Workshop Dari Data ke Aksi: Strategi Praktis Pencegahan Penipuan di Fasilitas Kesehatan

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan  workshop  “Dari Data ke Aksi: Strategi Praktis Pencegahan Penipuan di Fasilitas Kesehatan” sebagai upaya meningkatkan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendeteksi dan mencegah penipuan melalui pemanfaatan data pelayanan kesehatan.  Workshop  ini menghadirkan drg. Puti Aulia Rahma, MPH, CFE (konsultan dan peneliti bidang anti  -fraud  kesehatan PKMK FK-KMK UGM) dan Indra Komala, RN, MPH (peneliti PKMK FK-KMK UGM), yang memberikan pembelajaran mulai dari konsep hingga praktik analisis data untuk pencegahan  penipuan  . Kegiatan dilaksanakan pada Kamis (25/6/2026).

Kegiatan yang dibuka oleh Indra Komala yang menyampaikan bahwa  kondisi  dalam pelayanan kesehatan merupakan tantangan yang tidak hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga mempengaruhi kelancaran pelayanan serta berkelanjutannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Oleh karena itu, fasilitas kesehatan perlu mampu memanfaatkan data pelayanan sebagai dasar untuk mengenali pola yang tidak wajar, melakukan deteksi dini, serta menyusun langkah pencegahan yang lebih sistematis.

Pada sesi pertama, drg. Puti memaparkan berbagai fenomena  penipuan  yang masih sering ditemui dalam penyelenggaraan JKN, mulai dari ketidaksesuaian dokumentasi, manipulasi klaim, hingga bentuk-bentuk penyimpangan lainnya yang dapat merugikan sistem pembiayaan kesehatan. Narasumber menjelaskan bahwa pencegahan  penipuan  tidak cukup dilakukan melalui pengawasan semata, tetapi memerlukan tata kelola organisasi yang baik, integritas budaya, serta kemampuan menganalisis data sebagai dasar pengambilan keputusan. Peserta juga diajak memahami bagaimana hasil analisis data dapat digunakan untuk mengidentifikasi  tanda-tanda bahaya  sehingga potensi penipuan dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar.

Materi kemudian dilanjutkan oleh Indra yang fokus pada praktis pengelolaan data. Peserta memperoleh pendampingan mulai dari proses menyiapkan data, melakukan  pembersihan data  , memvalidasi kelengkapan data, hingga mengolah data menggunakan Microsoft Excel. Melalui simulasi dan studi kasus, peserta menyebarkan penggunaan fitur filter, menyebarkan duplikat data, penyusunan  tabel pivot  , serta analisis pola klaim untuk menemukan anomali yang berpotensi mengarah pada penipuan. Pendekatan ini memberikan gambaran bahwa data pelayanan yang selama ini hanya digunakan sebagai kebutuhan administratif sebenarnya dapat menjadi instrumen penting dalam pengawasan dan pengendalian risiko  penipuan.

Pada sesi terakhir, drg. Puti membahas strategi audit terhadap dugaan  penipuan.  Narasumber menjelaskan bahwa audit investigatif harus dilakukan secara objektif dan berdasarkan bukti, mulai dari penentuan fokus audit, pengumpulan data pendukung, kesesuaian analisis dengan standar pelayanan, hingga keputusan rekomendasi tindak lanjut. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu fasilitas kesehatan memberikan klarifikasi atas dugaan  penipuan  sekaligus menjadi sarana untuk memperbaiki sistem pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang.

Workshop  berlangsung secara interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Pada sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai teknik memilih indikator analisis, proses  pembersihan data  , interpretasi hasil analisis klaim, penyusunan audit investigatif, hingga langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika fasilitas kesehatan menerima dugaan  penipuan  atau permintaan pengembalian klaim dari BPJS Kesehatan. Kedua narasumber memberikan penjelasan berdasarkan konsep dan pengalaman pendampingan di berbagai fasilitas kesehatan sehingga peserta memperoleh gambaran yang lebih aplikatif mengenai penerapan sistem pencegahan  kecelakaan  di lapangan.

Melalui  workshop  ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep  penipuan  dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga mendapatkan keterampilan praktis dalam mengolah dan menganalisis data sebagai dasar deteksi dini serta pengambilan keputusan. Diharapkan kemampuan tersebut dapat mendukung terwujudnya sistem pencegahan  penipuan  yang lebih proaktif, transparan, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan saling pelayanan di fasilitas kesehatan.

Reporter:
Helen Anggraini Budiono

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*