Pos oleh :

chsm

Reportase Seri 5: Resistance Training Upper Body – Pull 

Kamis, 18 Juni 2026

Dalam dekade terakhir, pendekatan kesehatan global mulai bergeser dari paradigma disease-centered care menuju function-centered care, di mana massa otot rangka (skeletal muscle mass) semakin diakui sebagai salah satu determinan utama kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, dan kualitas hidup sepanjang usia. Otot rangka tidak lagi dipandang hanya sebagai organ penggerak tubuh, melainkan juga sebagai organ metabolik yang berperan dalam regulasi glukosa dan sensitivitas insulin, organ endokrin melalui sekresi myokines yang memengaruhi sistem imun dan inflamasi, reservoir protein yang mendukung proses pemulihan tubuh, serta faktor penting dalam menjaga kemandirian fungsional terutama pada populasi lanjut usia. read more

Reportase Seri 1e: Resume Prospek Asuransi Kesehatan Swasta untuk Pendanaan Kesehatan

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Bagian 1e dengan tema “Resume Prospek Askes Swasta untuk Pendanaan Kesehatan” secara daring pada Rabu (176/2026). Webinar ini membahas Resume 4 pertemuan sebelumnya dan prospek Askes Swasta untuk mendukung keberlanjutan Pendanaan Kesehatan di Indonesia. Kegiatan Webinar dipandu oleh Vini Aristianti, S.KM., MPH., AAK dengan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku narasumber, serta Dr. dr. Etίk Retno Wiyati, MARS, MH dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan selaku penangap. read more

Seri 4: Resistance Training Upper Body – Push 

Kamis, 11 Juni 2026

Latihan resistensi telah berkembang menjadi salah satu pendekatan penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Tidak hanya berperan dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot, latihan resistensi juga terbukti mendukung kesehatan metabolik, menjaga kapasitas fungsional, serta membantu mencegah berbagai penyakit kronis. Namun demikian, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh secara optimal apabila latihan dilakukan dengan teknik yang benar dan pemahaman yang memadai mengenai fungsi setiap kelompok otot yang dilatih. Menjawab kebutuhan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 4 bertajuk “Resistance Training Upper Body – Push” pada Kamis, 11 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip latihan resistensi pada kelompok otot tubuh bagian atas yang berperan dalam gerakan mendorong (push movement) sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan fungsi tubuh secara optimal.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Resistance Training Upper Body – Push.” Pada materi pertama, dr. Tanjung membahas berbagai latihan yang berfokus pada kelompok otot dada (chest muscles), yaitu Barbell Bench Press, Push-Up, dan Dumbbell Chest Fly. Dalam paparannya dijelaskan bahwa otot dada memiliki peran penting dalam berbagai gerakan mendorong (pushing movements) yang sering dilakukan dalam aktivitas sehari-hari. Latihan pada kelompok otot ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kekuatan tubuh bagian atas, tetapi juga membantu menjaga stabilitas bahu serta mendukung kemampuan fungsional tubuh secara keseluruhan.

Selain menjelaskan fungsi anatomi otot dada, dr. Tanjung menekankan pentingnya teknik gerakan yang benar selama latihan. Posisi tubuh yang stabil, kontrol gerakan selama fase mengangkat maupun menurunkan beban, serta pengaturan pernapasan yang tepat menjadi faktor penting untuk mengoptimalkan aktivasi otot dan mengurangi risiko cedera. Menurutnya, keberhasilan latihan tidak hanya ditentukan oleh besarnya beban yang digunakan, tetapi juga oleh kualitas gerakan yang dilakukan sepanjang rentang gerak (range of motion) secara penuh.

Pada materi kedua, pembahasan difokuskan pada kelompok otot bahu melalui latihan Barbell Overhead Shoulder Press, Dumbbell Lateral Raise, dan Dumbbell Front Raise. dr. Tanjung menjelaskan bahwa otot deltoid terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian anterior, lateral, dan posterior yang memiliki fungsi berbeda dalam menggerakkan lengan. Oleh karena itu, variasi latihan diperlukan untuk memberikan stimulasi yang optimal pada masing-masing bagian otot bahu sehingga kekuatan dan stabilitas sendi bahu dapat berkembang secara seimbang.

Dalam sesi ini juga dibahas pentingnya menjaga postur tubuh saat melakukan latihan bahu. Pada gerakan overhead shoulder press, peserta diingatkan untuk menjaga posisi kepala dan tulang belakang tetap netral, mengaktifkan otot inti (core), serta menghindari kompensasi berupa lengkungan berlebihan pada punggung bawah saat mendorong beban ke atas. Sementara pada latihan lateral raise dan front raise, gerakan harus dilakukan secara perlahan dan terkontrol agar otot deltoid bekerja secara maksimal tanpa memanfaatkan momentum tubuh. dr. Tanjung menekankan bahwa penggunaan beban yang terlalu berat justru dapat mengurangi efektivitas latihan dan meningkatkan risiko cedera pada bahu.

Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa setiap alat latihan memberikan karakteristik resistensi yang berbeda. Dumbbell memberikan tantangan terbesar pada bagian bawah rentang gerak karena dipengaruhi gravitasi, resistance band menghasilkan resistensi yang semakin besar ketika diregangkan, sedangkan cable machine cenderung memberikan resistensi yang lebih konstan sepanjang gerakan. Pemahaman terhadap karakteristik alat ini penting agar peserta dapat memilih metode latihan yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing.

Pada materi ketiga, dr. Tanjung membahas latihan yang berfokus pada otot trisep melalui gerakan Unilateral Cross-Body Triceps Extension dan Rope Triceps Pushdown. Dijelaskan bahwa otot trisep merupakan kelompok otot utama yang berperan dalam gerakan meluruskan siku (elbow extension) dan memiliki kontribusi besar dalam hampir seluruh gerakan push. Oleh karena itu, penguatan otot trisep menjadi bagian penting dalam meningkatkan performa latihan tubuh bagian atas secara keseluruhan.

Dalam pemaparannya, dr. Tanjung menekankan bahwa latihan trisep memerlukan stabilitas tubuh yang baik serta kontrol gerakan yang konsisten. Pada latihan cross-body triceps extension, peserta diajarkan untuk menjaga agar gerakan hanya terjadi pada sendi siku tanpa melibatkan bahu secara berlebihan. Sementara pada rope triceps pushdown, posisi tubuh harus tetap tegak dan stabil agar otot trisep menjadi kelompok otot utama yang bekerja. Ia mengingatkan bahwa kesalahan teknik seperti mengayunkan tubuh atau membiarkan bahu ikut bergerak dapat mengurangi efektivitas latihan sekaligus meningkatkan risiko cedera.

Setelah pemaparan materi, peserta menyaksikan video pembelajaran yang mendemonstrasikan langkah-langkah pelaksanaan berbagai latihan upper body push yang telah dibahas, mulai dari Barbell Bench Press, Push-Up, Dumbbell Chest Fly, Barbell Overhead Shoulder Press, Dumbbell Lateral Raise, Dumbbell Front Raise, hingga berbagai variasi latihan trisep. Melalui video tersebut, peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai teknik gerakan, posisi tubuh yang tepat, serta aspek keselamatan yang perlu diperhatikan selama latihan.

Pada sesi diskusi, peserta aktif membahas berbagai aspek praktis dalam penerapan latihan resistensi untuk tubuh bagian atas. Diskusi banyak berfokus pada penentuan beban latihan yang sesuai bagi pemula, pentingnya menyesuaikan program latihan dengan usia, kapasitas fisik, dan tujuan masing-masing individu, serta prinsip progresivitas dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot. dr. Tanjung menjelaskan bahwa tidak terdapat satu standar beban yang berlaku untuk semua orang karena kemampuan dan adaptasi setiap individu dapat berbeda-beda.

Selain itu, peserta juga mendiskusikan teknik pelaksanaan berbagai latihan upper body push, termasuk posisi tubuh yang tepat saat melakukan shoulder press, variasi sudut latihan, aktivasi kelompok otot tertentu, serta perbedaan penggunaan alat dan media latihan. Pembahasan juga mencakup strategi pengembangan kelompok otot yang masih lemah atau kurang berkembang, pengaturan volume latihan per kelompok otot, frekuensi latihan untuk mendukung hipertrofi, serta pentingnya memahami biomekanika gerakan agar latihan dapat dilakukan secara efektif dan aman. Melalui diskusi ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan latihan tidak hanya ditentukan oleh intensitas latihan, tetapi juga oleh kualitas teknik, konsistensi latihan, dan kemampuan menyesuaikan program dengan kondisi masing-masing individu.

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai prinsip latihan upper body push yang melibatkan otot dada, bahu, dan trisep sebagai komponen utama dalam gerakan mendorong. Selain memahami fungsi anatomi dan biomekanika setiap kelompok otot, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai teknik latihan yang aman, efektif, dan berbasis sains. Diharapkan materi yang diperoleh dapat membantu tenaga kesehatan, praktisi kebugaran, maupun masyarakat umum dalam menerapkan latihan resistensi secara tepat untuk meningkatkan kekuatan, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup secara berkelanjutan.

Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM

Webinar Pelayanan Kesehatan Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

PKMK-Yogyakarta. Penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang setara. Hambatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi individu, tetapi juga dapat muncul dari sarana prasarana yang belum aksesibel, informasi yang sulit dipahami, serta interaksi pelayanan yang belum sensitif terhadap ragam kebutuhan pengguna layanan. Dalam konteks tersebut, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Nasional “Pelayanan Kesehatan Inklusif untuk Penyandang Disabilitas” pada 2-4 Juni 2026.

=&0=&

Pada sesi pertama, Suharto, S.S., M.A., Ph.D. memaparkan konsep inklusivitas, disabilitas, dan kebijakan pemenuhan hak penyandang disabilitas dengan menekankan bahwa disabilitas tidak semata-mata merupakan kondisi medis, melainkan hasil interaksi antara individu dan lingkungan yang belum sepenuhnya mengakomodasi keragaman kebutuhan. Perspektif ini menjadi dasar penting dalam perancangan pelayanan publik, termasuk pelayanan kesehatan yang inklusif. Dalam pemaparannya, Suharto menegaskan bahwa penyandang disabilitas harus diposisikan sebagai warga negara dengan hak yang setara, yang dijamin melalui penghormatan terhadap martabat, kemandirian, partisipasi, dan kesempatan yang sama. Ia juga menyoroti bahwa ketidaksetaraan kesehatan dipengaruhi oleh stigma, diskriminasi, kemiskinan, eksklusi sosial, serta hambatan sistem pelayanan kesehatan, sehingga diperlukan implementasi kuat terhadap UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, terutama dalam penerapan standar layanan yang aksesibel dan akomodatif di fasilitas kesehatan.

Pada sesi berikutnya, Karlina Dewi Sukarno, S.IP., MPP. menjelaskan prinsip dan kebijakan pelayanan kesehatan inklusif yang menekankan bahwa layanan harus menjangkau penyandang disabilitas sepanjang siklus kehidupan, baik di tingkat pelayanan primer maupun rujukan. Hal ini mencakup kemampuan fasilitas kesehatan dalam mengenali kebutuhan pengguna layanan, menyediakan informasi yang mudah diakses, serta memastikan tidak adanya hambatan tambahan dalam proses pelayanan. Inklusivitas juga menuntut perbaikan menyeluruh yang tidak hanya terbatas pada aksesibilitas fisik, tetapi juga mencakup alur pendaftaran, mekanisme komunikasi, pendampingan, waktu pelayanan, media informasi, serta kemampuan tenaga kesehatan dalam berinteraksi secara sensitif. Penguatan kebijakan ini memiliki landasan hukum pada UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan PP Nomor 28 Tahun 2024, yang implementasinya perlu diterjemahkan ke dalam prosedur pelayanan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta evaluasi berkelanjutan agar inklusivitas terintegrasi dalam sistem kesehatan.

Sesi diskusi menggarisbawahi pentingnya menjembatani kebijakan dan praktik pelayanan. Pembahasan mengerucut pada kebutuhan untuk mengenali ragam hambatan yang dialami penyandang disabilitas ketika mengakses fasilitas kesehatan, menyediakan akomodasi yang sesuai kebutuhan, serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu berkomunikasi secara sensitif. Diskusi juga menempatkan koordinasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah, organisasi penyandang disabilitas, dan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses perbaikan layanan. Keterlibatan penyandang disabilitas diperlukan agar penyusunan kebijakan dan evaluasi pelayanan tidak hanya didasarkan pada asumsi penyedia layanan.

=&1=&

Pada hari kedua webinar peserta diajak untuk melihat bahwa inklusivitas dalam pelayanan kesehatan. Materi tidak hanya berkaitan dengan keberadaan kebijakan, tetapi juga bagaimana fasilitas kesehatan dirancang dan bagaimana informasi kesehatan dikomunikasikan kepada masyarakat.

Pada sesi pertama, Eko Harsono memaparkan bahwa aksesibilitas fasilitas kesehatan bagi penyandang disabilitas masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan ramp, toilet yang belum aksesibel, serta minimnya pelibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan dan pengembangan fasilitas. Untuk menjawab hal tersebut, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip desain universal yang memastikan sistem, produk, dan lingkungan dapat digunakan oleh semua orang tanpa memandang usia maupun kemampuan. Lebih lanjut, Eko menegaskan bahwa desain universal perlu diperkuat dengan desain inklusif yang melibatkan penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya sejak tahap perencanaan hingga evaluasi, dengan penekanan bahwa aksesibilitas tidak hanya mencakup infrastruktur fisik tetapi juga sistem pendaftaran, media informasi, tampilan website, alur pelayanan, dan SOP yang ramah pengguna, serta didukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan komunikasi dan pemahaman hak penyandang disabilitas.

Pada sesi berikutnya, Shita Listyadewi membahas pentingnya komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang inklusif dalam pelayanan kesehatan dengan menegaskan bahwa hambatan akses tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup keterbatasan komunikasi dan informasi yang dapat memengaruhi optimalnya pelayanan yang diterima penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa setiap ragam disabilitas memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda, sehingga diperlukan penyediaan berbagai media aksesibel seperti audio, Braille, teknologi pembaca layar, teks, bahasa isyarat, serta penyederhanaan bahasa bagi penyandang disabilitas intelektual, disertai perancangan materi KIE yang lebih representatif agar kelompok rentan merasa diakui sebagai bagian dari sasaran pelayanan kesehatan. Selain itu, Shita menekankan bahwa inklusivitas dapat diwujudkan melalui langkah sederhana seperti penggunaan bahasa yang mudah dipahami, ukuran huruf yang memadai, caption video, ilustrasi yang merepresentasikan keberagaman, serta pengembangan website yang aksesibel secara digital, mengingat penyandang disabilitas mencakup sekitar 6-10 persen populasi Indonesia sehingga komunikasi kesehatan inklusif harus menjadi bagian integral perencanaan layanan, dan seluruh diskusi menegaskan perlunya integrasi desain universal, desain inklusif, serta strategi komunikasi responsif agar layanan kesehatan benar-benar dapat diakses oleh semua orang.

=&2=&

Pada hari ketiga webinar, Eko Harsono dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM menyampaikan materi yang menekankan bahwa pelayanan inklusif tidak dapat diberikan dengan pendekatan yang seragam karena kebutuhan penyandang disabilitas berbeda. Sehingga, tenaga kesehatan perlu terlebih dahulu mengenali kebutuhan pengguna sebelum menentukan bentuk bantuan yang tepat. Dalam pemaparannya, Eko menekankan pentingnya interaksi yang sensitif yang diawali dengan penghormatan kepada penyandang disabilitas sebagai subjek pelayanan. Ia juga menjelaskan bahwa pelayanan inklusif membutuhkan penyesuaian metode komunikasi melalui penyediaan informasi yang mudah dipahami. Hal tersebut meliputi waktu komunikasi yang memadai, serta penggunaan media pendukung seperti bahasa sederhana, materi visual, tulisan, juru bahasa isyarat, dan akomodasi lain sesuai kebutuhan, termasuk penguatan kompetensi tenaga kesehatan dalam etika komunikasi serta penggunaan kosakata dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Dalam sesi diskusi, ditegaskan bahwa pelayanan inklusif harus diterapkan secara menyeluruh sejak pasien memasuki fasilitas kesehatan hingga selesai menerima layanan. Selain itu diperlukan adanya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan petugas lini depan, dengan pelibatan organisasi penyandang disabilitas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi agar layanan benar-benar sesuai kebutuhan pengguna.

Selama tiga hari, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep inklusi dan disabilitas, kebijakan pemenuhan hak, sarana prasarana yang aksesibel, komunikasi, informasi, dan edukasi yang inklusif, serta interaksi sensitif berdasarkan ragam disabilitas. Ringkasan materi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan inklusif perlu dibangun secara menyeluruh. Regulasi dan fasilitas fisik merupakan fondasi penting, tetapi kualitas pelayanan juga sangat ditentukan oleh sikap, cara berkomunikasi, dan kemampuan petugas dalam memahami kebutuhan setiap pasien.

Reporter:
Apt. Ahmad Naufal, S.Sos, MHPM dan dr. Garin Frige Janitra (PKMK UGM)

Pelatihan “Kupas Tuntas Peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit: Dari Pengalaman ke Pembelajaran”

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan pelatihan daring bertajuk “Kupas Tuntas Peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit: Dari Pengalaman ke Pembelajaran” pada 5 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.THTBKL dengan fasilitator Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CQIPS. Pelatihan diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai peran strategis Komite Mutu dan Keselamatan Pasien dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit.

Pada sesi pengantar, Eva menekankan bahwa peningkatan mutu merupakan investasi penting bagi rumah sakit. Mengutip pandangan Michael Porter dari Universitas Harvard, peningkatan mutu merupakan salah satu cara terbaik untuk menekan biaya pelayanan sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Pelayanan kesehatan yang bermutu harus efektif, aman, berfokus pada pasien, tepat waktu, adil, terintegrasi, dan efisien. Namun demikian, upaya peningkatan mutu masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perbedaan tingkat pengetahuan dan komitmen tenaga kesehatan, silo data, kompleksitas pelayanan, hingga keterbatasan sumber daya. Di sisi lain, keselamatan pasien juga dipengaruhi oleh komunikasi yang belum efektif, budaya menyalahkan, rendahnya pelaporan insiden, serta tingginya beban kerja tenaga kesehatan.

Dalam pemaparannya, dr. Mahatma menjelaskan bahwa peran Komite Mutu bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan regulasi dan akreditasi, melainkan juga memastikan budaya mutu tumbuh di seluruh unit pelayanan. Narasumber menekankan bahwa peningkatan mutu harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh tenaga kesehatan dan tidak boleh berhenti pada aktivitas administratif semata. Penguatan peran unit pelayanan sebagai pemilik proses mutu menjadi salah satu strategi penting agar program mutu dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pengelolaan keselamatan pasien dan insiden keselamatan pasien. Narasumber menjelaskan pentingnya membangun sistem pelaporan yang mendorong pembelajaran organisasi. Peserta memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis insiden keselamatan pasien, mekanisme pelaporan, proses investigasi sederhana maupun root cause analysis (RCA), hingga prinsip investigasi yang berfokus pada pencarian akar masalah dan solusi, bukan mencari pihak yang disalahkan. Pendekatan no blaming culture menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan untuk memperkuat budaya keselamatan pasien di rumah sakit.

Pada sesi berikutnya, peserta diajak memahami pemanfaatan indikator mutu sebagai alat pengambilan keputusan. Mahatma menjelaskan hubungan antara indikator mutu nasional, indikator prioritas rumah sakit, hingga indikator prioritas unit sebagai dasar pemantauan kinerja dan perbaikan pelayanan. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai manajemen risiko, mulai dari identifikasi risiko, analisis, evaluasi, hingga penyusunan register risiko sebagai bagian dari upaya pencegahan kejadian yang tidak diinginkan.

Pelatihan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, muncul berbagai pertanyaan terkait penyusunan rencana strategis mutu, pengelolaan keterbatasan sumber daya manusia, pelaksanaan investigasi insiden, pelaporan keselamatan pasien, hingga strategi menjaga keberlanjutan program mutu di tengah berbagai tantangan operasional rumah sakit. Narasumber menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan berbagi pengalaman praktis dari implementasi program mutu dan keselamatan pasien di Rumah Sakit Akademik UGM, sehingga peserta memperoleh gambaran nyata mengenai penerapan konsep mutu di lapangan.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, pengelolaan insiden yang berorientasi pada pembelajaran sistem, pemanfaatan indikator mutu, serta strategi penguatan budaya mutu dan keselamatan pasien. Diharapkan berbagai pengalaman dan praktik baik yang dibagikan selama pelatihan dapat menjadi inspirasi bagi rumah sakit dalam mewujudkan pelayanan yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.

 

Reporter:  Helen Anggraini Budiono

Reportase policy course | From Evidence to Action: The application of Health Technology Assessment, Priority Setting, and Strategic Purchasing for Population Health in enhancing Health System Performance and advancing Universal Health Coverage

Waktu

Kegiatan / Topik

Narasumber

Hari 1 – Rabu, 3 Juni 2026

08.30 – 09.00

Registrasi Peserta

09.00 – 09.15

  • Sambutan Pembukaan
  • Pengantar dan Struktur Pelatihan
  • Prof. Laksono Trisnantoro
    Guru Besar Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM
  • Prof. Yingyao Chen
    Direktur NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

09.15 – 10.00

Gambaran Umum Health Technology Assessment (HTA) dan Pengalaman Implementasinya di Tiongkok

MATERI

Prof. Yingyao Chen

10.00 – 11.00

Pengembangan Kebijakan Nasional Health Technology Assessment sebagai Dasar Pengambilan Keputusan: Pengalaman Indonesia

MATERI

Prof. Laksono Trisnantoro

11.00 – 11.30

Istirahat dan Jamuan Ringan

11.30 – 12.30

Pemanfaatan Health Technology Assessment untuk Meningkatkan Keadilan Sistem Kesehatan: Kebijakan, Tantangan, dan Pengalaman Program Universal Coverage Scheme di Thailand

MATERI

Prof. Siripen Supakankunti
Centre of Excellence for Health Economics, Fakultas Ekonomi, Universitas Chulalongkorn, Thailand.

12.30 – 14.00

Istirahat Makan Siang

14.00 – 15.00

Dari Bukti Ilmiah Menjadi Kebijakan: Pembelajaran dari Health Technology Assessment Vaksin di Indonesia untuk Mendukung Pengambilan Keputusan Program Imunisasi yang Berkelanjutan

MATERI

Prof. Jarir At Thobari
Departemen Farmakologi dan Terapi; Pusat Kajian Epidemiologi dan Biostatistik Kesehatan (CEBU); Pusat Kajian Kesehatan Anak (PKKA-PRO), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada; Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI); serta Indonesia Health Technology Assessment (Ina-HTA).

15.00 – 16.00

Peran Health Technology Assessment dalam Pengendalian Biaya dan Pembiayaan Kesehatan yang Strategis

MATERI

Prof. Sharifa Ezat Wan Puteh
Departemen Kedokteran Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia.

16.00 – 16.30

Istirahat dan Jamuan Ringan

16.30 – 17.30

Sintesis Bukti untuk Menilai Keamanan dan Efektivitas dalam HTA: Prinsip Meta-Analisis dan Praktik Penggunaan RevMan

MATERI

Prof. Madya Pei Wang
Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

Hari 2 – Kamis, 4 Juni 2026

09.00 – 10.00

Metode Evaluasi Ekonomi dalam Health Technology Assessment: Analisis Cost-Effectiveness dan Implementasinya Menggunakan Microsoft Excel

Prof. Madya Yan Wei
NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

10.00 – 11.00

Penetapan Prioritas dan Peran Strategis Health Technology Assessment

Prof. Madya Shimeng Liu
NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

11.00 – 11.15

Istirahat dan Jamuan Ringan

11.15 – 12.15

Metode Evaluasi Ekonomi dalam Health Technology Assessment: Analisis Dampak Anggaran (Budget Impact Analysis)

Prof. Min Hu
NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

12.15 – 13.30

Istirahat Makan Siang

13.30 – 14.15

Pembelian Strategis dalam Universal Coverage Scheme Thailand

Prof. Chantal Herberholz
Direktur Centre of Excellence for Health Economics, Fakultas Ekonomi, Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand.

14.15 – 15.00

Penetapan Prioritas Berbasis HTA untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

Prof. Eng-Kiong Yeoh
Direktur Centre for Health Systems and Policy Research, JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong.

15.00 – 15.45

Pembelian Strategis untuk Mendukung Pencapaian Universal Health Coverage dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat

Prof. Eng-Kiong Yeoh

15.45 – 16.15

Istirahat dan Jamuan Ringan

16.15 – 17.00

Diskusi dan Refleksi Pelatihan

Strategic Purchasing and Health Technology Assessment

PKMK-Shanghai. Dalam sambutannya, Prof. dr Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan ilmiah bertajuk “Dari Bukti ke Tindakan: Penerapan Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Asessment/ HTA), Penetapan Prioritas, dan Pembelian Strategis untuk Kesehatan Masyarakat dalam Meningkatkan Kinerja Sistem Kesehatan dan Memajukan Cakupan Kesehatan Universal.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jaringan Asia-Pasifik untuk Penguatan Sistem Kesehatan (ANHSS) bersama Fudan University, Tiongkok ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran, diskusi, dan pertukaran pengalaman antarnegara dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis bukti.  read more

Reportase Webinar Muscle is Medicine

Kamis, 04 Juni 2026 

Dalam beberapa tahun terakhir, latihan resistensi (resistance training) semakin diakui sebagai salah satu intervensi efektif dalam menjaga kesehatan metabolik, meningkatkan kapasitas fungsional, serta mencegah berbagai penyakit kronis. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh secara optimal apabila latihan dilakukan dengan prinsip biomekanika yang tepat dan memperhatikan aspek keselamatan. Kesalahan teknik, penggunaan beban yang tidak sesuai, serta kurangnya pemahaman mengenai mekanisme gerak tubuh masih menjadi penyebab utama cedera saat berolahraga. Menjawab tantangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI telah menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 3 bertajuk “Biomechanisms and Safety of Resistance Training” pada Kamis, 04 Juni 2026 pukul 13.00-16.00 WIB sebagai upaya meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip biomekanika serta keselamatan latihan resistensi berbasis sains.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Biomechanisms and Safety of Resistance Training.” Pada materi pertama, dr. Tanjung membahas mengenai Biomechanical Principles dan How Injuries Occur. Dalam paparannya dijelaskan bahwa biomekanika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana tubuh bergerak dan berinteraksi dengan gaya yang bekerja padanya selama aktivitas fisik. Pemahaman biomekanika menjadi dasar penting dalam latihan resistensi karena dapat membantu seseorang melakukan gerakan secara lebih efektif dan efisien. Dengan memahami prinsip-prinsip biomekanika, peserta dapat mengetahui bagaimana posisi tubuh, arah gerakan, dan distribusi beban memengaruhi kinerja otot sekaligus mengurangi risiko cedera.

Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa sebagian besar cedera saat latihan bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi kesalahan teknik, penggunaan beban yang tidak sesuai kapasitas, kurangnya pemanasan, atau latihan yang dilakukan secara berlebihan tanpa pemulihan yang memadai. Oleh karena itu, setiap individu perlu memahami batas kemampuan tubuhnya dan memastikan bahwa setiap gerakan dilakukan dengan teknik yang benar. Menurutnya, tujuan utama latihan bukan hanya meningkatkan performa fisik, tetapi juga menjaga fungsi tubuh dalam jangka panjang.

Pada sesi diskusi pertama, peserta aktif berdiskusi mengenai penerapan prinsip biomekanika dalam latihan beban sehari-hari. Pembahasan banyak berfokus pada posisi tubuh dan teknik gerakan yang tepat saat melakukan berbagai latihan resistensi, termasuk konsep scapular positioning dan pengaruhnya terhadap keamanan latihan. dr. Tanjung menjelaskan bahwa perkembangan ilmu latihan beban saat ini telah mengalami banyak perubahan dibandingkan pendekatan yang digunakan pada masa lalu. Jika sebelumnya banyak teknik latihan mengacu pada praktik binaraga yang berkembang berdasarkan pengalaman lapangan, saat ini semakin banyak penelitian ilmiah yang digunakan sebagai dasar penyusunan program latihan yang lebih aman dan efektif. Beberapa teknik yang dahulu dianggap umum ternyata diketahui dapat meningkatkan risiko cedera apabila tidak dilakukan dengan mempertimbangkan aspek biomekanika dan kondisi individu.

Diskusi juga membahas berbagai variasi latihan yang sering ditemui di pusat kebugaran, termasuk penggunaan alat seperti leg press dan pengaruh perubahan posisi tubuh terhadap kerja otot. dr. Tanjung menjelaskan bahwa perubahan sudut gerakan maupun posisi tubuh yang tampak kecil dapat menghasilkan aktivasi otot yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan teknik latihan perlu disesuaikan dengan tujuan latihan yang ingin dicapai, baik untuk meningkatkan kekuatan, massa otot, maupun fungsi gerak tertentu.

Pada materi kedua, dr. Tanjung membahas tentang The Point of Injury serta Breathing & Timing. Dalam sesi ini dijelaskan bahwa cedera sering kali terjadi pada titik tertentu ketika struktur tubuh menerima tekanan yang melebihi kapasitas adaptasinya. Risiko cedera dapat meningkat apabila seseorang melakukan gerakan dengan rentang gerak yang tidak tepat, kehilangan kontrol terhadap beban, atau memaksakan tubuh untuk berlatih melebihi kemampuan yang dimiliki. Karena itu, pemahaman mengenai titik-titik rawan cedera menjadi penting dalam penyusunan program latihan yang aman.

Narasumber juga menyoroti pentingnya pola pernapasan dan pengaturan waktu saat melakukan latihan resistensi. Teknik pernapasan yang benar membantu menjaga stabilitas tubuh, meningkatkan efisiensi gerakan, serta mengurangi tekanan berlebihan pada sistem kardiovaskular. dr. Tanjung menjelaskan bahwa sinkronisasi antara gerakan dan pernapasan sering kali diabaikan oleh banyak orang, padahal hal tersebut merupakan salah satu faktor yang berperan dalam keselamatan dan efektivitas latihan. Dengan pengaturan napas yang baik, tubuh dapat bekerja lebih optimal sekaligus meminimalkan risiko kelelahan dan cedera.

Pada materi ketiga, pembahasan difokuskan pada General Safety Guidelines for Exercise Programs, Shoulder Safety, Elbow Safety, Knee Safety, Back Safety, serta Cardiovascular Safety Guidelines. dr. Tanjung menjelaskan bahwa keselamatan merupakan komponen utama dalam setiap program latihan. Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan antara lain menggunakan pakaian dan perlengkapan yang sesuai, menjaga hidrasi tubuh, memahami lingkungan latihan, serta memastikan setiap alat digunakan dengan benar. Ia menegaskan bahwa olahraga yang aman harus dimulai dari kesadaran terhadap kondisi tubuh dan penerapan prinsip keselamatan secara konsisten.

Lebih lanjut, dr. Tanjung menguraikan berbagai aspek keselamatan pada bagian tubuh yang sering mengalami cedera saat latihan. Pada area bahu, peserta diingatkan untuk menghindari posisi yang dapat menekan rotator cuff. Pada lutut, penting menjaga agar arah gerakan lutut tetap sejalan dengan posisi jari kaki serta menghindari gerakan yang memberikan tekanan berlebihan pada sendi. Sementara pada punggung, posisi kepala, bahu, dan tulang belakang perlu dijaga tetap netral untuk mencegah cedera akibat postur yang salah. Webinar juga membahas keselamatan kardiovaskular, termasuk pentingnya mengenali faktor risiko penyakit jantung, mengatur intensitas latihan sesuai kemampuan individu, dan memperhatikan tanda-tanda tubuh yang menunjukkan adanya gangguan selama berolahraga.

Pada sesi diskusi kedua, peserta aktif membahas berbagai aspek keselamatan latihan resistensi, khususnya pada latihan yang melibatkan area bahu dan punggung. Diskusi berkembang pada berbagai variasi gerakan lat pulldown, penggunaan beban latihan yang sesuai kapasitas individu, serta pentingnya memahami stabilitas tubuh saat menggunakan berbagai jenis alat latihan. dr. Tanjung menekankan bahwa keamanan latihan tidak hanya ditentukan oleh jenis gerakan yang dilakukan, tetapi juga oleh teknik, mobilitas sendi, kemampuan tubuh, serta pemilihan beban yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Selain itu, peserta juga berdiskusi mengenai pemulihan setelah olahraga intensitas tinggi, penggunaan air dingin pasca latihan, serta berbagai pertimbangan kesehatan yang perlu diperhatikan sebelum menjalani program latihan jangka panjang. Dalam sesi ini, dr. Tanjung kembali menekankan pentingnya melakukan asesmen kondisi kesehatan, memahami keterbatasan tubuh masing-masing, dan menerapkan prinsip latihan secara bertahap agar manfaat latihan dapat diperoleh secara optimal dengan risiko cedera yang minimal.

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya penerapan prinsip biomekanika dan keselamatan dalam latihan resistensi. Tidak hanya berfokus pada peningkatan kekuatan dan massa otot, latihan resistensi juga perlu dilakukan dengan teknik yang benar, memperhatikan kondisi individu, serta menerapkan prinsip keselamatan berbasis sains untuk meminimalkan risiko cedera. Diharapkan, pengetahuan yang diperoleh dari webinar ini dapat menjadi bekal bagi tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, maupun masyarakat umum dalam merancang dan menerapkan program latihan yang aman, efektif, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup sepanjang usia. 

Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM