Pos oleh :

chsm

Seri Webinar “MUSCLE IS MEDICINE”

Dalam dekade terakhir, pendekatan kesehatan global mulai bergeser dari paradigma disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) diakui sebagai determinan utama kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup sepanjang usia.

Otot rangka tidak lagi dipandang hanya sebagai organ penggerak, tetapi juga sebagai:

  • Organ metabolik, yang berperan dalam regulasi glukosa dan sensitivitas insulin
  • Organ endokrin, melalui sekresi myokines yang mempengaruhi sistem imun dan inflamasi
  • Reservoir protein, yang mendukung respon imun dan pemulihan saat kondisi katabolik
  • Penentu functional independence, khususnya pada populasi aging society

Penurunan massa otot (sarcopenia) telah terbukti berhubungan dengan berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti:

  • Diabetes Mellitus Tipe 2
  • Penyakit Kardiovaskular
  • Obesitas
  • Sindrom Metabolik
  • Osteoporosis
  • Frailty Syndrome

Latihan resistensi (resistance training) sebagai intervensi utama dalam mempertahankan dan meningkatkan massa otot telah mendapatkan pengakuan ilmiah sebagai strategi preventif maupun terapeutik dalam berbagai kondisi kronis.

Namun demikian, pemahaman mengenai fisiologi otot, prinsip latihan berbasis sains (evidence-based resistance training), serta aspek biomekanika dan keselamatan latihan masih belum terintegrasi secara optimal dalam praktik klinis maupun promotif-preventif.

Oleh karena itu, Fitness Professional Academy (FPA) dan HOPE Wellness-Bali Royal Hospital (HW-BRH), bersama PKMK UGM serta universitas mitra menyelenggarakan 

Webinar Series “Muscle is Medicine” read more

Workshop Kupas Tuntas Unit Cost Pelayanan RS Pemanfaatan Informasi Unit Cost Rumah Sakit Untuk Berbagai Pengambilan Keputusan di Era JKN

Penyusunan unit cost pelayanan rumah sakit bukan merupakan perkara mudah bagi internal akuntansi rumah sakit. Rumah sakit memiliki ribuan produk yang harus dianalisis dan puluhan unit/instalasi yang saling terkait satu dengan yang lain. Sehingga untuk melakukan proses analisis ini memerlukan kemampuan SDM yang mencukupi untuk memahami cara bagaimana untuk dapat menganalisis data tersebut.

Terkait dengan penerapan JKN, hasil dari analisis unit cost rumah sakit, sebenarnya menjadi bagian penting bagi rumah sakit dalam mengambil keputusan strategisnya. Besaran tarif yang ditentukan Kementerian Kesehatan, mendorong rumah sakit untuk mampu melakukan kendali mutu dan kendali biaya. Sehingga akuntansi tidak bisa lagi hanya dipandang secara global, akan tetapi sudah harus diolah menjadi bagian-bagian detail yang mampu menjadi dasar bagi manajemen rumah sakit untuk melakukan cost control.

Dengan latar belakang permasalahan diatas, maka perlu adanya langkah bagi rumah sakit untuk mempersiapkan sumber daya manusianya dalam membangun sistem akuntansi biaya. Dengan sistem ini, rumah sakit dapat melakukan analisis unit cost secara rutin agar memiliki modal dasar yang penting dalam pengambilan keputusannya.

Selengkapnya 

Reportase Webinar Seri 3 “Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 – 2000: Sebuah Transisi dari Sekolah Kedokteran di Pedalaman Menjadi Kampus Internasional Bidang Kesehatan”

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan seri ketiga webinar refleksi sejarah perjalanan institusi tersebut. Webinar bertajuk “Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 hingga 2000: Sebuah transisi dari sekolah kedokteran di pedalaman menjadi kampus internasional bidang kesehatan”. Webinar tersebut menghadirkan para pelaku sejarah yang secara langsung mengalami proses transformasi lembaga tersebut. Kegiatan ini dipandu oleh Aulia Putri Hijriyah, S. Sej. selaku moderator dan diikuti peserta yang hadir secara langsung di Gedung Litbang FK-KMK UGM dan Zoom Meeting. Webinar ini menjadi ruang refleksi untuk memahami perjalanan panjang FK-UGM dalam membangun pendidikan kedokteran yang bukan hanya berkembang secara akademik, melainkan juga memiliki kontribusi sosial yang kuat bagi masyarakat Indonesia. Diskusi menelusuri bagaimana institusi yang pada awalnya berkembang dalam keterbatasan infrastruktur dan sumber daya mampu bertransformasi menjadi salah satu pusat pendidikan kesehatan yang memiliki reputasi nasional dan internasional.

Pengantar — Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil.

Pengantar diskusi disampaikan oleh Dr. Abdul Wahid dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM. Wahid menekankan bahwa webinar ini memiliki makna strategis dalam rangkaian peringatan 80 tahun FK-KMK UGM. Menurutnya, cara terbaik untuk merayakan perjalanan sebuah institusi bukan hanya dengan seremoni, tetapi melalui refleksi kritis terhadap sejarahnya. Narasumber menjelaskan bahwa saat ini tim sejarah tengah menyusun buku mengenai perjalanan FK-KMK UGM dengan tema utama “Merajut Kedokteran dan Kesehatan Kerakyatan.” Tema ini dipilih karena selama delapan dekade, FK-UGM dipandang memiliki karakter khas dalam mengembangkan pendidikan kedokteran yang berpihak pada kebutuhan masyarakat luas. Konsep kedokteran kerakyatan dipandang sebagai gagasan besar yang menjiwai berbagai aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai tersebut telah berkembang sejak masa awal berdirinya institusi di Klaten hingga menjadi fakultas kedokteran yang memiliki pengaruh luas di tingkat nasional. Wahid juga menyoroti pentingnya penggunaan pendekatan memoar dalam memahami sejarah institusi. Memoar memungkinkan para pelaku sejarah menyampaikan pengalaman personal, refleksi, serta interpretasi terhadap peristiwa yang mereka alami. Bagi sejarawan, sumber seperti ini sangat berharga karena sering kali memuat informasi yang tidak tercatat dalam dokumen resmi. Melalui webinar ini, peserta diharapkan dapat memahami perjalanan FK-UGM bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa institusional, tetapi sebagai pengalaman kolektif yang membentuk identitas akademik dan sosial lembaga tersebut

VIDEO

Membangun jaringan internasional farmakologi — dr. Budiono Santoso Setradjaja, PhD, SpFK

Dalam sesi pemaparan, dr. Budiono Santoso membagikan refleksi mengenai perjalanan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada selama beberapa dekade. Budiono menegaskan bahwa paparannya bukan untuk menonjolkan pencapaian pribadi, melainkan untuk merefleksikan perjalanan institusi yang pernah beliau alami. Narasumber mengenang masa studinya di kompleks Mangkubumi dan Ngasem pada periode 1969–1975, ketika FK-UGM masih berkembang dalam kondisi yang serba terbatas baik dari sisi fasilitas pendidikan, sarana penelitian, maupun jumlah tenaga akademik berkualifikasi tinggi. Namun, keterbatasan tersebut justru membentuk semangat belajar dan daya juang yang kuat di kalangan civitas akademika. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di UGM, Budiono melanjutkan studi doktoral di Newcastle University, Inggris. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya mengenai pengembangan pendidikan dan penelitian kedokteran. Sekembalinya ke Indonesia, Budiono kembali bergabung sebagai staf akademik di FK-UGM dan berperan dalam pengembangan farmakologi klinis, termasuk sebagai kepala laboratorium farmakologi klinik, sebelum kemudian berkarier di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Manila sebagai regional adviser di bidang informasi obat dan teknologi kesehatan.

Dalam refleksinya, Budiono menjelaskan bahwa transformasi FK-UGM berlangsung melalui proses panjang. Perjalanan tersebut dimulai dari masa awal pendidikan kedokteran di Klaten pada akhir 1940-an dalam kondisi yang sangat terbatas, kemudian berlanjut pada fase konsolidasi di kompleks Mangkubumi dan Ngasem dengan dukungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Perkembangan selanjutnya terjadi ketika berbagai bagian akademik berpindah ke kawasan Karangmalang dan Sekip pada akhir 1960-an hingga 1980-an, yang menandai pembangunan kampus yang lebih modern dan penguatan kegiatan pendidikan serta penelitian. Memasuki pertengahan 1990-an, FK-UGM mulai memperluas jejaring kerja sama internasional dan meningkatkan kapasitas penelitian. Pada fase ini, fakultas bertransformasi dari kampus dengan sumber daya terbatas menjadi pusat pendidikan kesehatan yang memiliki pengaruh nasional dan mulai diakui secara internasional. Menurut Budiono, keberanian untuk bersaing di tingkat global justru lahir dari pengalaman panjang menghadapi keterbatasan pada masa awal pembangunan institusi. Beliau juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan kedokteran pada dekade 1970–1980-an, seperti terbatasnya jumlah profesor, fasilitas penelitian yang sederhana, serta minimnya pendanaan penelitian. Bahkan, beberapa dosen yang melanjutkan studi ke luar negeri mengalami kesulitan ketika kembali karena belum tersedia fasilitas penelitian yang memadai. Namun demikian, kondisi tersebut justru mendorong semangat inovasi dan kolaborasi. Melalui penguatan jejaring internasional, peningkatan kapasitas penelitian, serta reformasi kurikulum secara bertahap, FK-UGM akhirnya berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan kesehatan yang berkontribusi penting bagi perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat di Indonesia.

MATERI    VIDEO

Mengembangkan keilmuan dan ketahanan finansial FK UGM dengan pendekatan toko kelontong dengan bechmarking universitas di Inggris — Prof. dr. Laksono Trisnantoro MSc. PhD

Pada sesi selanjutnya, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD memaparkan refleksinya mengenai perjalanan pengembangan keilmuan serta ketahanan finansial di Fakultas Kedokteran UGM. Berangkat dari pengalaman panjangnya sebagai akademisi dan pengelola institusi, Prof Laksono menyoroti bagaimana fakultas harus terus beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif. Dalam pemaparannya, beliau memperkenalkan metafora yang cukup unik, yaitu “pendekatan toko kelontong” dalam pengelolaan fakultas. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan strategi pengembangan institusi yang bersifat pragmatis, adaptif, dan bertahap. Seperti halnya toko kelontong yang mampu bertahan karena menjual berbagai kebutuhan masyarakat secara fleksibel, fakultas juga perlu mengembangkan berbagai aktivitas akademik dan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Prof Laksono, pendekatan ini bukan berarti mengurangi kualitas akademik, tetapi justru menekankan pentingnya diversifikasi sumber daya dan inovasi dalam pengembangan institusi. Fakultas tidak hanya bergantung pada satu sumber pembiayaan atau satu jenis kegiatan akademik, melainkan mengembangkan berbagai program pendidikan, penelitian, pelatihan, dan kerja sama yang dapat memperkuat keberlanjutan finansial lembaga. Dalam konteks tersebut, Prof Laksono juga menyinggung pentingnya benchmarking dengan universitas-universitas di Inggris, yang sejak lama dikenal memiliki sistem pengelolaan pendidikan tinggi yang relatif mandiri dan inovatif. Pengalaman universitas di Inggris menunjukkan bahwa keberhasilan institusi tidak hanya ditentukan oleh reputasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan mengelola sumber daya secara efektif, membangun jaringan internasional, serta mengembangkan berbagai bentuk kolaborasi dengan sektor publik maupun swasta.

Prof. Laksono menekankan bahwa bagi fakultas kedokteran di negara berkembang seperti Indonesia, ketahanan finansial menjadi aspek yang semakin penting. Tantangan pendidikan kedokteran modern meliputi kebutuhan fasilitas penelitian yang mahal, pengembangan teknologi pembelajaran, serta tuntutan internasionalisasi pendidikan. Oleh karena itu, institusi perlu mengembangkan strategi pengelolaan yang kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik dan pengabdian kepada masyarakat. Pihaknya juga mengingatkan bahwa penguatan institusi harus selalu berakar pada misi sosial pendidikan kedokteran. Dalam perspektif FK-UGM, pengembangan keilmuan dan keberlanjutan finansial bukan semata-mata bertujuan memperbesar institusi, tetapi untuk memastikan bahwa fakultas mampu terus berkontribusi dalam peningkatan kesehatan masyarakat serta pembangunan sistem kesehatan di Indonesia.

Melalui refleksi tersebut, Prof. Laksono menegaskan bahwa perjalanan FK-UGM menunjukkan pentingnya kombinasi antara visi akademik, kepemimpinan institusional, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan pendidikan tinggi global.

MATERI   VIDEO

Pembahasan — Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil.

Sebagai pembahas dalam sesi ini, Dr. Abdul Wahid memberikan refleksi terhadap paparan kedua narasumber dengan menempatkannya dalam perspektif sejarah institusi. Menurutnya, cerita yang disampaikan oleh para narasumber tidak hanya menggambarkan perjalanan individu, tetapi juga merupakan potongan penting dari sejarah perkembangan FK-UGM sebagai institusi pendidikan kesehatan di Indonesia. Dr. Wahid menekankan bahwa pengalaman personal para akademisi sering kali menjadi sumber yang sangat berharga untuk memahami dinamika sejarah lembaga. Banyak aspek perkembangan institusi seperti proses pengambilan keputusan, dinamika kepemimpinan, hingga tantangan pengembangan akademik yang tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi, tetapi justru muncul melalui refleksi pengalaman para pelaku yang terlibat langsung di dalamnya. Beliau juga menyoroti bahwa perjalanan FK-UGM memperlihatkan transformasi yang tidak sederhana. Perubahan dari kampus dengan sumber daya terbatas menuju institusi pendidikan kesehatan yang memiliki reputasi nasional dan internasional merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kepemimpinan akademik, dukungan kebijakan, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan pendidikan tinggi.

Dalam konteks tersebut, Dr. Wahid menilai bahwa refleksi yang disampaikan oleh dr. Budiono Santoso dan Prof. Laksono Trisnantoro memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai perkembangan FK-UGM. Pengalaman dr. Budiono memperlihatkan dinamika pembangunan kapasitas akademik dan penelitian dalam kondisi yang terbatas, sementara paparan Prof. Laksono menyoroti strategi penguatan institusi, termasuk pengembangan jejaring dan ketahanan finansial. Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa pembacaan terhadap sejarah institusi tidak hanya penting sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran bagi generasi akademisi berikutnya. Melalui refleksi sejarah, institusi dapat memahami bagaimana nilai-nilai dasar, strategi pengembangan, serta budaya akademik terbentuk dan berkembang dari waktu ke waktu. Menurut Dr. Wahid, salah satu pelajaran penting dari perjalanan FK-UGM adalah kemampuan institusi untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan orientasi pada misi sosial pendidikan kedokteran. Nilai kedokteran kerakyatan yang menjadi karakter khas FK-UGM menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan institusi akademik harus selalu berhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, sesi pembahasan ini menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga sumber refleksi yang dapat membantu institusi merumuskan arah perkembangan di masa depan.

MATERI   VIDEO

Sesi Diskusi

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta yang mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring. Diskusi banyak menyoroti bagaimana pengalaman historis FK-UGM dapat menjadi sumber pembelajaran bagi pengembangan pendidikan kedokteran di masa depan. Beberapa peserta menanyakan bagaimana fakultas mampu berkembang dari kondisi sarana yang sangat terbatas menjadi institusi dengan reputasi nasional dan internasional, serta apa faktor kunci yang memungkinkan transformasi tersebut. Dalam merespons hal tersebut, para narasumber menekankan pentingnya kepemimpinan akademik, keberanian untuk membangun jejaring internasional, serta kemampuan institusi beradaptasi dengan perubahan lingkungan pendidikan tinggi. Selain itu, diskusi juga menyinggung pentingnya mendokumentasikan pengalaman para akademisi melalui tulisan atau memoar agar perjalanan institusi tidak hilang dari ingatan kolektif. Melalui dialog tersebut, sesi diskusi menegaskan bahwa memahami sejarah perkembangan FK-UGM bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi landasan reflektif untuk merumuskan strategi pengembangan pendidikan kesehatan yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa mendatang.

Penutup

Webinar ini menegaskan bahwa perjalanan FK-UGM merupakan kisah transformasi institusi yang panjang dan penuh dinamika. Dari kampus yang berkembang dalam keterbatasan di pedalaman, FK-UGM berhasil membangun reputasi sebagai pusat pendidikan kesehatan yang memiliki pengaruh luas. Refleksi sejarah yang disampaikan dalam webinar ini menunjukkan bahwa keberhasilan institusi tidak hanya ditentukan oleh sumber daya, tetapi juga oleh visi, nilai, serta komitmen kolektif para akademisinya. Dalam konteks pendidikan kesehatan di Indonesia, pengalaman FK-UGM memperlihatkan bahwa pengembangan institusi akademik harus tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada masyarakat. Dengan menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran, FK-UGM diharapkan terus berkontribusi dalam membangun sistem kesehatan yang lebih kuat, adil, dan berkelanjutan.

VIDEO

Reporter:
Fadliana Hidayatu Rizky Uswatun Hasanah, S.Tr.Keb., MHPM

REPORTASE Webinar “Sharing Session: Exploring Research Topics in Disaster Health Management” Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

Kamis, 5 Maret 2026 –  PKMK-Yogyakarta. Berkembangnya sistem manajemen bencana kesehatan di dunia dan Indonesia tidak terlepas dari peran serta akademisi dan peneliti. Pembelajaran dari berbagai kejadian yang telah dialami menjadi kunci penting dalam membentuk dan mempersiapkan sistem yang lebih baik di masa yang akan datang. Akan tetapi, melakukan penelitian manajemen bencana kesehatan bukan suatu hal yang mudah. Adanya keterbatasan dalam metodologi pengambilan data, reliabilitas dan akuntabilitas data di lapangan, dan aksesibilitas terhadap laporan riil di lapangan, menjadikan tantangan tersendiri dalam melakukan analisis ilmiah.

Pada kesempatan kali ini, Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM melaksanakan Webinar “Sharing Session: Exploring Research Topics in Disaster Health Management” pada Kamis, 5 Maret 2026 yang dilaksanakan secara daring. Webinar ini diikuti oleh 55 peserta melalui Zoom dan 120 peserta melalui Youtube yang berasal dari akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan.

sharing 1

Dok. PKMK “Pembukaan Webinar “Sharing Session: Exploring Research Topics in Disaster Health Management” oleh dr. Muhammad Alif Seswandhana.

Kegiatan dibuka oleh dr. Muhammad Alif Seswandhana selaku pembawa acara pada webinar kali ini. Acara dibuka dengan dr. Alif menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para peserta pada seminar kali ini. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan pengantar yang disampaikan oleh Happy R Pangaribuan, selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM. Ibu Happy menyampaikan bahwa Indonesia merupakan laboratorium bencana, yang saat ini utamanya sedang dilanda bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya. Sistem manajemen bencana kesehatan di Indonesia terus berkembang dimana kita memiliki peran, baik akademisi, pemangku kebijakan, mahasiswa, untuk memberi masukan kepada pemerintah baik dengan policy brief maupun penelitian yang kita lakukan untuk memberi masukan atau memperbaharui peraturan yang sudah ada. Ibu Happy berharap diskusi yang dilakukan pada kesempatan kali ini terjalin dua arah, tidak hanya materi yang diberikan oleh narasumber, namun harapannya peserta juga dapat memberikan masukan maupun pertanyaan sehingga diskusi menjadi lebih hidup.

sharing 1

Dok. PKMK “Pengantar” oleh Happy R Pangaribuan, SKM, MPH., selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM.

 

sharing 1

Dok. PKMK “Moderator Sesi Seminar” oleh dr. Alif Indiralarasati.

Selanjutnya kegiatan dipandu oleh dr. Alif Indiralarasati sebagai moderator yang menyampaikan bahwa pada kegiatan kali ini kita akan berdiskusi bersama, bukan hanya mendengarkan materi dari narasumber. Harapannya kita bisa mengeksplorasi bersama apa saja topik penelitian di bidang manajemen bencana kesehatan, tidak hanya di Indonesia tapi juga secara global. Perkembangan manajemen bencana kesehatan tentu perlu dibersamai dengan penelitian berbasis keilmuan sehingga kebijakan yang disusun bisa bermanfaat ketika bencana terjadi.

 

sharing 1

Dok. PKMK “Tren Global Manajemen Penanggulangan Bencana Kesehatan Tahun 2025” oleh Madelina Ariani, SKM, MPH.

Materi disampaikan oleh Madelina Ariani, SKM, MPH. mengenai “Exploring Research Topics in Disaster Health Management”. Pada kesempatan kali ini Ibu Madel menjelaskan mengenai sejarah manajemen bencana kesehatan di Indonesia, dimulai sejak sebelum tahun 2004 yang berfokus pada respons. Kemudian pada tahun 2004-2018 menjadi titik balik dan mulai menuju pendekatan kesiapsiagaan. Dilanjutkan pada tahun 2018-2022 dimana terjadi pengembangan kesiapsiagaan yang lebih sistematis, yang mana pada periode tersebut terjadi beberapa bencana besar yaitu gempa bumi, tsunami, likuefaksi, dan gunung meletus. Terakhir di tahun 2023 atau pasca Covid-19 hingga saat ini terjadi transformasi untuk membangun ketahanan sistem kesehatan. Upaya sistematis yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dari kejadian dan pengalaman yang terjadi antara lain membuat regulasi, mengembangkan kurikulum kebencanaan kesehatan, penguatan sistem pelaporan kebencanaan, pedoman nasional, dan lain sebagainya. Regulasi yang telah disusun oleh pemerintah dibuat dari tingkat nasional, kementerian, hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota sehingga kesiapsiagaan bencana dapat bisa dilakukan sampai satuan terkecil di masyarakat. Pemerintah juga telah membuat pedoman nasional serta mengembangkan kurikulum dan pelatihan sehingga kesiapsiagaan bencana bukan hanya terdapat dalam tulisan tapi juga siap untuk operasional ketika bencana terjadi. Dari hal-hal tersebut Ibu Madel menyampaikan dampak positif yang dirasakan adalah dari kecepatan respons terhadap bencana yang semakin baik, dilihat dari penanganan tsunami Aceh tahun 2004 hingga gempa bumi Mamuju tahun 2021.

Ibu Madel menambahkan bahwa ada kesenjangan antara praktik dan publikasi mengenai manajemen bencana di Indonesia. Melihat dari negara tetangga seperti Jepang dan Filipina, mereka telah mengembangkan penulisan ilmiah dan publikasi mengenai kesiapsiagaan bencana bahkan sejak tahun 2013 yang dimulai oleh Filipina. Hal ini kemudian dikembangkan oleh Jepang dan menjadi salah satu rujukan global. Dalam penelitian tentang manajemen bencana kesehatan perlu diperhatikan mengenai perencanaan, standar data, kepemilikan data, pertanyaan penelitian, metode penelitian, dan etika penelitian. Metode penelitian yang dilakukan dapat berupa kuantitatif maupun kualitatif. Banyak desain studi kuantitatif dalam bencana kesehatan, antara lain cohort study, case-control, case study, dan lain sebagainya. Terakhir Ibu Madel menyampaikan sudah banyak kerangka kebijakan, pedoman teknis, dan panduan penelitian yang dapat digunakan dalam menyusun penelitian mengenai manajemen bencana kesehatan.

Setelah sesi penyampaian materi, masuk ke acara selanjutnya yaitu sesi diskusi. Pada sesi ini peserta tampak antusias dan aktif ketika sesi diskusi berlangsung. Beberapa peserta yang merupakan mahasiswa baik S2 dan S3 dan sudah memiliki rancangan penelitian memberikan pertanyaan kepada Ibu Madel sebagai narasumber untuk selanjutnya melakukan diskusi bersama. Pada akhir sesi terdapat rencana tindak lanjut yaitu pertemuan seperti webinar kali ini dibuat rutin sehingga terjadi diskusi yang berkelanjutan untuk penelitian mengenai manajemen bencana kesehatan.

 

sharing 1

 

Dok. PKMK “Sesi diskusi dan tanya jawab”.

 

Reporter: dr. Muhammad Alif Seswandhana (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)

Pelatihan Pemahaman dan Keterampilan Koding iDRG untuk Peningkatan Akurasi Klaim dan Mutu Data Pelayanan Rumah Sakit

Reportase Kegiatan

PKMK-Yogyakarta. Pelatihan “Pemahaman dan Keterampilan Koding INA-DRG untuk Peningkatan Akurasi Klaim dan Mutu Data Pelayanan Rumah Sakit” diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan rekam medis, koding klinis, serta pengajuan klaim dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pelatihan ini menghadirkan dr. Endang Suparniati, M.Kes sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH., CQIPS dari Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan diikuti oleh 38 peserta dari berbagai rumah sakit dan institusi kesehatan di Indonesia yang terlibat dalam pengelolaan rekam medis dan klaim pelayanan kesehatan.

idrg1

Dalam pengantar kegiatan, moderator menekankan bahwa ketepatan pengkodean diagnosis dan tindakan medis memiliki peran penting dalam sistem pembiayaan pelayanan kesehatan berbasis kasus yang digunakan dalam program JKN. Akurasi koding tidak hanya menentukan besaran klaim yang diterima rumah sakit, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas data pelayanan kesehatan yang digunakan untuk analisis, evaluasi, dan perencanaan kebijakan kesehatan.

Materi pelatihan diawali dengan pembahasan mengenai kebijakan dan regulasi JKN serta perkembangan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. dr. Endang menjelaskan bahwa sistem casemix digunakan untuk mengelompokkan pasien berdasarkan kesamaan karakteristik klinis serta penggunaan sumber daya pelayanan. Melalui sistem ini, pelayanan pasien dapat dibandingkan secara lebih objektif antar rumah sakit. Perkembangan terbaru menunjukkan adanya pembaruan menuju sistem iDRG yang memberikan pengelompokan kasus lebih rinci berdasarkan kompleksitas dan tingkat keparahan penyakit.

Peserta kemudian mempelajari konsep dasar pengkodean diagnosis menggunakan ICD-10. Koding merupakan proses klasifikasi diagnosis atau kondisi kesehatan ke dalam kode alfanumerik yang terstandar berdasarkan dokumentasi medis yang lengkap. Penulisan diagnosis yang jelas dan spesifik oleh dokter sangat membantu koder dalam menentukan kode yang tepat sehingga klasifikasi kasus dapat dilakukan secara akurat.

Pelatihan juga membahas pengkodean tindakan medis menggunakan ICD-9-CM, termasuk penentuan prosedur utama dan prosedur sekunder dalam satu episode perawatan pasien. Ketepatan pengkodean tindakan penting untuk memastikan kesesuaian pengelompokan kasus dan nilai klaim pelayanan kesehatan.

Narasumber selanjutnya menjelaskan penentuan diagnosis utama dan diagnosis sekunder. Diagnosis utama merupakan kondisi yang paling bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya pelayanan, sedangkan diagnosis sekunder mencakup komorbiditas atau komplikasi yang mempengaruhi perawatan pasien.

Untuk memperkuat pemahaman, peserta mengikuti studi kasus dan simulasi koding menggunakan sistem iDRG sehingga dapat melihat bagaimana kombinasi diagnosis, prosedur, dan kompleksitas kasus mempengaruhi hasil pengelompokan serta nilai klaim.

Selain aspek teknis, dr. Endang juga menyoroti potensi fraud dalam proses koding, seperti manipulasi diagnosis atau tindakan medis yang dapat meningkatkan nilai klaim secara tidak semestinya, sehingga fasilitas kesehatan perlu menerapkan pengendalian internal yang kuat.

Materi berikutnya membahas strategi pencegahan dispute klaim dalam pengajuan klaim JKN, dengan menekankan pentingnya koordinasi antara dokter, koder, dan verifikator serta kelengkapan dokumentasi medis agar klaim tidak mengalami pending atau penolakan.

Pada bagian akhir kegiatan, Eva Tirtabayu Hasri menyampaikan materi mengenai audit koding klinis sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Audit koding dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara dokumentasi klinis dengan kode diagnosis dan tindakan yang dilaporkan dalam klaim. Melalui audit yang dilakukan secara berkala, rumah sakit dapat mengidentifikasi kesalahan pengkodean serta melakukan perbaikan berkelanjutan dalam pengelolaan klaim.

idrg2

Diskusi antara peserta dan narasumber berlangsung aktif. Peserta berbagi pengalaman mengenai tantangan dalam menentukan diagnosis utama ketika terdapat beberapa kondisi klinis yang sama-sama signifikan serta permasalahan klaim yang mengalami pending akibat perbedaan interpretasi antara rumah sakit dan verifikator BPJS. Narasumber menegaskan bahwa kualitas dokumentasi medis, komunikasi yang baik antara dokter dan koder, serta pemahaman terhadap regulasi klaim menjadi kunci untuk mengurangi permasalahan tersebut.

Melalui pelatihan ini diharapkan peserta dapat meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis dalam proses koding diagnosis dan tindakan medis sehingga akurasi klaim meningkat dan mutu data pelayanan rumah sakit dapat terjaga dengan lebih baik.

Reporter:
dr. Helen Anggraini Budiono