Diskusi Strategis untuk Akademisi, Praktisi, dan Pembuat Kebijakan Sumatera Utara Health Tourism: Bagaimana Memulainya di Tahun 2026 Ini?

Kamis, 15 Januari 2026

Diskusi daring mengenai pengembangan Pariwisata Kesehatan Sumatera Utara yang telah diselenggarakan oleh PKMK UGM bekerja sama dengan Medan Medical Tourism Board pada 15 Januari 2026, menegaskan suatu hal yaitu potensi besar kawasan ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Dalam diskusi daring ini dibahas tentang kondisi struktural, peluang lokal, serta langkah-langkah operasional yang realistis untuk menahan aliran pasien ke luar negeri dan menciptakan ekosistem kesehatan yang bersaing.

 Materi Video

Prof. Laksono Trisnantoro memulai pembahasan dengan menjelaskan bahwa Sumatera Utara memiliki potensi pariwisata yang kuat, seperti Danau Toba dan Berastagi, yang dapat dipadukan dengan layanan kesehatan. Akan tetapi, selama ini banyak masyarakat menengah dan mampu memilih untuk berobat ke Malaysia atau Thailand karena pandangan terhadap kualitas pelayanan, ketersediaan spesialis, dan ekosistem rumah sakit swasta yang lebih berkembang. Sebagai hasilnya, terjadi kebocoran ekonomi yang signifikan dan tekanan pada rumah sakit lokal yang bergantung pada pendanaan BPJS.

Selain itu, Prof. Laksono menggarisbawahi perbedaan struktur pembiayaan antara Indonesia dan negara-negara di sekitarnya. Malaysia dan Thailand memiliki proporsi pembiayaan swasta dan asuransi yang tangguh, serta sistem layanan berjenjang yang memungkinkan rumah sakit swasta melayani segmen premium tanpa mengganggu layanan publik. Di Indonesia, dominasi BPJS menimbulkan masalah aliran kas, antrean yang panjang, dan terbatasnya investasi untuk teknologi serta sumber daya manusia. Perlu mengawali dengan segmen non BPJS untuk mempercepat pengembangan produk pariwisata medis dan mengurangi masalah diskriminasi pasien.

 Materi Video

Selanjutnya, Destanul Aulia dari Medan Medical Tourism Board menanggapi bahwa beberapa rumah sakit di Medan telah memiliki kapasitas untuk pemeriksaan medis dan layanan tertentu, namun jumlah spesialis dan fasilitas canggih masih terbatas. Inisiatif seperti pameran promosi telah diluncurkan, namun belum memberikan dampak yang signifikan. Destanul menyoroti pentingnya kerja sama antara rumah sakit — hotel — agen perjalanan — asuransi serta pendekatan pemasaran yang aktif untuk menarik kembali pasien lokal dan mendatangkan pasien dari daerah.

Sesi diskusi lebih banyak membahas mengenai tantangan kunci.  Dari sisi pendanaan dan fiskal, alokasi belanja kesehatan Indonesia relatif rendah sehingga investasi rumah sakit terbatas.  Kemudian ketergantungan BPJS yang mana mayoritas rumah sakit daerah bergantung pada klaim BPJS yang menimbulkan masalah likuiditas.  Dari sisi ketersediaan SDM seperti kekurangan dokter spesialis dan mobilitas tenaga ahli ke luar negeri atau jaringan swasta.  Demikian pula regulasi dan perizinan yaitu prosedur untuk dokter asing atau kerja sama internasional masih kompleks dan memerlukan deregulasi terukur.  Hal lain yang penting adalah pemasaran dan branding, rumah sakit lokal belum memiliki strategi harga dan paket yang transparan dan kompetitif dibandingkan rumah sakit Malaysia.

Beberapa langkah awal yang dapat diambil adalah mengidentifikasi 1–3 rumah sakit non BPJS di Medan yang bersedia berinvestasi dan menjadi “atlet” yang kompetitif. Selanjutnya, menyusun paket non BPJS, seperti paket pemeriksaan kesehatan dan prosedur elektif yang terintegrasi dengan fasilitas akomodasi. Menggandeng hotel, resort, dan agen perjalanan untuk menciptakan kemitraan pariwisata dalam layanan antar jemput dan paket wisata pemulihan. Di samping itu, penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui program transfer teknologi, insentif bagi para spesialis, dan undangan untuk praktik terbatas kepada diaspora atau dokter dari wilayah tersebut. Kampanye pemasaran yang terukur juga harus dilengkapi dengan harga yang jelas, situs web yang informatif, dan roadshow di daerah asal pasien untuk mencegah pasien pergi ke luar negeri. Demikian pula, advokasi kebijakan dilakukan melalui pemberian insentif daerah dan penyederhanaan izin untuk mendukung investasi jangka panjang.

Wisata kesehatan di Sumatera Utara tidak hanya berkaitan dengan rumah sakit, tetapi juga tentang membangun ekosistem, yang mencakup pendanaan, sumber daya manusia, regulasi, dan kolaborasi pariwisata. Melalui strategi yang realistis, dimulai dari segmen non BPJS, memilih rumah sakit yang sesuai, serta bekerja sama dengan korporasi dan pemerintah daerah, Sumatera Utara mempunyai kesempatan untuk menahan aliran pasien ke luar negeri dan mengubah kebocoran ekonomi menjadi peluang.  (Elisabeth Listyani)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*