Pos oleh :

hpm.fk

Reportase Webinar Tematik Sejarah Kebijakan Kesehatan Seri 6

“Perkembangan Kebijakan Komponen-Komponen Sistem Kesehatan di Indonesia, Dari Reformasi Hingga Pasca COVID-19, 1999-2023”

PKMK-Yogyakarta.  Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerjasama dengan Departemen Sejarah FIB UGM menyelenggarakan Webinar Seri Tematik: Sejarah Kebijakan Kesehatan “Perkembangan Transformasi Kebijakan Kesehatan di Indonesia, Dari Reformasi Hingga Pasca COVID-19, 1999-2023” pada September hingga Desember mendatang. Kali ini webinar mengangkat tema “Informatika Kesehatan” yang diselenggarakan pada Kamis (18/12/2025). Webinar ini membahas perjalanan historis dan transformasi manajemen bencana kesehatan di Indonesia, dari pendekatan respons darurat menuju sistem kesiapsiagaan dan ketahanan kesehatan yang lebih terstruktur, partisipatif, dan berkelanjutan, dengan refleksi atas pengalaman bencana besar hingga konteks tantangan kebencanaan mutakhir. read more

Reportase Webinar Menjamin Ketersediaan Obat Kesehatan Jiwa di Indonesia: Tantangan dan Strategi Pemenuhan di Layanan Kesehatan

Reportase Webinar

Menjamin Ketersediaan Obat Kesehatan Jiwa di Indonesia: Tantangan dan Strategi Pemenuhan di Layanan Kesehatan

Isu kesehatan jiwa kembali menjadi sorotan dalam Webinar Kesehatan Jiwa bertajuk “Menjamin Ketersediaan Obat Kesehatan Jiwa di Indonesia: Tantangan dan Strategi Pemenuhan di Layanan Kesehatan” yang diselenggarakan pada Rabu (17/12/2025). Berbagai temuan global dan nasional menunjukkan bahwa negara berpendapatan menengah, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan dalam perlindungan finansial, distribusi obat esensial, serta kesinambungan terapi bagi pasien. Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, klinisi, dan organisasi masyarakat dihimpun untuk memperoleh gambaran situasi terkini, mengidentifikasi tantangan kebijakan dan implementasi di lapangan, serta mendiskusikan strategi kolaboratif guna memperkuat sistem penyediaan obat kesehatan jiwa yang berkelanjutan dan berkeadilan. Webinar ini dipandu oleh Tri Muhartini, S.IP, MPA dan menghadirkan narasumber Relmbuss Fanda, MPH, Ph.D (Cand) (PKMK FK-KMK UGM), Tri Kusumaeni, S.Si., M.Pharm., Apt. (Direktorat Pengelolaan dan Pelayanan Farmasi Kementerian Kesehatan), dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K) (RSUD Wonosari Gunungkidul), dan dr. Imanuel Eka Tantaputra (Yayasan Terang Kasih Anugerah). read more

Kaleidoskop 2025 Transformasi Kesehatan: Melangkah diantara Angan dan Kenyataan

Latar Belakang

Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 tahun 2023, serta aturan turunannya berupa PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan yang diharapkan menjadi dasar bagi semua stakeholder kesehatan untuk bergerak bersama dalam upaya menyehatkan bangsa Indonesia. Kerangka regulasi ini mendukung inisiasi Transformasi Sistem Kesehatan untuk menyikapi tantangan sistem kesehatan pasca pandemi and isu-isu kesehatan global seraya mempertimbangkan beberapa kebutuhan nasional terkait perubahan pola beban penyakit, kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang setara dan berkualitas. Sistem kesehatan Indonesia bertujuan untuk mencapai tingkat status kesehatan sesuai prioritas nasional dan komitmen global sesuai target-target SDGs. read more

Reportase Focus Group Discussion Rencana Kontingensi Subklaster Kesehatan Lingkungan Provinsi DIY

PKMK-Yogyakarta. Konsultan dan peneliti divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion Rencana Kontingensi Subklaster Kesehatan Lingkungan Provinsi DIY yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DIY pada Senin (15/12/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk berdiskusi dan melengkapi Rencana Kontingensi Sub Klaster Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi DIY. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan serta perwakilan dari dinas, badan terkait, serta organisasi profesi di Provinsi DIY. read more

Diskusi Publik Penguatan Isu Kesehatan Jiwa dalam RPJMD

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM) menyelenggarakan Diskusi Publik bertajuk Penguatan Isu Kesehatan Jiwa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) secara daring pada 2 Juli 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pengarusutamaan isu kesehatan jiwa dalam perencanaan pembangunan daerah melalui peningkatan pemahaman, dialog multisektor, dan penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, agar isu kesehatan jiwa dapat terintegrasi secara strategis dalam dokumen RPJMD dan kebijakan daerah lainnya.

Sebagai pengantar Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD menyampaikan bahwa saat ini pemerintah daerah tengah mempersiapkan RPJMD yang ditargetkan selesai pada Agustus 2025. Pada sesi webinar sebelumnya, diperoleh kesimpulan bahwa kesehatan jiwa merupakan isu yang penting. Namun sayangnya, di masa lalu komponen kesehatan di RPJMD hanya seperti formalitas, karena tidak adanya analisis kesehatan lintas sektoral yang dilakukan secara mendalam. Selanjutnya, transformasi layanan kesehatan sangat perlu karena masih lebih 80% orang dengan masalah kesehatan jiwa tidak mendapatkan pertolongan terutama di negara berpenghasilan menengah dan rendah, pembiayaan upaya keswa juga dinilai masih kurang. Selain itu, proses untuk penyembuhan memerlukan waktu yang relatif lama. Harapannya upaya pelayanan kesehatan jiwa bisa mencakup seluruh aspek transformasi kesehatan yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan. setelah sesi ini, harapannya isu kesehatan jiwa diharapkan bisa masuk ke dalam RPJMD atau dapat diperjuangkan untuk masuk pada renstra.

Selanjutnya dr. Imran Pambudi, MPHM selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa kesehatan jiwa sebagai isu strategis dengan 1,4% penduduk usia lebih dari 15 tahun mengalami depresi namun hampir 88% tidak mengakses pengobatan dengan berbagai alasan mulai dari akses hingga stigma. Spektrum kesehatan jiwa cukup lebar, prosesnya dapat dimulai dari kehamilan hingga sepanjangan usia manusia dengan berbagai determinannya yang membutuhkan upaya dari lintas stakeholder. Imran juga menyampaikan framework upaya kesehatan jiwa dimulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. saat ini baru 47% Puskesmas yang memberikan layanan kesehatan jiwa (petugas terlatih dan ketersediaan obatnya ada) dengan gap antar wilayahnya yang sangat lebar. Baru 43,19% rumah sakit yang mampu rehabilitasi medis NAPZA. Imran juga menyampaikan perlunya kolaborasi dalam upaya pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia. Terlebih ada beberapa tantangan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan upaya kesehatan jiwa di tingkat daerah.

Ni Made Dwipanti Indrayanti S.T., M.T. selaku Kepala Bapperida DIY di awal menyampaikan mengenai gambaran umum kondisi pembangunan kesehatan jiwa di DIY. DIY merupakan provinsi dengan jumlah skizofrenia tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2024, cakupan pelayanan ODGJ berat mencapai 95,81%. Terdapat tren peningkatan kasus bunuh diri di DIY dari 2021 hingga 2024. Esensi dari kesehatan jiwa telah masuk pada misi RPJP DIY 2025-2045. Kesehatan jiwa belum tertuang secara eksplisit dalam RPJMD 2022-2027, namun termasuk dalam konteks inklusif bagi seluruh masyarakat. Harapannya melalui kegiatan diskusi dapat menjadi pemantik untuk memasukkan isu kesehatan jiwa sebagai bagian dari RPJMD 2027. Saat ini sudah ada upaya kolaborasi penanganan kesehatan jiwa mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Turut hadir pula Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog selaku Ketua Kolegium Psikologi Klinis yang menyampaikan tanggapannya mengenai ketersediaan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Disampaikan juga mengenai upaya yang dilakukan untuk memastikan ketersediaan tenaga psikolog klinis di fasilitas kesehatan. Harapannya dari pemerintah daerah dapat memfasilitasi serta mendukung ketersediaan pelayanan upaya kesehatan jiwa di tingkat daerah.

Untuk mewujudkan upaya pelayanan kesehatan jiwa yang menyeluruh, diperlukan upaya kolaborasi dari berbagai pihak serta leading sector yang dapat menyuarakan pentingnya isu kesehatan jiwa di tingkat daerah. Pada akhirnya, apakah pemerintah daerah tahu dan mau untuk mengatasi permasalah kesehatan jiwa di tingkat daerah?

Materi dan Rekaman Kegiatan silahkan klik DISINI

Reporter: Latifah Alifiana (Divisi Diklat PKMK UGM)

Report HOMSEA 10TH INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE HISTORY OF MEDICINE IN SOUTHEAST ASIA: Health and Medicine in the Colonial, Post-Colonial and Global Worlds

Yogyakarta-UGM. On this occasion, the History Team from PKMK FK-KMK UGM and the History Department of FIB UGM were represented by Prof. Laksono Trisnantoro, Bahauddin, and Abdul Wahid. The event was held at Soegondo Building, 7 Floor, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada (UGM), located in the Special Region of Yogyakarta, Indonesia. The Opening Ceremony was held on Tuesday (24/6/2025). HOMSEA (History of Medicine in Southeast Asia) was founded by Prof Laurence Monnais (University of Montreal) and Dr. Rethy Chhem (former Executive Director of the Cambodia Development Resource Institute (CDRI)) in 2005, with the aim of promoting research in all aspects of the history of health and medicine in Southeast Asia. HOMSEA focuses on this region for several reasons: it has had a very diverse colonial history (the British, American, French and Dutch colonial empires all played a part); both in the past and in the present, its constituent parts faced (and continue to face) similar health challenges while the responses to these are highly variable.

HOMSEA aims to reach this goal by fostering closer contact among medical historians originating from the global North and those from the region. It also aims to foster greater cooperation among scholars, students, and physicians, especially those practicing in the region, by providing a forum for the international exchange of ideas and research. HOMSEA’s main activity is organising a conference on the history of health and medicine in Southeast Asia every two years, usually in cooperation with other societies.

The 10th HOMSEA International Conference has the main theme of “Health and Medicine in The Colonial, Post Colonial and Global Worlds” with the following sub-themes: 1) Health, Medicine and Decolonization, 2) Community Health VC Medical Specialization, 3) Connections and Differences Within Southeast Asia, 4)The Anthropocene from Southeast Asia Perspective, 5) Medicine, Ethis, Politics and The Sustainable Development Goals, and 6) Climate Change and Environmental Degradation.

At the opening ceremony of the 10th HOMSEA at FIB UGM this morning, several speeches were delivered by figures involved in making this event a success. In her speech, Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, MSi, PhD, Head of the HOMSEA Local Arrangement Committee, said It is both an honor and a pleasure to welcome all participant to the 10th International Conference on the History of Medicine in Southeast Asia (HOMSEA), here in Yogyakarta, Indonesia. As Chair of this year’s conference, “I am humbled by your presence and excited for the rich exchanges we are about to embark on over the coming days. This 10th edition of HOMSEA marks an important milestone—a decade of scholarly gatherings that have brought to light the diverse and complex histories of medicine across Southeast Asia. From colonial encounters to indigenous healing, from the evolution of public health policies to the role of gender, religion, and traditional knowledge— this forum has continually deepened our understanding of medicine as a cultural, political, and scientific phenomenon. This year, we gather in Yogyakarta, a city long associated with intellectual vigor, cultural richness, and historical depth. It is also home to Gadjah Mada University (UGM)—a university deeply rooted in the post-independence aspirations of Indonesia. The Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing (FK-KMK UGM), established in 1949, stands as a testament to Indonesia’s early commitment to develop a health system grounded in national resilience and scientific progress. The history of medicine in Indonesia reflects the intersections of colonial legacies, nationalist movements, transnational exchanges, and local knowledge systems. From the early days of STOVIA in Batavia to the community-based health reforms of the 20th century, medical practice in this archipelago has always been more than a clinical pursuit—it is a mirror of societal change and cultural adaptation. At HOMSEA 2025, we hope to build on these rich narratives. We invite you to engage critically with historical sources, revisit forgotten voices, and push the boundaries of interdisciplinary research. This conference is not only about preserving the past, but also about understanding how historical perspectives can inform ethical, educational, and policy decisions in our current and future healthcare systems. I would like to extend my sincere gratitude to our academic partners, institutional supporters, and the organizing team whose dedication made this event possible. I also thank you for bringing your scholarship, curiosity, and commitment to the field.”

Prof. Hans Pols, Ph.D., FAHA, FASSA, RSN, as President of HOMSEA, said that HOMSEA event was first held in Indonesia, specifically in Solo (2012). Then it was held at the National Library in Jakarta (2018). And this year  the committee held it again in Indonesia, specifically in Yogyakarta. Yogyakarta occupies a special place with respect to the history of medicine in Indonesia. One of the first missionary hospitals on Java – the Bethesda hospital, was founded in 1901 and was the first hospital to provide health care to Indonesians. The Dr. Yap Eye Hospital was founded as a charitable initiative by the local Chinese-Indonesian community in 1919. Across the road is the Panti Rapih Catholic hospital. In 1924, the Muslim organisation Muhammadyah established a hospital too, which opened clinics and hospitals all over Eastern Java. For Indonesians, the Soeradji Tirtonegoro hospital in nearby Klaten occupies a special place. When the Dutch made Jakarta unsafe in 1946, medical education moved to this hospital, where it resumed under the guidance of Dr. Sardjito, in 1949 the founding president of Gadjah Mada University. I hope that we will have a wonderful conference in a city that has been so important in the history of medicine in Indonesia.

Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si as  Dean, Faculty of Cultural Sciences, UGM explained exploring the historical medicine dimension in SouthEast Asia. Historical medicine is not only clinical but also culturally involved social structure, culture, Politics, Science and any other aspects. use this opportunity not only to present the paper but also to build connections and collaborations between the knowledge. He expressed his gratitude for the collaborative spirit that characterizes this conference. Through such interdisciplinary and transnational dialogue, we can continue to uncover our shared history, confront controversial narratives, and build a richer and more inclusive understanding of Southeast Asia’s medical past. In closing, Prof. Setiadi urged participants to take advantage of this opportunity not only to share research but also to build relationships that transcend national borders and academic disciplines. May this conference provide intellectual benefits and strengthen our collective commitment to preserving and interpreting the diverse medical heritage of our region.

Prof. dr. Yodi Mahendradhata, MSc, PhD, FRSPH  as  Dean Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, UGM said the timeless message which was quoted from Soekarno “never forget the History” not to look back to the past but to look up to the future. Our institution was born in the early days of Indonesia’s independence day.  This conference honored our history. It is not only clinical aspects but also social political aspects. In his closing, he would like to thank the committee, speakers, and participants for their dedication to advancing the field of medical history. May this conference inspire new research, strengthen ongoing academic networks, and highlight the important role of historical inquiry in public health, medical ethics, and medical education.

Prof. dr. Ova Emilia, MMedED, SpOG(K), PhD. as chancellors UGM explained reflecting the historical foundation in South East Asia, scholarly innovation among the participants. How medical knowledge has an impact in South East Asia.  Ensuring the contribution of SouthEast Asia in the History of Medicine. She emphasized that understanding the history of medicine is not merely an academic endeavor. It is a necessary lens for interpreting the social, cultural, and political dimensions of health. Amidst public health crises and global transformations, a historical perspective provides the wisdom to contextualize current challenges and guide future policies rooted in empathy, justice, and cultural awareness. This conference is designed as a platform to encourage critical reflection, academic innovation, and collaborative exploration among participants from various disciplines. Through papers, panels, and discussions, we hope to deepen our collective understanding of how medical knowledge is produced, debated, and practiced in the context of Southeast Asia.

Furthermore, as global health becomes increasingly interconnected, there is an urgent need to ground our responses in perspectives rooted in culture and history. HOMSEA’s commitment to highlighting local narratives and regional connections is crucial in ensuring that Southeast Asian experiences contribute meaningfully to global conversations about health and medicine. As a closing remark, Prof. Ova urged participants to begin this conference with curiosity, humility, and a shared commitment to developing knowledge that respects our past and our responsibility toward the future. She hopes that the discussions held over the coming days will spark new questions, foster ongoing collaboration, and deepen appreciation for the complexity and richness of medical history in our region. Thank you, and may this conference be productive and inspiring for all. After speeches by several dignitaries, the opening ceremony of the HOMSEA International Conference continued with the striking of a gong (Gamelan Jawa) as a symbolic sign of the opening of the event.

Readmore :
https://sejarahkesehatan.net/history-of-medicine-in-southeast-asia-homsea-conference/

Reporter:

Aulia Putri Hijriyah, S.Sej.,

Daranindra A. Prameswari, S.Sej.,

Reportase Webinar Wellness-Based Diabetes Management: Integrating Acupuncture, Nutrition, and Exercise

Kamis, 26 Juni 2025

Webinar dimulai dengan keynote speech yang membahas persiapan SDM Kesehatan berkompetensi Medical Wellness untuk menjawab tantangan DM oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D, dimana pengobatan non farmakologis untuk penderita DM Tipe 2 adalah akupunktur, yang termasuk dalam pengobatan tradisional. Dalam layanan ini, perlu disiapkan strategi integrasi antara pengobatan tradisional dan modern hingga bagaimana pendanaan termasuk SDM yang perlu disiapkan. Contoh penerapan wellness yang sudah ada yaitu sudah berkembangnya wellness spa, yang saat ini sudah ada regulasinya. Meninjau dari contoh tersebut, integrasi antara pelayanan kesehatan tradisional dengan pelayanan kesehatan konvensional saat ini mengacu pada regulasi PP No. 28 Tahun 2024 Pasal 482. Berdasarkan regulasi ini, telah disinggung penetapan kebijakan sdm, serta penetapan kebijakan produk pelayanan kesehatan tradisional, hingga promosi dan potensi pelayanan kesehatan tradisional. Selain itu, dalam regulasi tersebut juga disinggung terkait Evidence Based Medicine sebagai pelayanan medis personalisasi untuk tiap pasien, dimana setiap perawatan yang akan dilakukan kepada pasien harus diperhatikan risiko yang mungkin terjadi. Terkait sumber pendanaan, pasca pandemi COVID 19 BPJS saat ini mengalami deficit, meski saat pandemi terjadi surplus karena jarangnya pasien yang datang ke RS. Hal tersebut juga tidak bisa diprediksikan untuk masa depan apakah akan terus defisit atau bisa surplus. Masalah pendanaan tersebut tentunya berpengaruh terhadap pembiayaan dari pasien untuk wellness apakah pasien bisa membayar out of pocket atau menggunakan askes komersial, dimana pembiayaan tersebut nantinya akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kualitas dari SDM untuk memberikan pelayanan wellness terbaik untuk pasien. Persiapan SDM tersebut perlu dipertimbangkan bagaimana kompetensi atau sertifikasi yang dimiliki, bagaimana persiapan kolegium untuk mewadahi SDM tersebut, hingga siapa SDM yang bertugas untuk mencari dana dan siapa yang bertugas sebagai promotor kesehatan.

Paparan berikutnya disampaikan oleh dr. Aris Wibudi, Sp. PD-KEMD, Ph.D. terkait dengan pentingnya mengenali kapasitas metabolic, dimana kapasitas metabolic seseorang terbagi menjadi kapasitas normal, obesitas sentral, sindrom metabolic hingga Diabetes Tipe 2. Kapasitas metabolik ini didasari oleh kondisi metabolik, dimana kondisi tersebut bisa berbeda tiap individu, sehingga perawatan yang akan diberikan juga harus disesuaikan untuk masing-masing (personalisasi). Hal tersebut mengacu konsep dasar bahwa asupan kalori dapat dilihat berdasarkan berat badan ideal, indeks glikemik, serta komposisi makronutrien yang sebenarnya adalah untuk orang yang sehat, bukan pasien DM, sehingga untuk pasien DM Tipe 2 dapat dilihat dari respons glikemik yang didasari oleh kemampuan kemampuan individu dalam memproses makanan. Respons glikemik tersebut dapat digambarkan dalam rumus matematis, dimana respons glikemik didapatkan dari fungsi dari asupan dibagi dari kondisi metabolik, yang direfleksikan dari kapasitas metabolik. Pada individu yang normal, puncak gula darah tertinggi adalah 1 jam sesudah makan, dimana hal tersebut disebut dengan postprandial glucose spike yang menggambarkan respons glikemik seseorang.

Akupunktur untuk Diabetes Melitus berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Koosnadi Saputra, Sp.Rad (K), dimana akupunktur dapat digambarkan menjadi 5 elemen dalam interaksi organ, yaitu organ liver menggambarkan elemen kayu, lambung dan pancreas menggambarkan elemen bumi, usus menggambarkan elemen api, usus besar menggambarkan elemen logam, dan otak menggambarkan elemen air. Jika jarum akupunktur ditusuk pada jaringan tubuh, timbul reaksi lokal dimana dorsal root ganglion akan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh melalui meridian. Terkait efektivitas terapi akupunktur untuk DM, sebelumnya telah ada penelitian terkait pengukuran kelistrikan jaringan titik akupunktur yang berkorelasi dengan fungsi organ pancreas. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa akupunktur dapat menurunkan sekresi sitokin, merangsang anti inflamasi, serta membantu regulasi sistem imun. Namun, akupunktur ini bukan terapi utama DM, hanya sebagai terapi komplementer, tapi dapat digunakan untuk komplikasi DM yang harus dikombinasikan dengan terapi lainnya. Dalam hal ini, DM Tipe 2 tidak dapat disembuhkan, namun bisa dilakukan remisi dengan pengaturan pola makan sehat dan konsisten, olah raga rutin dan teratur, serta sering puasa.

Tanjung Subrata, M.Repro., ABAARM selanjutnya menjelaskan resistance training for DM, dimana aktivitas fisik dapat mencegah DM Tipe 2 karena adanya kapasitas biogenesis mitokondira dan meningkatkan mitokondrial oxidative. Aktivitas fisik tersebut bisa dilakukan salah satunya dengan latihan cardio, aerobic, yoga, pilates. Peningkatan lean muscle mass juga dapat dilakukan karena muscle mass yang lebih besar berarti penyimpanan glukosa juga lebih besar, sehingga dapat digunakan sebagai reservoir dari gula darah. Selain itu, reprogamming metabolic juga memicu aktivasi AMPK dan sensor metabolic lainnya, yang dapat mengubah metabolic yang lebih baik dan menjadikan otot sebagai tempat menyimpan gula darah dan lemak yang efektif. Kontrol glikemik juga dapat memicu post-exercise energy expenditure yang dapat mendukung kesehatan metabolik. Namun, metabolism energi tersebut akan berbeda didasarkan pada durasi, intensitas dan tipe muscle fiber yang digunakan, dimana tipe II Muscle fibers mempunyai densitas kapiler dan lebih sensitif terhadap insulin. Dalam hal ini, training yang dilakukan bisa dengan intensitas sedang hingga tinggi, seperti lari 400 meter. Berdasarkan penelitian sebelumnya, dilakukan aerobic sebagai program prolanis dengan tambahan resistance training 15 menit sebelum gerakan aerobic.

Webinar ditutup dengan paparan terkait dengan diet pada penderita DM yang disampaikan oleh Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Akp, Sp.GK. Manajemen penderita DM meliputi edukasi dan dukungan, Medical Nutrition Therapy, aktivitas fisik, serta terapi obat. Tujuan dari terapi nutrisi untuk pasien diabetes yaitu untuk meningkatkan A1C, tekanan darah dan level kolesterol yang harus dipelihara dan ditinjau secara terus menerus. Terapi nutrisi dapat dilakukan dengan pengukuran kebutuhan energi basal, teknik broca, atau menggunakan BMI. Detail nutrisi yang dibutuhkan antara lain karbohidrat 45-60% dengan asupan maksimal sucrose maksimal 5%, protein 10-20%, lemak 20-25%, cukup vitamin dan mineral, serta natrium <1500 mg/hari. Dalam perhitungan berat badan, dapat menggunakan BB Ideal atau BB normal yang diukur dengan BMI yaitu BB dibagi dengan kuadrat dari TB. Prinsip asupan karbohidrat berdasarkan medical care diabetes menunjukkan bahwa penggunaan glycemix index (GI) dan glycemic load (GL) mempunyai manfaat untuk maintain DM, dimana makin rendah GL maka gula yang terbentuk di darah juga akan semakin sedikit. Cut off GI dikatakan baik jika <56, sedangkan untuk GL yang dianggap rendah yaitu <10. Upaya yang baik untuk menurunkan GI bisa didapatkan dari diet local, yang dinilai lebih baik dari diet mediteranian. Selain itu, juga dapat dilakukan vegan diet, dimana vegan diet ini telah terbukti dapat menurunkan angka kematian. Intermittent fasting atau puasa Senin Kamis juga disarankan untuk upaya diet, namun harus didukung dengan monitoring dan pembatasan makan. (Bestian Ovilia Andini)

Reportase Webinar Perluasan Pelayanan Cath-Lab untuk Menjalankan Amanah UUD 1945, ataukah Sebuah Proyek Mercusuar?

PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar terkait Bukti dalam Kebijakan Kesehatan pada 16 Januari 2025 (waktu Yogyakarta) atau 15 Januari 2025 (waktu Boston), dengan tema “Perluasan Pelayanan Cath-Lab untuk Menjalankan Amanah UUD 1945, ataukah Sebuah Proyek Mercusuar?” Webinar ini dihadiri oleh para akademisi, praktisi kesehatan, serta pembuat kebijakan, dan menampilkan dua pembicara ahli yang berada di lokasi berbeda, yaitu Boston dan Yogyakarta.

Pengantar Dikusi oleh Prof. Laksono Trisnantoro

Diskusi dibuka dengan pengantar dari Prof. Laksono Trisnantoro, dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM, yang melihat adanya perbedaan pendapat mengenai perluasan Cath-Lab. Di satu sisi ada pihak yang menilainya sebagai proyek kuratif mercusuar dan di sisi lain ada yang mendukung pelaksanaannya. Perbedaan ini perlu dibahas dengan evidence yang ada, risiko perluasan, dan dibahas dalam perspektif keadilan sosial sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945.

VIDEO   MATERI

Paparan Pertama dari Boston.

dr. Farizal Rizky Muharram, mahasiswa S2 Harvard Medical School memaparkan data distribusi Cath-Lab di Indonesia antara tahun 2017-2022. Dalam paparannya, ia menjelaskan terjadi tren peningkatan jumlah Cath-Lab, terutama di wilayah perkotaan besar. Namun yang terjadi adalah adanya ketimpangan distribusi Cath-Lab antara daerah maju dan daerah tertinggal dan dampak ketidakmerataan akses terhadap pemerataan pelayanan kesehatan jantung. Analisis ini menggunakan metode geospatial, dan ukuran-ukuran inequity menggunakan Rasio Gini.

VIDEO

Paparan Kedua (Yogyakarta)

M. Faozi Kurniawan, SE, Akt, MPH, peneliti di PKMK FK-KMK UGM melanjutkan dengan analisis perkembangan klaim BPJS untuk tindakan medis menggunakan Cath-Lab pada periode 2015-2023. Poin-poin utama dari paparannya meliputi peningkatan jumlah klaim tindakan Cath-Lab setiap tahun terutama di Regional 1 (Jawa). Peningkatan di Regional 1 sangat tajam, sementara di Regional 5 (Papua dan Maluku) mendatar. Terjadi disparitas yang melebar. mencerminkan ketidak adilan pelayanan CathLab di antara anggota BPJS. Faozi juga menekankan perlunya pengaturan pembiayaan dan kebijakan strategis agar layanan Cath-Lab dapat diakses lebih luas tanpa membebani sistem pembiayaan kesehatan.

VIDEO   MATERI

Pembahasan oleh Prof. Laksono Trisnantoro

Laksono menegaskan, hingga saat ini Cath Lab merupakan salah satu teknologi yang belum merata karena berdasarkan data yang disampaikan dr Farizal, jika di satu lokasi sudah tersedia layanan Cath Lab, maka terjadi kecenderungan jumlah layanan Cath Lab akan bertambah. Sementara, jika di lokasi lain tidak tersedia Cath Lab cenderung akan selalu terjadi kekosongan. Pada masa JKN, perkembangan Cath Lab masih berdasar mekanisme pasar. Hal ini disayangkan, karena BPJS harapannya mengurangi tekanan pasar yang murni melalui intervensi pemerintah. Fakta lainnya, disparitas rendah dalam klaim saat BPJS, namun semakin meningkat antar regional. Berdasarkan data, pelayanan Cath Lab tidak merata dalam 10 tahun terakhir, bahkan disparitasnya semakin buruk. Sehingga, perluasan layanan Cath Lab harus merata agar prinsip pemerataan akses kesehatan tercapai. Hal ini sejalan dengan sila kelima Pancasila yaitu Keadilan Sosial untuk Seluruh Rakyat Indonesia.

VIDEO   MATERI

Diskusi dan Kesimpulan

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan penanggap ahli-ahli jantung (kardiologist), neurologist, sampai ke peneliti implementasi. Penanggap mengangkat berbagai isu, termasuk kendala infrastruktur di daerah terpencil, pelatihan tenaga medis untuk penggunaan Cath-Lab, dan peran pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi. Tidak ada yang menyatakan sebagai proyek mercusuar. Banyak penanggap menyatakan perlu persiapan matang, termasuk sampai ke pentahapan program untuk mencapai seluruh Indonesia.

Dalam kesimpulannya, Laksono menegaskan bahwa kebijakan perluasan Cath-Lab diperlukan untuk meningkatkan akses layanan di daerah-daerah sulit dengan pertimbangan geospatial yang baik. Risiko kegagalan sistem perlu dimonitor dengan penelitian implementasi. Pendanaan pelayanan kesehatan perlu dilakukan secara baik. Diharapkan ada pemahaman bahwa perluasan pelayanan Cathlab ke daerah sulit bukan sebagai proyek mercusuar, namun menjalankan perintah UUD 1945 dengan berbagai keterbatasan teknis dan anggaran.

VIDEO

Reportase: RM. Reksonegoro