Berbagai hambatan masih ditemukan dalam penyusunan, implementasi, dan evaluasi Clinical Pathways, seperti keterbatasan pemahaman konsep CP, kurangnya keterlibatan tim multidisiplin, serta lemahnya mekanisme pemantauan dan evaluasi. Akibatnya, CP sering hanya berfungsi sebagai dokumen administratif dan belum berperan efektif dalam pengendalian mutu dan biaya pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas dan sistem agar Clinical Pathways dapat diterapkan secara optimal.
arsip pengantar
SEMINAR NASIONAL:Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu(SPGDT)
Yogyakarta, 14 April 2026

Dok. PKMK FK-KMK UGM
PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Transformasi Peran Perawat dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)” pada Selasa, 14 April 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh sebanyak 90 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya tenaga keperawatan lintas jenjang.

Yogyakarta, 8-10 April 2026 | PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Kupas Tuntas Unit Cost Pelayanan Rumah Sakit Batch 10. Workshop dilaksanakan selama 3 hari di Hotel Santika Premiere Yogyakarta dan diikuti oleh 9 peserta secara luring. Peserta berasal dari berbagai instansi seperti rumah sakit daerah, rumah sakit swasta, sampai rumah sakit pendidikan. Latar belakang pendidikan para peserta juga beragam, diantaranya dari ekonomi, tenaga medis, dan tenaga kesehatan.
Dalam dekade terakhir, pendekatan kesehatan global mulai bergeser dari paradigma disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) diakui sebagai determinan utama kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup sepanjang usia.
Otot rangka tidak lagi dipandang hanya sebagai organ penggerak, tetapi juga sebagai:
- Organ metabolik, yang berperan dalam regulasi glukosa dan sensitivitas insulin
- Organ endokrin, melalui sekresi myokines yang mempengaruhi sistem imun dan inflamasi
- Reservoir protein, yang mendukung respon imun dan pemulihan saat kondisi katabolik
- Penentu functional independence, khususnya pada populasi aging society
Penurunan massa otot (sarcopenia) telah terbukti berhubungan dengan berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti:
- Diabetes Mellitus Tipe 2
- Penyakit Kardiovaskular
- Obesitas
- Sindrom Metabolik
- Osteoporosis
- Frailty Syndrome
Latihan resistensi (resistance training) sebagai intervensi utama dalam mempertahankan dan meningkatkan massa otot telah mendapatkan pengakuan ilmiah sebagai strategi preventif maupun terapeutik dalam berbagai kondisi kronis.
Penyusunan unit cost pelayanan rumah sakit bukan merupakan perkara mudah bagi internal akuntansi rumah sakit. Rumah sakit memiliki ribuan produk yang harus dianalisis dan puluhan unit/instalasi yang saling terkait satu dengan yang lain. Sehingga untuk melakukan proses analisis ini memerlukan kemampuan SDM yang mencukupi untuk memahami cara bagaimana untuk dapat menganalisis data tersebut.
Terkait dengan penerapan JKN, hasil dari analisis unit cost rumah sakit, sebenarnya menjadi bagian penting bagi rumah sakit dalam mengambil keputusan strategisnya. Besaran tarif yang ditentukan Kementerian Kesehatan, mendorong rumah sakit untuk mampu melakukan kendali mutu dan kendali biaya. Sehingga akuntansi tidak bisa lagi hanya dipandang secara global, akan tetapi sudah harus diolah menjadi bagian-bagian detail yang mampu menjadi dasar bagi manajemen rumah sakit untuk melakukan cost control.
PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan seri ketiga webinar refleksi sejarah perjalanan institusi tersebut. Webinar bertajuk “Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 hingga 2000: Sebuah transisi dari sekolah kedokteran di pedalaman menjadi kampus internasional bidang kesehatan”. Webinar tersebut menghadirkan para pelaku sejarah yang secara langsung mengalami proses transformasi lembaga tersebut. Kegiatan ini dipandu oleh Aulia Putri Hijriyah, S. Sej. selaku moderator dan diikuti peserta yang hadir secara langsung di Gedung Litbang FK-KMK UGM dan Zoom Meeting. Webinar ini menjadi ruang refleksi untuk memahami perjalanan panjang FK-UGM dalam membangun pendidikan kedokteran yang bukan hanya berkembang secara akademik, melainkan juga memiliki kontribusi sosial yang kuat bagi masyarakat Indonesia. Diskusi menelusuri bagaimana institusi yang pada awalnya berkembang dalam keterbatasan infrastruktur dan sumber daya mampu bertransformasi menjadi salah satu pusat pendidikan kesehatan yang memiliki reputasi nasional dan internasional.
Kamis, 5 Maret 2026 – PKMK-Yogyakarta. Berkembangnya sistem manajemen bencana kesehatan di dunia dan Indonesia tidak terlepas dari peran serta akademisi dan peneliti. Pembelajaran dari berbagai kejadian yang telah dialami menjadi kunci penting dalam membentuk dan mempersiapkan sistem yang lebih baik di masa yang akan datang. Akan tetapi, melakukan penelitian manajemen bencana kesehatan bukan suatu hal yang mudah. Adanya keterbatasan dalam metodologi pengambilan data, reliabilitas dan akuntabilitas data di lapangan, dan aksesibilitas terhadap laporan riil di lapangan, menjadikan tantangan tersendiri dalam melakukan analisis ilmiah.
Reportase Kegiatan
PKMK-Yogyakarta. Pelatihan “Pemahaman dan Keterampilan Koding INA-DRG untuk Peningkatan Akurasi Klaim dan Mutu Data Pelayanan Rumah Sakit” diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan rekam medis, koding klinis, serta pengajuan klaim dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pelatihan ini menghadirkan dr. Endang Suparniati, M.Kes sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH., CQIPS dari Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan diikuti oleh 38 peserta dari berbagai rumah sakit dan institusi kesehatan di Indonesia yang terlibat dalam pengelolaan rekam medis dan klaim pelayanan kesehatan.
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM) menyelenggarakan Serial Webinar RIBK dengan tema Tantangan Daerah dalam Implementasi RIBK pada Dokumen dan Program Kesehatan Daerah secara daring pada Selasa, 3 Maret 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman pemangku kepentingan daerah mengenai tantangan implementasi RIBK dalam dokumen dan program kesehatan daerah.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD dalam pengantarnya menyampaikan bahwa konsep mandatory spending (5% APBN atau 10% APBD) selama ini adalah sebuah “kecelakaan sejarah” yang tidak secara otomatis menjamin efisiensi maupun pemerataan layanan kesehatan. Harapan baru terletak pada RIBK yang mengalokasikan anggaran berdasarkan indikator kinerja yang terukur selama 5 tahun (multiyears), bukan sekadar penyerapan anggaran tahunan. Tantangan utamanya adalah perubahan mentalitas birokrasi yang terjamin alokasi dananya menjadi pelaku kesehatan berbasis kinerja.
PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Webinar Bunuh Diri bertajuk “Darurat Bunuh Diri di Indonesia: Refleksi Sosial atau Tanda Sistem Perlindungan yang Gagal?” pada Selasa (3/3/2026) secara daring. Kegiatan ini diikuti oleh 77 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan sektor.

Diskusi diawali dengan paparan pengantar oleh dr. Arida Oetami, M.Kes. yang mengangkat pertanyaan reflektif: apakah bunuh diri murni persoalan personal, atau justru tanda kegagalan sistem sosial? Dalam poin pemantiknya, Arida menyoroti peningkatan kasus bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir dan menekankan pentingnya kebijakan publik yang berpihak pada pencegahan. Pihaknya mengajak peserta melihat fenomena ini sebagai alarm sosial yang menuntut respon kolektif, bukan sekadar empati sesaat.