Arsip:

Berita SDGs

Reportase Webinar Muscle is Medicine Seri 2: Physiology & Principles of Resistance Training

Selasa, 26 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan kesehatan global mulai mengalami pergeseran dari disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) tidak lagi dipandang hanya sebagai alat gerak tubuh, tetapi juga sebagai komponen penting yang berperan dalam kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Menjawab perkembangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 2 bertajuk “Physiology & Principles of Resistance Training” sebagai upaya edukasi multidisiplin berbasis sains untuk tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, serta masyarakat umum dalam memahami pentingnya latihan resistensi sebagai strategi preventif dan terapeutik pada berbagai penyakit kronis. read more

Reportase Webinar Muscle is Medicine Seri 1: Muscle is Medicine

Kamis, 21 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan kesehatan global mulai mengalami pergeseran dari disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) tidak lagi dipandang hanya sebagai alat gerak tubuh, tetapi juga sebagai komponen penting yang berperan dalam kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Menjawab perkembangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine yang terdiri dari seri 1 sampai 7 sebagai upaya edukasi multidisiplin berbasis sains untuk tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, serta masyarakat umum. read more

Reportase Webinar Bagian 1b: “Bagaimana Situasi Indonesia Dibandingkan dengan Thailand dalam Asuransi Kesehatan Swasta dan Sistem Kesehatannya”

Seri Webinar Memahami “Sesuatu yang Salah” dalam Kebijakan Pendanaan Kesehatan di Indonesia: Prospek Revisi UU SJSN Tahun 2004 & UU BPJS Tahun 2011

Bagian 1b: “Bagaimana Situasi Indonesia Dibandingkan dengan Thailand dalam Asuransi Kesehatan Swasta dan Sistem Kesehatannya”

Selasa, 12 Mei 2026 | 10.00–11.30 WIB

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Bagian 1b dengan tema “Bagaimana situasi Indonesia dibandingkan dengan Thailand dalam asuransi kesehatan swasta dan sistem kesehatannya?” secara daring pada Selasa (12/5/2026). Webinar ini membahas situasi indonesia dibandingkan dengan thailand dalam asuransi kesehatan swasta dan sistem kesehatannya. Webinar ini dipandu oleh Vini Aristianti, S.KM., MPH., AAK dengan menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku narasumber sekaligus fasilitator diskusi. read more

Reportase Webinar Pre-APHaH Congress: Peluang dan Tantangan Implementasi Hospital at Home (HaH) di Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026

PKMK-Yogyakarta. PKMK menggelar webinar awal terkait implementasi layanan Hospital at Home pada Rabu (20/5/2026). Narasumber dalam webinar tersebut berasal dari rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta dan Kementerian Kesehatan RI serta tanggapan dari PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan ini mengambil judul Webinar Pre-APHaH Congress: Peluang dan Tantangan Implementasi Hospital at Home (HaH) di Indonesia. Moderator menegaskan bahwa HaH berbeda dengan layanan homecare konvensional. HaH merupakan inovasi extension ruang rawat inap ke rumah pasien, lengkap dengan standar pemantauan medis, peralatan tingkat lanjut, serta pengawasan klinis berkelanjutan baik melalui kunjungan langsung maupun intervensi telemedicine yang setara dengan perawatan akut di bangsal rumah sakit. Peningkatan demand masyarakat akan pelayanan mutakhir ini pasca pandemi perlu segera direspon, meskipun dari sisi ketersediaan (supply) institusi kesehatan masih dihadapkan pada tantangan operasional dan kejelasan regulasi di Indonesia. read more

Reportase Serah Terima Jabatan Ketua Board PKMK FK-KMK UGM

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menggelar Serah Terima Jabatan Ketua Board di ruang Auditorium Gedung Tahir FK-KMK UGM Lantai 8 pada Selasa (13/05/2026). Kegiatan dihadiri oleh tamu undangan yang berasal dari eksternal yaitu Dekanat FK-KMK UGM, perwakilan dari pusat kajian di lingkungan FK-KMK UGM, serta dari internal antara lain para peneliti, asisten peneliti, dosen, konsultan, serta staf dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM serta Departemen HPM FK-KMK UGM. read more

Reportase Webinar “Resiliensi Fasilitas Kesehatan : Membangun Kesiapsiagaan Operasional dalam Menghadapi Krisis Kesehatan” Seri 1 : Topik “Mitigasi, Risiko dan Alur Pelayanan Darurat”

Selasa, 12 Mei 2026

PKMK-Yogyakarta. Pemerintah terus menunjukkan komitmen jangka panjang dalam memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menghadapi berbagai situasi darurat. Langkah ini ditegaskan kembali melalui terbitnya Permenkes Nomor 1 Tahun 2026 yang mengatur tentang Kejadian Luar Biasa (KLB), Wabah, dan Krisis Kesehatan. Regulasi tersebut secara eksplisit mengamanatkan perwujudan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Aman Bencana sebagai standar mutlak dalam pelayanan publik. Kemudian, dalam rangka membangun ketangguhan tersebut, diperlukan rangkaian upaya terintegrasi yang mencakup mitigasi, analisis risiko, pengaturan layanan darurat, pembentukan sistem komando, penguatan kapasitas SDM, hingga evaluasi sistem read more

Reportase Workshop Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) RSUD H. Moh Ruslan Kota Mataram

Senin-Selasa, 27-28 April 2026

Dok. PKMK “Foto bersama direktur RSUD Kota Mataram, tim PKMK FK-KMK UGM, dan tamu undangan”.

PKMK-Yogyakarta. Konsultan dan peneliti Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM diundang sebagai narasumber dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh RSUD Kota Mataram pada acara yang digelar tanggal 27-28 April 2026 bertempat di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, NTB. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan mensosialisasikan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP) berdasarkan teori yang ada, serta membandingkannya dengan dokumen HDP yang sudah dibuat oleh RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran direksi, pejabat struktural, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Basarnas Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan BPBD Kota Mataram sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung kesiapsiagaan kesehatan daerah. read more

Webinar Mutu Corner 3: “Akreditasi Selesai, Apakah Keselamatan Pasien Tetap Terjaga? Mengungkap Realita Sasaran Keselamatan Pasien di Lapangan”

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan webinar seri Mutu Corner 3 bertajuk “Akreditasi Selesai, Apakah Keselamatan Pasien Tetap Terjaga? Mengungkap Realita Sasaran Keselamatan Pasien di Lapangan”. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga kesehatan, pengelola mutu, pimpinan fasilitas kesehatan, regulator, akademisi, hingga mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap pengembangan mutu pelayanan kesehatan. Webinar dipandu oleh dr. Novika Handayani dan menghadirkan dua narasumber, yaitu dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP serta dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP. read more

Laporan Kunjungan Evaluasi Program Sister Hospital RSUPP Betun dan Pendampingan Kegiatan Forum Konsolidasi, Evaluasi dan Penguatan Program Bidang Kesehatan Kabupaten Malaka Tahun 2025 – 2026

Hari 1: Selasa, 28 April 2026 Hari 2: Rabu, 29 April 2026 Hari 1: Selasa, 28 April 2026

Pendampingan Tim PKMK FK-KMK UGM dalam Kegiatan Forum Konsolidasi, Evaluasi dan Penguatan Program Bidang Kesehatan Kabupaten Malaka Tahun 2025 – 2026

Selasa, 28 April 2026

Sebagai bentuk komitmen terhadap upaya transformasi sistem kesehatan Indonesia, meliputi penguatan peran dan peningkatan kualitas layanan kesehatan primer dan rujukan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka menyelenggarakan Forum Konsolidasi, Evaluasi, dan Penguatan Program Bidang Kesehatan guna menyelaraskan perencanaan program kesehatan serta mengatasi permasalahan kesehatan spesifik di Kabupaten Malaka didampingi oleh tim PKMK FK-KMK UGM dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D sebagai salah satu narasumber. read more

Reportase Webinar 1a Memahami Situasi Pendanaan dan Asuransi Kesehatan Swasta di Indonesia

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Webinar Bagian 1a dengan tema “Memahami Situasi Pendanaan dan Asuransi Kesehatan Swasta di Indonesia” secara daring pada Selasa (5/5/2026). Webinar ini menjadi pembuka dari rangkaian diskusi yang lebih luas mengenai persoalan pendanaan kesehatan Indonesia dan arah advokasi revisi UU SJSN serta UU BPJS. Melalui forum ini, peserta diajak untuk melihat persoalan pembiayaan kesehatan tidak hanya sebagai isu teknis pembiayaan layanan, tetapi sebagai isu kebijakan publik yang menentukan keberlanjutan JKN, daya tahan fasilitas kesehatan, perlindungan finansial masyarakat, dan ruang kontribusi pendanaan swasta.

seri1 salah 1

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. dalam pengantarnya menyampaikan bahwa Indonesia sedang menghadapi kondisi “sesak napas” dalam pendanaan pelayanan kesehatan. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tekanan yang dialami oleh berbagai aktor dalam sistem kesehatan, mulai dari industri rumah sakit, industri alat kesehatan, industri farmasi, BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan swasta, hingga tenaga medis dan tenaga kesehatan. Menurut Prof. Laksono, kondisi ini mengindikasikan adanya persoalan struktural yang dipengaruhi oleh desain kebijakan dalam UU SJSN Tahun 2004 dan UU BPJS Tahun 2011. Phaknya juga menyoroti bahwa UU Kesehatan 2023 sebagai Omnibus Law belum menyentuh dua undang-undang tersebut, sehingga diskusi revisi regulasi menjadi relevan dan mendesak.

Dalam paparan tersebut, Prof. Laksono juga menekankan rendahnya kapasitas pendanaan kesehatan Indonesia. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta disebut masih stagnan di sekitar 3% dari PDB selama kurang lebih 15 tahun terakhir. Pada saat yang sama, tax ratio Indonesia relatif rendah sehingga ruang fiskal APBN untuk membiayai seluruh kebutuhan kesehatan menjadi terbatas. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang masa depan pembiayaan kesehatan Indonesia: apakah sistem akan tetap bertumpu terutama pada pemerintah, memberi ruang lebih besar pada pendanaan swasta, atau membangun kombinasi keduanya secara lebih terencana. Pertanyaan inilah yang menjadi dasar rangkaian webinar hingga Agustus 2026, yang secara bertahap membahas pendanaan swasta, pendanaan pemerintah dan BPJS, filantropi, serta strategi advokasi revisi regulasi.

Pada pengantar Bagian 1 mengenai asuransi kesehatan swasta, Prof. Laksono mengarahkan diskusi pada pertanyaan kritis mengenai kemungkinan peningkatan kontribusi Public Heath Insurance (PHI) dari sekitar 5% belanja kesehatan menuju 20%. Pertanyaan tersebut tidak ditempatkan sebagai target numerik semata, melainkan sebagai pintu masuk untuk menilai apakah ekosistem asuransi kesehatan swasta di Indonesia telah memiliki dasar regulasi, kapasitas industri, tata kelola, literasi konsumen, dan hubungan yang jelas dengan JKN. Dengan demikian, masa depan PHI bukan hanya dipahami hanya dari sudut pandang pertumbuhan pasar, melainkan juga dari perspektif keadilan sosial, perlindungan finansial, dan pengurangan beban out-of-pocket masyarakat.

seri1 salah 2

Sesi berikutnya diisi oleh Vini Aristianti, S.KM., MPH., AAK. yang memaparkan hasil kajian “Merancang Ekosistem Asuransi Kesehatan Swasta yang Inklusif dan Berkelanjutan dalam Mendukung Cakupan Kesehatan Universal di Indonesia”. Kajian ini merupakan kajian scoping review, benchmarking dan kajian kualitatif lintas pemangku kepentingan yang melibatkan regulator, industri, dan asosiasi Perusahaan asuransi. Kajian kualitatif berupa FGD dengan 29 responden substantif dari 10 institusi kunci, antara lain Kementerian Kesehatan, OJK, BPJS Kesehatan, DJSN, Bappenas, Kementerian Keuangan, AAJI, AAUI, Mandiri Inhealth, dan Jasindo.

Vini menjelaskan bahwa urgensi penguatan PHI muncul dari beberapa indikator penting. Cakupan JKN telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, tetapi keaktifan peserta masih menjadi persoalan. Out-of-pocket Indonesia masih berada pada 28,5%, di atas ambang yang digunakan WHO 20%. Di sisi lain, inflasi medis pasca-pandemi berada pada kisaran 13–19%, kontribusi PHI masih stagnan sekitar 3–5%, kepemilikan PHI individu menurun, dan banyak produk asuransi kesehatan komersial mengalami kerugian jika melihat perbandingan antara jumlah premi yang diterima dengan total nilai klaim yang harus dibayarkan. Kombinasi faktor tersebut menunjukkan bahwa penguatan PHI membutuhkan perbaikan ekosistem secara menyeluruh, bukan hanya perluasan pemasaran produk asuransi.

Salah satu temuan penting kajian adalah adanya dualisme dan fragmentasi pengaturan antara UU jaminan sosial dan UU perasuransian komersial. UU SJSN mengakui keberadaan Asuransi Kesehatan Tambahan, tetapi perannya masih sempit hanya pada selisih biaya atau peningkatan kelas perawatan. Sementara itu, UU Perasuransian dan regulasi OJK mengatur asuransi kesehatan sebagai produk jasa keuangan, tetapi belum secara eksplisit menempatkan PHI dalam arsitektur UHC dan koordinasi manfaat dengan JKN. Dalam konteks terbaru, SE OJK 7/SEOJK.05/2025 dan Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1117/2025 telah membuka ruang penguatan tata kelola asuransi kesehatan, coordination of benefit, split billing, dan capping, namun implementasi KAPJ masih membutuhkan desain operasional, interoperabilitas data, dan kepastian peran antaraktor.

Dari sisi temuan kualitatif, kajian mengidentifikasi dua belas tema utama yang memperlihatkan kompleksitas pengembangan PHI di Indonesia. Tema tersebut meliputi belum adanya visi dan mandat eksplisit mengenai peran PHI, hambatan premi akibat inflasi medis dan klaim rasio tinggi, keterbatasan sumber daya manusia seperti aktuaris dan kapasitas managed care, fragmentasi sistem informasi kesehatan, belum kuatnya national clinical guidelines dan kendali teknologi medis, serta implementasi KAPJ yang belum optimal. Kajian juga menyoroti bahwa paket manfaat JKN yang sangat komprehensif dapat menjadi disinsentif permintaan PHI, sehingga segmentasi peran antara JKN dan PHI perlu dirancang hati-hati agar tidak merugikan kelompok rentan.

Isu lain yang disampaikan adalah terkait perlindungan konsumen dan kepercayaan publik. Industri PHI tidak akan berkembang apabila literasi keuangan masyarakat rendah, mis-selling masih terjadi, dan pengalaman klaim dianggap sulit atau tidak transparan. Dari perspektif fiskal, Kementerian Keuangan dalam kajian tersebut menekankan bahwa setiap insentif untuk PHI harus memiliki tujuan, sasaran, indikator, dan batas waktu yang jelas agar tidak regresif. Insentif fiskal dinilai lebih tepat diarahkan pada kelompok dan produk tertentu, misalnya korporasi, integrasi data, kepatuhan, dan produk top-up yang tidak menduplikasi JKN. Dengan demikian, pengembangan PHI perlu dikaitkan dengan regulasi perlindungan konsumen, kendali biaya, penguatan tata kelola klinis, dan insentif yang berbasis tujuan kebijakan.

Pada bagian penutup, webinar ini menggarisbawahi bahwa revisi UU SJSN dan UU BPJS perlu diarahkan untuk memperjelas arsitektur pendanaan kesehatan Indonesia. Peran JKN sebagai skema dasar universal harus tetap dijaga, namun ruang PHI sebagai pelengkap dan sumber pendanaan non-publik perlu didefinisikan lebih eksplisit, termasuk mekanisme koordinasi manfaat, pengendalian mutu dan biaya, pengendalian fraud, integrasi data, serta perlindungan konsumen. Forum ini sekaligus membuka agenda diskusi lanjutan untuk menilai apakah desain pembiayaan kesehatan Indonesia dapat bergerak dari sistem yang reaktif dan terfragmentasi menuju sistem yang lebih strategis, terintegrasi, adil, dan berkelanjutan.

Reporter: Vini Aritianti