Dalam dekade terakhir, pendekatan kesehatan global mulai bergeser dari paradigma disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) diakui sebagai determinan utama kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup sepanjang usia.
Otot rangka tidak lagi dipandang hanya sebagai organ penggerak, tetapi juga sebagai:
- Organ metabolik, yang berperan dalam regulasi glukosa dan sensitivitas insulin
- Organ endokrin, melalui sekresi myokines yang mempengaruhi sistem imun dan inflamasi
- Reservoir protein, yang mendukung respon imun dan pemulihan saat kondisi katabolik
- Penentu functional independence, khususnya pada populasi aging society
Penurunan massa otot (sarcopenia) telah terbukti berhubungan dengan berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti:
- Diabetes Mellitus Tipe 2
- Penyakit Kardiovaskular
- Obesitas
- Sindrom Metabolik
- Osteoporosis
- Frailty Syndrome
Latihan resistensi (resistance training) sebagai intervensi utama dalam mempertahankan dan meningkatkan massa otot telah mendapatkan pengakuan ilmiah sebagai strategi preventif maupun terapeutik dalam berbagai kondisi kronis.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD dalam pengantarnya menyampaikan bahwa konsep mandatory spending (5% APBN atau 10% APBD) selama ini adalah sebuah “kecelakaan sejarah” yang tidak secara otomatis menjamin efisiensi maupun pemerataan layanan kesehatan. Harapan baru terletak pada RIBK yang mengalokasikan anggaran berdasarkan indikator kinerja yang terukur selama 5 tahun (multiyears), bukan sekadar penyerapan anggaran tahunan. Tantangan utamanya adalah perubahan mentalitas birokrasi yang terjamin alokasi dananya menjadi pelaku kesehatan berbasis kinerja.
