Arsip:

SDG 3

Reportase Community Visit “Prioritizing Humanized Health Care” Ratchaphruek Hospital, Khon Kaen The 9th Equity Initiative 2025 Annual Forum

Sumber: Ratchaphruek Hospital, dokumen pribadi, 2025.

“Seperti apa rumah sakit impian Anda?”.  Pertanyaan tersebut yang menginspirasi sebuah rumah sakit di Provinsi Khon Kaen untuk mengembangkan “HOuSePITAL”.  Ratchaphruek Hospital didirikan pada 1994 yang menyediakan 50 TT (9,600 m2) dan seiring dengan kebutuhan pelayanan, rumah sakit ini direlokasi dan dikembangkan menjadi 200 TT (16,000 m2) pada 2018 dengan konsep “Healing Environment Hospital”.  Pada 27 Februari 2017, Ratchaphruek Hospital terdaftar di Bursa Efek Thailand untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan pendanaan untuk rumah sakit baru berkapasitas 200 TT tersebut. Saat ini, Ratchaphruek Hospital memegang pangsa pasar terbesar antar rumah sakit swasta yang ada di Provinsi Khon Kaen, meskipun pendapatannya bukanlah yang tertinggi.  read more

 Kepemimpinan Bidang Kesehatan bersama Mayor Jenderal (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S., MARS, M.H.

MMR-Yogyakarta. PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan MMR FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Forum Leadership dengan tema Kepemimpinan Bidang Kesehatan pada Kamis, 13 Februari 2025. Acara ini menghadirkan Mayor Jenderal (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S., MARS, M.H., seorang dokter sekaligus pemimpin di bidang militer, sebagai narasumber utama. Webinar ini dimoderatori oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., yang juga memiliki pengalaman luas di bidang kebijakan dan manajemen kesehatan. Webinar ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3, yaitu Good Health and Well-being (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), dengan fokus pada pencapaian cakupan kesehatan universal, akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, serta penguatan kapasitas negara dalam sistem peringatan dini dan manajemen risiko kesehatan global. Selain itu, webinar ini juga mendukung SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penguatan research an development dalam bidang kesehatan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan kolaborasi multisektor dan integrasi sistem kesehatan global dalam konteks health preparedness dan integrated health system. read more

Pelatihan Exercise is Medicine Course for Allied Health and fitness Professional

PKMK-Singapura. Pada 3 dan 4  Maret 2025 penulis berkesempatan mengikuti kursus Exercise is Medicine Singapore (EIMS) for Allied Health  and  Fitness Professional  yang di selenggarakan  RS Changi  Singapore.   Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Sports Medicine RS Changi  Singapore dengan lisensi  American  College of Sport Medicine (ACSM). Kursus ini bertujuan untuk mendorong professonal kesehatan termasuk fisioterapi untuk memberikan interfensi berupa peresepan exercise (exercise prescription) sebagai bagian dari pengobatan penyakit dalam praktik klinis. read more

Pertemuan Tahunan Departemen KMK dan PKMK: Mendorong Sinergi, Mengawal Transformasi

Pertemuan tahunan Departemen KMK dan PKMK tahun 2025 khususnya penting untuk mengidentifikasi bagaimana Departemen KMK dan PKMK dapat lebih sistematis lagi mencari peluang-peluang sinergi khususnya secara internal di FKKMK, dan selanjutnya dengan fakultas lain di UGM, sesuai dengan tema FK-KMK “Mendorong sinergi, mengawal transformasi”, karena dibutuhkan keahlian transdisiplin untuk dapat mendukung pemerintah melaksanakan transformasi Kesehatan. Oleh karena itu, pertemuan tahunan kali ini bukan hanya dilakukan untuk mengkaji isu-isu strategis kebijakan dan manajemen Kesehatan, positioning vis-à-vis para pemangku kepentingan dan baik di tingkat daerah, nasional mau pun global, namun juga identifikasi peluang-peluang sinergi sumber daya antara Departemen KMK dan PKMK dengan unit kerja lain di FK-KMK. Selain itu, diharapkan dari pertemuan ini dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat kontribusi akademik dan praktis dalam pengembangan kebijakan kesehatan serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. read more

Laporan Penelitian Analisis Implementasi Pelayanan Kesehatan untuk Penyandang Disabilitas (Fisik dan Sensorik) dalam Mencapai Universal Health Coverage (UHC)

Laporan Penelitian ini merupakan hasil penelitian “Analisis Implementasi Pelayanan Kesehatan untuk Penyandang Disabilitas (Fisik dan Sensorik) dalam Mencapai Universal Health Coverage (UHC)” yang telah disusun dan dicetak oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada, bekerja sama dengan SIGAB dan Pusat Rehabilitasi YAKKUM, dengan dukungan dari Kemitraan Australia – Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif (INKLUSI).

Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi akses dan pemanfaatan layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas, serta mendorong perbaikan sistem pelayanan kesehatan yang lebih inklusif di Indonesia. read more

Reportase Prince Mahidol Award Conference (PMAC) 2025

“Harnessing Technologies in an Age of AI to Build a Healthier World”

pmca 4

28 Januari-2 Februari 2025

PKMK-Bangkok. Prince Mahidol Award Conference merupakan agenda yang diselenggarakan khusus untuk memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh di bidang klinis/medis dan kesehatan masyarakat yang memberi kontribusi terbesar dalam kemajuan bidang medis dan kesehatan masyarakat. Sejak diselenggarakan 19 tahun lalu, penghargaan telah diberikan kepada 32 ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, dan 6 diantaranya bahkan merupakan penerima Nobel. Tahun ini penghargaan diberikan kepada: read more

Pertemuan Tahunan Departemen KMK dan PKMK: Mendorong Sinergi, Mengawal Transformasi

Pertemuan tahunan Departemen KMK dan PKMK tahun 2025 khususnya penting untuk mengidentifikasi bagaimana Departemen KMK dan PKMK dapat lebih sistematis lagi mencari peluang-peluang sinergi khususnya secara internal di FKKMK, dan selanjutnya dengan fakultas lain di UGM, sesuai dengan tema FK-KMK “Mendorong sinergi, mengawal transformasi”, karena dibutuhkan keahlian transdisiplin untuk dapat mendukung pemerintah melaksanakan transformasi Kesehatan. Oleh karena itu, pertemuan tahunan kali ini bukan hanya dilakukan untuk mengkaji isu-isu strategis kebijakan dan manajemen Kesehatan, positioning vis-à-vis para pemangku kepentingan dan baik di tingkat daerah, nasional mau pun global, namun juga identifikasi peluang-peluang sinergi sumber daya antara Departemen KMK dan PKMK dengan unit kerja lain di FK-KMK. Selain itu, diharapkan dari pertemuan ini dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat kontribusi akademik dan praktis dalam pengembangan kebijakan kesehatan serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. read more

Reportase Reportase Webinar Sejarah Kebijakan Pendidikan Dokter Umum dan Dokter Spesialis: Apakah Terjadi “History in the Making” Karena Adanya UU Kesehatan 2023

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerjasama dengan Departemen Sejarah FIB UGM menyelenggarakan Seri Webinar Sejarah Kebijakan Kesehatan pada Jum’at (14/2/2025) dengan tema =&0=&=&1=&=&2=&dalam Annual Scientific Meeting FK-KMK UGM. Acara ini membahas transformasi kebijakan pendidikan kedokteran dari era kolonial hingga pasca Undang-Undang Kesehatan 2023. 

Kegiatan dibuka dengan Pengantar “Perspektif Sejarah dalam Kebijakan Pendidikan Kedokteran” yang disampaikan oleh Kepala Departemen Sejarah FIB UGM, Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil. Wahid mempertegas pentingnya sejarah dalam kebijakan pendidikan kedokteran, merujuk pada kajian luas kesehatan sejak abad ke-19 dan telah berkembang menjadi disiplin multi dan transdisiplin di negara maju. Meskipun relatif baru di Indonesia, bidang sejarah kesehatan ini menjanjikan dengan historiografi yang berkembang dan telah masuk kurikulum Ilmu Sejarah. Tantangannya adalah integrasi ke kurikulum pendidikan kesehatan dan kurangnya dialog antar ilmu kesehatan dan humaniora. Hal ini yang mendasari kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Departemen Sejarah FIB UGM untuk bekerja sama dalam penelitian, pendidikan, dan penerbitan guna mengembangkan sejarah kesehatan di Indonesia. 

Materi  VIDEO

Sesi pertama menghadirkan Baha’Uddin, S.S., M.Hum., yang membahas evolusi pendidikan dokter umum, mulai dari Sekolah Dokter Jawa (1849) hingga reformasi kurikulum modern, termasuk kerja sama dengan University of California, San Francisco pada 1954 dan pengenalan KIPDI I dan II (1982 & 1992). Setelah reformasi, diberlakukannya UU Nomor 29 tentang Praktik Kedokteran yang memperkenalkan regulasi terkait kompetensi dokter serta izin prakteknya. Dilanjutkan dengan hadirnya UU Kesehatan 2023 yang membawa perubahan dalam regulasi pendidikan dokter, termasuk dokter spesialis. Adanya sistem pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (Hospital-Based Education) yang memungkinkan rumah sakit utama menyelenggarakan pendidikan spesialis secara lebih mandiri. Selain itu, Perubahan dalam struktur Kolegium dan Konsil Kedokteran yang tidak lagi sepenuhnya di bawah organisasi profesi.

Materi  VIDEO

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., membahas perubahan dalam pendidikan residen melalui UU Kesehatan 2023 dan PP Nomor 28 Tahun 2024. Reformasi ini mengubah sistem dari berbasis universitas ke hospital-based education, meningkatkan standar dan distribusi dokter spesialis. Regulasi baru juga mengakui residen sebagai pekerja dengan hak dan kewajiban yang lebih jelas serta mengubah kolegium menjadi lembaga independen. Namun perlu diingat bahwa UU Kesehatan 2023 baru saja dijalankan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat dipastikan. Keberhasilan implementasi UU ini akan menentukan apakah perubahan-perubahan ini akan dikenang sebagai bagian penting dari sejarah pendidikan residen di Indonesia.

Webinar ini menyoroti evolusi pendidikan dokter umum dan spesialis serta tantangan dan peluang ke depan. Reformasi kebijakan diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan nasional.

Materi  VIDEO

Reporter: 

  • Nila Munana, SHG. MHPM
  • Ijtihadun Nisa, SKM., MPH. 
  • Aulia Putri Hijriyah, S.Sej.,
  • Galen Sousan Amory, S. Sej.,

Tag: SDG 17,Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Reportase : Webinar Review Kebijakan Tuberkulosis Tahun 2024 Berbasis Transformasi Sistem Kesehatan dan Outlook 2025

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM mengadakan webinar “Review Kebijakan Tuberkulosis Tahun 2024 Berbasis Transformasi Sistem Kesehatan dan Outlook 2025” dalam rangka Annual Scientific Meeting 2025 . Acara ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting serta luring di Gedung Litbang FK-KMK UGM. Webinar ini dihadiri oleh akademisi, praktisi kesehatan, serta pemangku kepentingan serta berbagai instansi yang berfokus pada kebijakan dan penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia. Selaras dengan pilar ketiga SDGs yang berfokus pada menjamin kesehatan dan kesejahteraan bagi semua individu di semua usia, webinar ini digelar untuk membahas  implikasi kebijakan-kebijakan  terkait penanganan Tuberkulosis (TB) di Indonesia  yang diharapkan dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat secara optimal.


Webinar dibuka oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., Guru Besar FK-KMK Universitas Gadjah Mada. Prof Laksono menjelaskan pentingnya inovasi penggunaan data sebagai basis dalam pengambilan kebijakan penanganan tuberkulosis yang tepat. Prof Laksono juga menekankan kebijakan yang dilaksanakan seharusnya dapat efektif dalam mengentaskan masalah tuberkulosis (TB). Kebijakan penanganan tuberkulosis memerlukan adanya transdisiplin dan melibatkan banyak partisipasi stakeholder untuk dapat mendefinisikan dan mencari solusi dari semua sisi. Dalam hal ini, Dashboard Sistem Kesehatan (DaSK) hadir sebagai rumah dimana analisis kebijakan TB dari berbagai level baik pusat, provinsi, dan daerah dapat diakses dan di analisis secara lanjut dan menghasilkan data komprehensif sehingga proses pengambilan kebijakan pengentasan TB dapat lebih efisien dan efektif.

Pada sesi materi yang disampaikan oleh Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua dijelaskan bahwa kondisi TB di Indonesia belum bisa disebut membaik. Masih banyak kasus yang belum dilaporkan terutama TB pada anak, dan masih ada 13% pasien yang belum berhasil menyelesaikan terapi atau mengalami kegagalan pengobatan. Bahkan kasus TB masih terus mengalami peningkatan hanya dua provinsi yang berhasil mencapai target tatalaksana TB. Kondisi ini juga dibarengi dengan tantangan seperti jumlah dokter paru yang terbatas dan distribusi dokter yang tidak merata. Oleh karena itu, perlu adanya solusi strategis dalam pembuatan kebijakan untuk dapat mengentaskan TB dan mencapai target end TB Indonesia pada 2030.

“Kita perlu sebuah kejelasan mengenai data sebagai sebuah knowledge untuk pengambilan kebijakan” tutur dr. Hanevi. Platform DaSK diharapkan dapat membantu dalam menganalisis data kasus TB di berbagai wilayah agar menjadi informasi untuk strategi inovatif menggunakan prinsip transformasi kesehatan. Berdasarkan data ini, pengambilan kebijakan dapat direplikasi dari strategi yang digunakan pemerintah pusat bisa ditiru dan dimodifikasi oleh pemerintah daerah sehingga proses pengentasan TB bisa dilakukan dengan efisien. Sampai saat ini data yang baru terkumpul dalam DaSK baru ada di level nasional, harapannya seiring berjalannya waktu data yang dikumpulkan melalui DaSK bisa menjangkau data TB dari setiap daerah.

Pada sesi pembahas,, Dr. Tiffany Tiara Pakasi-Ketua Tim Kerja TB, Direktorat P2PM, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI mengamini bahwa penting adanya transformasi data dalam upaya pengentasan TB di Indonesia. Sejauh ini, Kementerian Kesehatan memiliki Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) sebagai platform untuk data TB yang bisa diakses secara langsung. Selain itu ada Lapor TB website yang dapat digunakan sebagai forum untuk menyampaikan informasi seputar TB. Kemudian, terdapat “The Policy Tracker” sebuah wadah untuk dapat mencari kebijakan baik level pusat maupun daerah. Meskipun sudah terdapat banyak sistem informasi TB, tantangan pencegahan TB masih dirasa cukup besar dengan pemerintah sendiri yang mengatakan adanya satu layanan TB di setiap kabupaten/kota. Sejauh ini masih terdapat sekitar 140 kabupaten/kota yang belum terdapat layanan TB. Kaitannya dengan DaSK, dr. Tiara memaparkan bahwa DaSK dapat membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan berbasis data serta mengidentifikasi strategi akselerasi program TB secara lebih efektif.

Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K) selaku Ketua Poka Infeksi PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) read more

Reportase Peran Kepemimpinan SpOG: Kunci Menekan Angka Kematian Ibu

PKMK-Yogyakarta 23 Januari 2025. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bekerja sama dengan Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI), menyelenggarakan webinar dengan judul “Peran Kepemimpinan SpOG: Kunci Menekan Angka Kematian Ibu”. Narasumber dan pembahas dalam kegiatan ini berasal dari berbagai instansi. Narasumber adalah Dr. dr. Yessi Rahmawati, Sp.OG., M.H. selaku direktur RSUD Waluyo Jati Probolinggo, Dr.dr.I Wayan Agung Indrawan,Sp.OG(K), MMRS selaku Kepala Bidang Pelayanan Medik RSU Saiful Anwar Malang, dan drg. Muhammad Zamroni selaku Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kota Malang. Sedangkan pembahas adalah Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD selaku guru besar PKMK FK-KMK UGM. Pembahas kedua adalah dr. Muhammad Ardian C.L., Sp.OG (K), M.Kes dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Plt. Wadir Yanmed RS Unair. Kegiatan ini dipandu oleh Dr. dr. Prita Muliarini, Sp.OG, Subsp.Obginsos., M.H., FISQua, CMC selaku moderator. Sebelum pemaparan inti oleh para narasumber, kegiatan diawali dengan pengantar dari Prof Laksono.

Dr. dr. Yessi Rahmawati, Sp.OG., M.H. membahas pentingnya peran kepemimpinan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Meskipun berbagai kebijakan dan program telah diterapkan, AKI masih tinggi, terutama di daerah terpencil, akibat keterbatasan akses layanan kesehatan, fasilitas medis, serta kesadaran masyarakat. Solusi yang ditawarkan mencakup peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, edukasi reproduksi, pelatihan tenaga medis, penggunaan teknologi digital untuk mendukung deteksi dini, dan sistem rujukan yang efektif. Dengan kolaborasi tenaga medis, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan target penurunan AKI dapat tercapai demi kesehatan ibu dan bayi.

Materi Video 

Dr. dr. I Wayan Agung Indrawan,Sp.OG(K), MMRS memaparkan dengan mengintegrasikan pendekatan digital seperti aplikasi rujukan dan inovasi alat medis seperti STIPUTS BRA, efektivitas pelayanan maternal meningkat secara signifikan. Tantangan seperti akses layanan, resistensi terhadap perubahan, dan kurangnya edukasi masyarakat diatasi melalui kolaborasi lintas sektor, pelatihan tenaga medis, dan penguatan sistem rujukan. Kepemimpinan SpOG yang efektif dan kolaboratif terbukti menjadi kunci penting dalam menurunkan AKI dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu serta bayi di Indonesia.

Materi Video 

drg. Muhammad Zamroni menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menurunkan AKI. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Malang seperti mengadakan loka karya dan audit maternal perinatal yang mengundang seluruh puskesmas, rumah sakit, klinik, dan TPMB.  Kemudian dilakukan pembahasan untuk mengetahui penyebab kematian ibu dan bayi serta bagaimana cara melakukan pencegahan dan tatalaksananya sebagai bahan pembelajaran agar tidak terjadi kasus serupa. Selain itu juga diadakan kolaborasi dengan gerakan peduli ibu dan anak sehat (GELIAT) UNAIR- UNICEF. Dinas kesehatan juga melakukan refreshing Materi Tatalaksana Gawat Darurat di Bidang Obstetri dan Ginekologi kepada para Dokter dan Bidan di Seluruh Puskesmas Kota Malang, sosialisasi layak hamil kepada bidan, kader, lintas sektor dan pemuka agama, dan workshop peningkatan pelayanan CTU dan AMPSR. Upaya ini dilakukan untuk menurunkan kematian ibu di kota Malang.

Materi Video 

dr. Muhammad Ardian C.L., Sp.OG (K), M.Kes menyampaikan bahwa peran kepemimpinan klinis dan meta leadership dalam meningkatkan kualitas pelayanan maternal semakin mendapat perhatian. Saat ini, tuntutan agar para klinisi berperan sebagai pemimpin dan manajer terus meningkat di seluruh dunia. Hal ini mendorong pengembangan tema kepemimpinan klinis yang didukung oleh agenda kebijakan, seperti keselamatan pasien dan peningkatan mutu layanan kesehatan. Dalam konteks kepemimpinan klinis, pendidik di sekolah kedokteran memegang peran penting dalam mengasah potensi kepemimpinan para mahasiswa. Tugas pendidik tidak hanya terbatas pada mengajar dan praktik klinis, tetapi juga mencakup memberikan teladan sebagai pemimpin yang kompeten.

Video 

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD menyampaikan pentingnya peran kepemimpinan SpOG sebagai pemimpin teknis untuk upaya penurunan kematian ibu. Untuk mendukung peran SpOG tersebut, diperlukan suatu kebijakan berbasis bukti dengan menggunakan data. Saat ini, PKMK FK-KMK UGM sedang mengembangkan suatu inovasi analisis kebijakan berbasis data melalui Dashboard Sistem Kesehatan (DaSK). Melalui DaSK, pengguna dapat mengakses data terkini analisis kebijakan berbasis bukti, serta visualisasi yang intuitif untuk membantu memahami situasi kesehatan secara komprehensif di level pusat, provinsi, sampai kabupaten.

Materi Video 

Webinar ini ditutup dengan take home message dari Dr. dr. R. Soerjo Hadijono, Sp. OG, Subsp. Obsginsos selaku Ketua HOGSI yang menekankan pentingnya kepemimpinan SpOG dalam upaya preventif dan promotive dapat memberikan dampak yang bermakna dalam menurunkan kematian ibu karena pemimpin memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai elemen yang diperlukan. Dengan kepemimpinan yang kuat dan terkoordinasi, berbagai tantangan yang menghambat penurunan AKI dapat diatasi secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Materi Video

Reporter:  Monita Destiwi (Divisi Public Health)

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan