dashboard ASPAK untuk Mendukung Program KIA, ASPAK Case-Studies, dan ASPAK Quality of Data and MD4MD untuk Program KIA

RINGKASAN EKSEKUTIF

Dalam rangka mendukung upaya penurunan angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia, perlu dikembangkan beberapa indikator kesehatan untuk memantau kinerja program dalam pelaksanaan upaya kesehatan ibu dan anak. Indikator ini juga dijadikan sebagai target dalam pelaksanaan program kesehatan. Salah satu program pelayanan kesehatan yang berfokus pada penanganan kasus kegawatdaruratan obstetri neonatal yaitu pelayanan PONED. PONED dilaksanakan di Puskesmas induk di bawah pengawasan dokter dan menerima rujukan dari tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan di tingkat desa atau masyarakat yang merujuk ke rumah sakit. Beberapa komponen yang dapat mendukung pelaksanaan PONED dan proses rujukan di rumah sakit adalah ketersediaan alat kesehatan, sarana dan prasarana yang mendukung perawatan ibu dan bayi secara optimal.

Berdasarkan pentingnya sarana, prasarana dan alat kesehatan (SPA) untuk mendukung pelaksanaan program KIA dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi, maka diperlukan suatu sistem yang mendukung monitoring ketersediaan alat kesehatan. Saat ini telah dikembangkan dashboard ASPAK yang memuat ketersediaan data SPA untuk mendukung berjalannya berbagai indikator program. Salah satu program yang telah tersedia di dashboard ASPAK adalah program kesehatan ibu dan anak. Pada kegiatan proyek ini, PATH bersama Kementerian Kesehatan dan Universitas Gadjah Mada bekerja sama untuk mengembangkan dashboard yang benar-benar fokus mendukung kebutuhan pelaksanaan program KIA.

Pada Dashboard tersebut juga diusulkan mengakomodasi data MD4MD yang merupakan komponen alat kesehatan esensial yang terdiri dari 8 alat kesehatan penunjang berjalannya program kesehatan ibu dan anak. Alat-alat tersebut termasuk (manset tekanan darah, perangkat sinar-X, ultrasound berbasis aplikasi, ultrasound portable, perangkat bCPAP elektrik, set resusitasi dan masker neonatal, perangkat infus, dan perangkat pengecekan hemoglobin).

Sejalan dengan pengembangan Dashboard, juga terus dilakukan upaya peningkatan kualitas data ASPAK, sehingga dalam proyek ini juga dilaksanakan kegiatan studi kasus yang bertujuan untuk menginventasrisasi data alat dilapangan kemudian membandingkan dengan data dalam sistem ASPAK. Adanya gap pada data ASPAK dan data dilapangan dianalisis sehingga menemukan solusi untuk meningkatkan kualitas data ASPA serta pemanfaatan data ASPAK dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

TUJUAN

  1. Menyusun Dashboard ASPAK program KIA yang fokus pada indicator program penurunan AKI dan AKN yaitu program KIA Kegawatdaruratan Obstetri dan Neonatal (KIA) dengan melihat dinamika pelayanan KIA mulai dari Puskesmas-PONED-RS Kabupaten dan RS Provinsi. Fokus KIA ini juga sejalan dengan upaya Transformasi Kesehatan dari 9 Penyakit Katastropik
  2. Melakukan analisis awal data ASPAK untuk mendapatkan gambaran awal kualitas data ASPAK.
  3. Melakukan Studi Lapangan yang bertujuan untuk melakukan (a) inventarisasi data ASPAK yang dikumpulkan di tingkat “Fasilitas Kesehatan” dan membandingkannya dengan data yang ada di ASPAK, ini adalah pemeriksaan Kualitas Data di tingkat lapangan (b) Mengumpulkan data kualitatif untuk penulisan “Studi Kasus” tentang ASPAK.
  4. Melakukan analisis data 8 alat kesehatan untuk program KIA (KIA) dengan mengambil data ASPAK untuk seluruh fasilitas kesehatan yang ada di ASPAK.

HASIL DAN REKOMENDASI

Hasil :

Pengembangan Dsahboard ASPAK didasarkan pada kebutuhan yang berkaitan perizinan fasilitas kesehatan, penentuan klasifikasi fasilitas kesehatan, penilaian akreditasi, sebagai sumber data pendukung perencanaan aset dan investasi, serta pemetaan data pemenuhan standar fasilitas kesehatan, infrastruktur dan alat kesehatan. Pengembangan dashboard ASPAK Program KIA telah selesai dikembangkan, Dasboard ASPAK tersebut berisi fitur dan modul yang membantu pengguna untuk mengoperasikan data yang terdapat di dashboard (daftar modul manajemen indikator, manajemen pengguna, modul manajemen data mining).

Dasboard ASPAK memungkinkan data diekspor dalam bentuk excel yang memungkinkan analisis lebih lanjut untuk kepentingan pengambilan kebijakan strategis untuk peningkatan program KIA yang lebih baik. Pintasan Dashboard tersebut juga tersedia dari sistem ASPAK eksisting yang dapat diakses oleh pengguna di kementerian kesehatan, dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota dan seluruh  puskesma di Indonesia. Dashboard ASPAK Prohram KIA telah mengakomodasi lebih dari 20 indikator program kesehatan dalam pelayanan KIA termasuk indicator ketersedian alat esensial MD4MD yang siap dimanfaatkan untuk berjalannya monitoring program KIA, mendukung kinerja program pemantauan dari segi sarana, prasarana dan alat kesehatan dan dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan seperti Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), mulai dari untuk penilaian pemenuhan standar SPA dan pemberian perizinan fasilitas kesehatan hingga pelaksanaan akreditasi fasilitas kesehatan.

Berkaitan dengan dengan hasil case studi, rumah sakit vertikal memiliki rata-rata nilai kemiripan data inventori dan ASPAK dengan daftar alat standar yang paling tinggi jika dibandingkan dengan puskesmas maupun rumah sakit daerah dan swasta. Hasil inventarisasi data, kelengkapan data inventaris dibandingkan dengan daftar alat standar di tingkat Puskesmas dengan total 75 alat standar di Puskesmas, hanya sekitar 15% dari 20 Puskesmas yang memiliki lebih dari 80% total alat standar. hal ini dikarenakan sebagian besar peralatan dalam kondisi rusak dan Puskesmas belum mengajukan peralatan baru, serta Puskesmas Non Poned juga belum memiliki peralatan standar yang dimiliki oleh Puskesmas Ranap (PONED).

sedangkan kelengkapan peralatan di rumah sakit, dari total 78 perlengkapan standar dan sampel rumah sakit yang dikunjungi, hanya 20% rumah sakit daerah dan swasta yang mencapai kelengkapan lebih dari 80%, sedangkan untuk rumah sakit vertikal 66% rumah sakit memiliki kelengkapan peralatan mencapai lebih dari 80%.

Sedangkan kelengkapan data aspak dibandingkan dengan daftar alat standar menunjukkan kesenjangan antara data di sistem ASPAK yang diinput oleh petugas fasilitas kesehatan dengan data inventaris, di tingkat Puskesmas dan rumah sakit data di sistem ASPAK sebagian besar menunjukkan angka yang lebih rendah dibandingkan terhadap data inventarisasi di lapangan, sekaligus menunjukkan angka yang lebih rendah dari daftar alat standar yang menjadi acuan survei alat esensial KIA. Lebih dari 50% fasilitas kesehatan di tingkat Puskesmas memasukkan data di bawah 50% dari total 75 alat standar. Hal yang sama terjadi di tingkat rumah sakit, rumah sakit regional, vertikal dan swasta berada pada interval 50-60% dari total 78 peralatan standar. Temuan ini menunjukkan bagaimana kualitas data ASPAK hingga saat ini. Minimnya data pada sistem ASPAK dapat dikarenakan penginputan data di sistem yang kurang, database pada ASPAK yang masih perlu dilengkapi serta perlu adanya kesepakatan atau standar peraturan nomenklatur alat yang masuk dalam sistem, sehingga dapat memudahkan petugas melakukan input data, dan meningkatkan kualitas data terkait kesesuaian data di lapangan dan pada sistem ASPAK.

Rekomendasi :

  1. Mengingat data yang dimasukkan fasilitas kesehatan dalam aplikasi ASPAK menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan, pengambilan keputusan dan proses akreditasi. Data alat kesehatan yang dimasukkan ke dalam aplikasi ASPAK harus memiliki kualitas data yang baik yang dapat menunjukkan gambaran sebenarnya sesuai dengan kondisi alat kesehatan di fasilitas kesehatan. Karena itu, peran petugas ASPAK di dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota dalam pemantauan dan validasi data ASPAK dapat lebih ditingkatkan. Kegiatan validasi seringkali dapat dilakukan minimal setahun sekali dengan menggunakan metode inventarisasi data langsung di fasilitas kesehatan.
  2. Perlu adanya pemanfaatan data ASPAK dengan berbagai program kesehatan lainnya (mutu, KIA, dll) dengan pendekatan interoperabilitas. Meskipun Sejumlah inisiatif penggunaan dan pemrosesan data serta interoperabilitas telah dimulai, tetapi perlu diperkuat kembali dalam hal peningkatan kualitas data ASPAK serta perlunya mengembangkan nomenklatur dan standar alat kesehatan (dalam rangka transformasi kesehatan) secara terpadu. Kedepannya juga perlu pengembangan infrastruktur dan arsitektur untuk ASPAK generasi baru.
  3. Sampling di lapangan perlu dilakukan secara berkala untuk menilai kualitas data dengan beberapa pendekatan seperti kelengkapan, akurasi dan konsistensi.

Penguatan sosialisasi khususnya pada pemangku kepentingan di tingkat daerah untuk meningkatkan pengelolaan penginputan dan pemanfaatan data ASPAK yang tidak terbatas pada aspek sarana, prasarana dan alat kesehatan.

TIM

  • Anis Fuad, DEA
  • Dr. dr. Guardian Y Sanjaya, M.Hlth.Info
  • Vivi Ninda Sutriana, S.Keb, Bd, MPH
  • Rio Aditya Pratama, S.Gz
  • Fitratun Auliyah, SKM, MPH

WAKTU

 5 Jan 2022 – 31 Des 2022