Kamis, 25 September 2025
Sebuah inisiatif baru untuk mempromosikan Guci sebagai destinasi medical wellness dan retret akademik diperkenalkan dalam sebuah webinar “Weekdays Wellness & Academic Retreat: Menemukan Energi Baru di Guci.” Acara ini merupakan kolaborasi antara RS dr. Soesilo Slawi, PKMK-FKKMK UGM, dan Pemerintah Kabupaten Tegal, dengan dukungan penuh dari berbagai pihak termasuk pelaku industri pariwisata.

Dalam pemaparannya, Profesor Laksono menekankan pentingnya hari kerja (weekdays) sebagai momentum terbaik untuk mengembangkan kegiatan wellness di Guci. Alasannya jelas yaitu suasana lebih sepi, harga lebih terjangkau, dan lingkungan yang lebih kondusif dibanding akhir pekan. Dengan kondisi tersebut, Guci dinilai ideal untuk retret akademik, yakni kegiatan yang memberi ruang bagi para dosen dan akademisi untuk keluar dari rutinitas, meningkatkan produktivitas, serta membangun kolaborasi dalam suasana tenang.
Konsep retret akademik lazim dilakukan di luar negeri, dapat diperkenalkan sebagai budaya baru yang potensial berkembang di Indonesia. Seperti Bellagio, Italia, menawarkan suasana tenang, indah, dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Lingkungan ini menghadirkan atmosfer yang kondusif bagi kegiatan akademik yang membutuhkan konsentrasi sekaligus relaksasi. Salah satu ikon penting di Bellagio adalah Rockefeller Foundation Bellagio Center, sebuah institusi yang sejak lama menyediakan ruang bagi akademisi, penulis, peneliti, seniman, hingga pembuat kebijakan untuk berkumpul, berdialog, dan mengembangkan ide-ide inovatif. Di Indonesia, dengan 250.000 dosen tersebar di seluruh negeri, peluang untuk menjadikan Guci sebagai pusat retret akademik akan sangat terbuka lebar.

Sejumlah pemangku kepentingan turut menyampaikan pandangan. Heri Bastian, Manager Angkutan Penumpang Daop 5 Purwokerto, PT KAI Indonesia, menyatakan siap mendukung dengan memaksimalkan akses transportasi menuju Slawi. Elizabeth Ratih Dewi, Ketua BPC PHRI Kabupaten Tegal menekankan perlunya peningkatan kualitas manajemen hotel dan SDM pariwisata agar mampu melayani wisatawan wellness. Sementara itu, Rinto Kuswoyo, agen perjalanan Pelangi Wisata Tour, mengusulkan, adanya penerapan jam malam di kawasan untuk menjaga ketenangan peserta hingga penyediaan fasilitas spa medik dan integrasi dengan UMKM lokal. Profesor Laksono menambahkan pentingnya promosi ekstensif dan peningkatan kualitas makanan hotel dengan menu sehat berbasis hasil bumi lokal.
Webinar juga mengulas roadmap pengembangan Guci sebagai destinasi medical wellness. Potensi besar terletak pada sumber air panas dan hutan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tantangan utama adalah rendahnya okupansi hotel di hari kerja, yang diharapkan dapat diatasi melalui program wellness dan retret akademik. Pemerintah Kabupaten Tegal menegaskan komitmen mereka untuk mendukung penuh inisiatif ini.
Kawasan Guci tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi dapat berfungsi sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin. Contoh di Bellagio dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan retreat akademik di Indonesia, khususnya dalam menjadikan destinasi wisata alam sebagai pusat kebugaran dan produktivitas. Keindahan Guci dapat dinikmati pada peluncuran resmi Guci Medical Wellness Tourism yang akan digelar pada 7–8 Oktober 2025 mendatang. Acara tersebut diharapkan dapat menempatkan Guci sebagai destinasi utama retret kesehatan dan kebugaran di Indonesia. (Elisabeth Listyani)