Ilustrasi: freepik.com
Laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada 2017 menyebutkan bahwa hampir separuh populasi dunia masih belum mendapatkan akses yang layak terhadap pelayanan kesehatan. Dalam konteks penyakit kanker, masih banyak pasien – pasien yang belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan sehingga tidak mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. Upaya untuk pencegahan kanker pun masih perlu ditingkatkan.
Pandemi COVID-19 telah memberikan beban yang berat bagi sistem kesehatan dan pasien kanker karena makin terbatasnya akses pelayanan kesehatan. Organisasi – organisasi kemasyarakatan yang fokus dalam penyakit kanker menunjukkan adanya peningkatan permintaan dukungan maupun layanan dari pasien kanker. Di sisi lain, aspek keuangan organisasi dihadapkan pada menurunnya pemasukan untuk mendukung aktivitas. Analisis dari Union for International Cancer Control (UICC) menunjukkan adanya masalah keuangan antara lain: penurunan aktivitas penggalangan dana, turunnya dana filantropis, melemahnya arus kas organisasi, tidak adanya pendanaan pemerintah, dan juga keterlambatan pembayaran layanan organisasi.

Pembelajaran pada tingkat individu, tim, organisasi, dan lintas organisasi merupakan kunci dalam penguatan sistem kesehatan. Banyak negara, terutama negara berpenghasilan menengah dan rendah, masih belum memiliki kapasitas yang memadai untuk menghasilkan dan menggunakan pengetahuan yang mereka butuhkan agar efektif dalam menjalankan sistem kesehatan. Investasi dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan cenderung mendapat proporsi yang sangat kecil dari keseluruhan investasi dalam program dan sistem kesehatan. Kegiatan yang berfokus pada pembelajaran kurang mendapat tempat atau dukungan anggaran bila dibandingkan dengan prioritas sistem kesehatan lainnya.