Pos oleh :

chsm

Diskusi Kebijakan untuk Peracikan Obat Modern di Apotik

Masyarakat     Inovasi     Lintas     Profesi–Sektor     Kesehatan     Indonesia     (MILP-SKI) menyelenggarakan Diskusi Kebijakan untuk Peracikan Obat Modern di Apotek (Pertemuan 1) dengan tema “The Future of Personalized Medicine: Advancing Compounding Standards for a Healthier Indonesia” secara hybrid pada Senin (22/6/2026). Diskusi ini menjadi forum awal untuk membahas peluang dan tantangan pengembangan kebijakan peracikan obat modern (pharmaceutical  compounding)  di  Indonesia  sebagai  bagian  dari  transformasi  sistem kesehatan dan penguatan layanan pengobatan yang lebih personal (personalized medicine). read more

Pelatihan “Strategi Deteksi Insiden dan Mengatasi Tantangan Klasik Keselamatan Pasien”

PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan pelatihan daring bertajuk “Strategi Deteksi Insiden dan Mengatasi Tantangan Klasik Keselamatan Pasien” pada Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan Inge Dhamanti, SKM, MKes, MPH, PhD, Ketua Center for Excellence for Patient Safety and Quality (CoE-PSQ), sebagai narasumber, dengan Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH., CQIPS sebagai fasilitator. Pelatihan dirancang untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami budaya keselamatan pasien, strategi deteksi insiden, serta penggunaan trigger tools sebagai pendekatan proaktif dalam menemukan kejadian yang berpotensi merugikan pasien. read more

Reportase Seri 5: Resistance Training Upper Body – Pull 

Kamis, 18 Juni 2026

Dalam dekade terakhir, pendekatan kesehatan global mulai bergeser dari paradigma disease-centered care menuju function-centered care, di mana massa otot rangka (skeletal muscle mass) semakin diakui sebagai salah satu determinan utama kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, dan kualitas hidup sepanjang usia. Otot rangka tidak lagi dipandang hanya sebagai organ penggerak tubuh, melainkan juga sebagai organ metabolik yang berperan dalam regulasi glukosa dan sensitivitas insulin, organ endokrin melalui sekresi myokines yang memengaruhi sistem imun dan inflamasi, reservoir protein yang mendukung proses pemulihan tubuh, serta faktor penting dalam menjaga kemandirian fungsional terutama pada populasi lanjut usia.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penurunan massa otot atau sarcopenia berkaitan erat dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, obesitas, sindrom metabolik, osteoporosis, hingga frailty syndrome. Oleh karena itu, latihan resistensi (resistance training) semakin mendapatkan pengakuan sebagai salah satu intervensi utama yang efektif dalam mempertahankan dan meningkatkan massa otot sekaligus mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Menjawab kebutuhan akan edukasi berbasis sains mengenai latihan resistensi, PKMK FK-KMK UGM bersama Fitness Professional Academy (FPA) dan didukung oleh HOPE Wellness from Bali Royal Hospital (HW-BRH), serta universitas mitra menyelenggarakan Webinar Muscle is Medicine Seri 5 bertajuk “Resistance Training Upper Body – Pull” pada Kamis, 18 Juni 2026 secara daring melalui zoom meeting. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip latihan resistensi berbasis bukti ilmiah untuk mendukung pencegahan dan manajemen berbagai penyakit kronis.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Resistance Training Upper Body – Pull”. Pada sesi pertama, dr. Tanjung membahas berbagai latihan yang berfokus pada kelompok otot punggung, yaitu Wide-Grip Vertical Pulldown, Chin-Up, Neutral-Grip Horizontal Row, dan Barbell Bent-Over Row. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa kelompok otot punggung memiliki peran penting dalam gerakan menarik (pull movement), menjaga postur tubuh, menstabilkan tulang belakang, serta mendukung berbagai aktivitas fungsional sehari-hari. Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar latihan tarikan vertikal dan horizontal yang bertujuan meningkatkan kekuatan, koordinasi, serta keseimbangan perkembangan otot tubuh bagian atas.

Selain membahas fungsi kelompok otot yang terlibat, dr. Tanjung menekankan pentingnya menjaga posisi tubuh yang stabil selama latihan. Aktivasi otot inti (core), kontrol gerakan, serta penggunaan rentang gerak yang sesuai menjadi faktor penting untuk memaksimalkan manfaat latihan sekaligus mengurangi risiko cedera. Peserta juga diajak memahami bahwa kualitas gerakan dan teknik yang benar lebih penting dibandingkan penggunaan beban yang terlalu berat.

Pada sesi kedua, pembahasan difokuskan pada latihan pendukung upper body pull yang melibatkan otot bahu belakang, trapezius, dan bisep melalui Dumbbell Rear Deltoid Fly, Dumbbell Trap Shrug, Dumbbell Biceps Curl, serta EZ Bar Biceps Curl. dr. Tanjung menjelaskan bahwa kelompok otot tersebut berperan penting dalam mendukung gerakan menarik, menjaga stabilitas bahu, serta meningkatkan kekuatan lengan atas. Penguatan otot-otot ini juga membantu menciptakan keseimbangan perkembangan tubuh bagian atas sehingga dapat menunjang performa latihan maupun aktivitas sehari-hari. Dalam sesi ini, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pemilihan beban yang sesuai, menjaga kontrol gerakan selama latihan, serta menghindari penggunaan momentum tubuh yang berlebihan. dr. Tanjung menegaskan bahwa latihan resistensi yang dilakukan secara konsisten, progresif, dan dengan teknik yang tepat akan memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan sekadar berfokus pada peningkatan beban latihan.

Setelah pemaparan materi, peserta menyaksikan video pembelajaran yang mendemonstrasikan langkah-langkah pelaksanaan berbagai latihan upper body pull yang telah dibahas selama webinar. Melalui video tersebut, peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai posisi tubuh yang tepat, teknik gerakan yang aman, serta aspek keselamatan yang perlu diperhatikan selama melakukan latihan resistensi. Video pembelajaran ini membantu peserta menghubungkan konsep teori dengan praktik sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dengan lebih mudah.

Pada sesi diskusi, peserta aktif membahas berbagai aspek praktis dalam penerapan latihan upper body pull. Pertanyaan yang diajukan mencakup fungsi berbagai kelompok otot punggung dan bahu, peran otot inti (core) dalam latihan resistensi, serta pemilihan jenis latihan yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing individu. dr. Tanjung menjelaskan bahwa hampir seluruh latihan resistensi melibatkan kerja otot inti sebagai penstabil tubuh, sehingga penting untuk memahami biomekanika gerakan agar latihan dapat dilakukan secara efektif dan aman.

Selain itu, peserta juga mendiskusikan penggunaan alat latihan, keterbatasan mobilitas bahu saat melakukan gerakan pull, serta pengaturan set dan repetisi bagi pemula. Dalam sesi ini ditekankan bahwa tidak terdapat satu pendekatan yang berlaku untuk semua orang karena kemampuan fisik, mobilitas, dan tujuan latihan setiap individu dapat berbeda. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mengombinasikan berbagai variasi gerakan pull untuk melatih kelompok otot secara lebih seimbang serta menyesuaikan program latihan dengan kebutuhan masing-masing.

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai prinsip latihan upper body pull yang melibatkan kelompok otot punggung, bahu belakang, trapezius, dan bisep sebagai komponen utama dalam gerakan menarik. Selain memahami fungsi anatomi dan biomekanika masing-masing kelompok otot, peserta juga mendapatkan wawasan mengenai teknik latihan yang aman, efektif, dan berbasis bukti ilmiah. Diharapkan pengetahuan yang diperoleh dapat mendukung tenaga kesehatan, praktisi kebugaran, akademisi, maupun masyarakat umum dalam menerapkan latihan resistensi secara tepat guna meningkatkan kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup secara berkelanjutan.

Reporter : Yuka Nabila Shauma – PKMK FK-KMK UGM

Reportase Seri 1e: Resume Prospek Asuransi Kesehatan Swasta untuk Pendanaan Kesehatan

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Bagian 1e dengan tema “Resume Prospek Askes Swasta untuk Pendanaan Kesehatan” secara daring pada Rabu (176/2026). Webinar ini membahas Resume 4 pertemuan sebelumnya dan prospek Askes Swasta untuk mendukung keberlanjutan Pendanaan Kesehatan di Indonesia. Kegiatan Webinar dipandu oleh Vini Aristianti, S.KM., MPH., AAK dengan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku narasumber, serta Dr. dr. Etίk Retno Wiyati, MARS, MH dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan selaku penangap.

Prof. Laksono menyampaikan resume dari keseluruhan rangkaian seri webinar termasuk kegiatan di Hong Kong (1 Juni 2026), dengan menyoroti kondisi sistem asuransi kesehatan di Indonesia yang menunjukkan anomali.  De-facto segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) menyerupai asuransi komersial dengan menawarkan tiga tingkatan kelas pelayanan, dan mempunyai gejala adverse selection. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan terkait peran JKN sebagai Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net). Sementara sektor asuransi kesehatan swasta tetap stagnan dengan claim ratio di atas 100% akibat kurangnya regulasi terintegrasi.

Dalam tanggapannya, Dr. dr. Etik Retno Wiyati selaku Sekretaris BKPK Kemenkes menekankan bahwa pengembangan asuransi kesehatan swasta (AKS) bukanlah upaya untuk melemahkan JKN, melainkan strategi untuk memperkuat ekosistem kesehatan.  JKN dengan BPJS sebagai pelaku utama tetap menjadi instrumen penting perlindungan sosial. Pemerintah juga tengah melakukan langkah strategis melalui revisi regulasi, termasuk penguatan koordinasi antar penyelenggara jaminan dan penyediaan ruang bagi asuransi tambahan untuk menekan biaya pribadi (out-of-pocket) serta memastikan kelompok masyarakat mampu ikut berkontribusi secara proporsional dalam kerangka Universal Health Coverage.

Sesi tanya jawab dalam webinar ini menyoroti urgensi reformasi regulasi pendanaan kesehatan, di mana para pakar seperti Pak Pandu Riono dan Pak Rimawan mendorong langkah revolusioner untuk “meluruskan” kebijakan yang dianggap tidak logis secara aktuarial, membebani fiskal negara dengan program yang tidak adil. Diskusi mempertegas perlunya penegasan peran 

BPJS sebagai jaring pengaman sosial (safety net) bagi masyarakat miskin read more

Seri 4: Resistance Training Upper Body – Push 

Kamis, 11 Juni 2026

Latihan resistensi telah berkembang menjadi salah satu pendekatan penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Tidak hanya berperan dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot, latihan resistensi juga terbukti mendukung kesehatan metabolik, menjaga kapasitas fungsional, serta membantu mencegah berbagai penyakit kronis. Namun demikian, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh secara optimal apabila latihan dilakukan dengan teknik yang benar dan pemahaman yang memadai mengenai fungsi setiap kelompok otot yang dilatih. Menjawab kebutuhan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 4 bertajuk “Resistance Training Upper Body – Push” pada Kamis, 11 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip latihan resistensi pada kelompok otot tubuh bagian atas yang berperan dalam gerakan mendorong (push movement) sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan fungsi tubuh secara optimal.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Resistance Training Upper Body – Push.” Pada materi pertama, dr. Tanjung membahas berbagai latihan yang berfokus pada kelompok otot dada (chest muscles), yaitu Barbell Bench Press, Push-Up, dan Dumbbell Chest Fly. Dalam paparannya dijelaskan bahwa otot dada memiliki peran penting dalam berbagai gerakan mendorong (pushing movements) yang sering dilakukan dalam aktivitas sehari-hari. Latihan pada kelompok otot ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kekuatan tubuh bagian atas, tetapi juga membantu menjaga stabilitas bahu serta mendukung kemampuan fungsional tubuh secara keseluruhan.

Selain menjelaskan fungsi anatomi otot dada, dr. Tanjung menekankan pentingnya teknik gerakan yang benar selama latihan. Posisi tubuh yang stabil, kontrol gerakan selama fase mengangkat maupun menurunkan beban, serta pengaturan pernapasan yang tepat menjadi faktor penting untuk mengoptimalkan aktivasi otot dan mengurangi risiko cedera. Menurutnya, keberhasilan latihan tidak hanya ditentukan oleh besarnya beban yang digunakan, tetapi juga oleh kualitas gerakan yang dilakukan sepanjang rentang gerak (range of motion) secara penuh.

Pada materi kedua, pembahasan difokuskan pada kelompok otot bahu melalui latihan Barbell Overhead Shoulder Press, Dumbbell Lateral Raise, dan Dumbbell Front Raise. dr. Tanjung menjelaskan bahwa otot deltoid terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian anterior, lateral, dan posterior yang memiliki fungsi berbeda dalam menggerakkan lengan. Oleh karena itu, variasi latihan diperlukan untuk memberikan stimulasi yang optimal pada masing-masing bagian otot bahu sehingga kekuatan dan stabilitas sendi bahu dapat berkembang secara seimbang.

Dalam sesi ini juga dibahas pentingnya menjaga postur tubuh saat melakukan latihan bahu. Pada gerakan overhead shoulder press, peserta diingatkan untuk menjaga posisi kepala dan tulang belakang tetap netral, mengaktifkan otot inti (core), serta menghindari kompensasi berupa lengkungan berlebihan pada punggung bawah saat mendorong beban ke atas. Sementara pada latihan lateral raise dan front raise, gerakan harus dilakukan secara perlahan dan terkontrol agar otot deltoid bekerja secara maksimal tanpa memanfaatkan momentum tubuh. dr. Tanjung menekankan bahwa penggunaan beban yang terlalu berat justru dapat mengurangi efektivitas latihan dan meningkatkan risiko cedera pada bahu.

Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa setiap alat latihan memberikan karakteristik resistensi yang berbeda. Dumbbell memberikan tantangan terbesar pada bagian bawah rentang gerak karena dipengaruhi gravitasi, resistance band menghasilkan resistensi yang semakin besar ketika diregangkan, sedangkan cable machine cenderung memberikan resistensi yang lebih konstan sepanjang gerakan. Pemahaman terhadap karakteristik alat ini penting agar peserta dapat memilih metode latihan yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing.

Pada materi ketiga, dr. Tanjung membahas latihan yang berfokus pada otot trisep melalui gerakan Unilateral Cross-Body Triceps Extension dan Rope Triceps Pushdown. Dijelaskan bahwa otot trisep merupakan kelompok otot utama yang berperan dalam gerakan meluruskan siku (elbow extension) dan memiliki kontribusi besar dalam hampir seluruh gerakan push. Oleh karena itu, penguatan otot trisep menjadi bagian penting dalam meningkatkan performa latihan tubuh bagian atas secara keseluruhan.

Dalam pemaparannya, dr. Tanjung menekankan bahwa latihan trisep memerlukan stabilitas tubuh yang baik serta kontrol gerakan yang konsisten. Pada latihan cross-body triceps extension, peserta diajarkan untuk menjaga agar gerakan hanya terjadi pada sendi siku tanpa melibatkan bahu secara berlebihan. Sementara pada rope triceps pushdown, posisi tubuh harus tetap tegak dan stabil agar otot trisep menjadi kelompok otot utama yang bekerja. Ia mengingatkan bahwa kesalahan teknik seperti mengayunkan tubuh atau membiarkan bahu ikut bergerak dapat mengurangi efektivitas latihan sekaligus meningkatkan risiko cedera.

Setelah pemaparan materi, peserta menyaksikan video pembelajaran yang mendemonstrasikan langkah-langkah pelaksanaan berbagai latihan upper body push yang telah dibahas, mulai dari Barbell Bench Press, Push-Up, Dumbbell Chest Fly, Barbell Overhead Shoulder Press, Dumbbell Lateral Raise, Dumbbell Front Raise, hingga berbagai variasi latihan trisep. Melalui video tersebut, peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai teknik gerakan, posisi tubuh yang tepat, serta aspek keselamatan yang perlu diperhatikan selama latihan.

Pada sesi diskusi, peserta aktif membahas berbagai aspek praktis dalam penerapan latihan resistensi untuk tubuh bagian atas. Diskusi banyak berfokus pada penentuan beban latihan yang sesuai bagi pemula, pentingnya menyesuaikan program latihan dengan usia, kapasitas fisik, dan tujuan masing-masing individu, serta prinsip progresivitas dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot. dr. Tanjung menjelaskan bahwa tidak terdapat satu standar beban yang berlaku untuk semua orang karena kemampuan dan adaptasi setiap individu dapat berbeda-beda.

Selain itu, peserta juga mendiskusikan teknik pelaksanaan berbagai latihan upper body push, termasuk posisi tubuh yang tepat saat melakukan shoulder press, variasi sudut latihan, aktivasi kelompok otot tertentu, serta perbedaan penggunaan alat dan media latihan. Pembahasan juga mencakup strategi pengembangan kelompok otot yang masih lemah atau kurang berkembang, pengaturan volume latihan per kelompok otot, frekuensi latihan untuk mendukung hipertrofi, serta pentingnya memahami biomekanika gerakan agar latihan dapat dilakukan secara efektif dan aman. Melalui diskusi ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan latihan tidak hanya ditentukan oleh intensitas latihan, tetapi juga oleh kualitas teknik, konsistensi latihan, dan kemampuan menyesuaikan program dengan kondisi masing-masing individu.

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai prinsip latihan upper body push yang melibatkan otot dada, bahu, dan trisep sebagai komponen utama dalam gerakan mendorong. Selain memahami fungsi anatomi dan biomekanika setiap kelompok otot, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai teknik latihan yang aman, efektif, dan berbasis sains. Diharapkan materi yang diperoleh dapat membantu tenaga kesehatan, praktisi kebugaran, maupun masyarakat umum dalam menerapkan latihan resistensi secara tepat untuk meningkatkan kekuatan, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup secara berkelanjutan.

Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM