Selasa, 26 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan kesehatan global mulai mengalami pergeseran dari disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) tidak lagi dipandang hanya sebagai alat gerak tubuh, tetapi juga sebagai komponen penting yang berperan dalam kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Menjawab perkembangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 2 bertajuk “Physiology & Principles of Resistance Training” sebagai upaya edukasi multidisiplin berbasis sains untuk tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, serta masyarakat umum dalam memahami pentingnya latihan resistensi sebagai strategi preventif dan terapeutik pada berbagai penyakit kronis.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Physiology & Principles of Resistance Training.” Pada materi pertama, dr. Tanjung membahas mengenai Gender and Endocrine Systems serta Characteristics of Skeletal Muscle Fibre Type. Dalam paparannya dijelaskan bahwa respon tubuh terhadap latihan dipengaruhi oleh sistem hormonal dan karakteristik serat otot yang dimiliki setiap individu. Otot terdiri dari beberapa tipe serat dengan fungsi yang berbeda, mulai dari slow-twitch fibers yang dominan pada aktivitas daya tahan hingga fast-twitch fibers yang berperan pada aktivitas kekuatan dan eksplosif. Narasumber juga menjelaskan bahwa tubuh akan merekrut jenis serat otot tertentu sesuai intensitas latihan yang dilakukan, sehingga pemahaman mengenai fisiologi otot menjadi penting dalam penyusunan program latihan yang efektif.
Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa faktor jenis kelamin dan sistem endokrin turut mempengaruhi kemampuan tubuh dalam membangun massa otot, proses pemulihan, hingga adaptasi terhadap latihan. Perbedaan hormon seperti testosteron, estrogen, dan hormon pertumbuhan menyebabkan respons latihan pada laki-laki dan perempuan dapat berbeda. Namun demikian, ia menekankan bahwa latihan resistensi tetap memberikan manfaat besar bagi semua kelompok usia dan jenis kelamin apabila dilakukan sesuai kapasitas tubuh dan prinsip latihan yang benar.
Pada materi kedua, dr. Tanjung membahas tentang Somatotypes, Concentric & Eccentric Contraction, serta How Muscles Grow. Dijelaskan bahwa setiap individu memiliki karakteristik bentuk tubuh (somatotype) yang dapat mempengaruhi respon latihan dan perkembangan massa otot. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada jenis kontraksi otot, yaitu kontraksi konsentrik dan eksentrik, yang memiliki fungsi berbeda dalam latihan resistensi. Kontraksi eksentrik dijelaskan memiliki peran penting dalam peningkatan kekuatan, hipertrofi otot, rehabilitasi cedera, hingga pencegahan jatuh pada lansia. Sementara, proses pertumbuhan otot (muscle hypertrophy) terjadi melalui kombinasi mechanical tension, metabolic stress, dan muscle damage yang kemudian diikuti proses pemulihan dan adaptasi tubuh. dr. Tanjung menekankan bahwa recovery menjadi bagian penting dalam pembentukan otot karena tanpa waktu pemulihan yang cukup, tubuh tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan membangun kembali serat otot yang mengalami kerusakan selama latihan.
Dalam sesi ini juga dijelaskan bahwa pertumbuhan otot tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses biologis yang kompleks. Saat latihan dilakukan, tubuh mengalami stres mekanik yang memicu aktivasi satellite cells untuk membantu proses perbaikan dan pembentukan jaringan otot baru. dr. Tanjung juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara latihan, nutrisi, dan waktu istirahat agar proses sintesis protein otot dapat berlangsung optimal. Menurutnya, banyak individu terlalu fokus pada intensitas latihan namun mengabaikan pemulihan, padahal fase pemulihan merupakan bagian utama dari proses adaptasi tubuh terhadap latihan resistensi.
Pada sesi diskusi pertama, peserta membahas perbedaan antara physical activity dan exercise. dr. Tanjung menjelaskan bahwa physical activity mencakup seluruh aktivitas yang menggerakkan otot tubuh, sedangkan exercise merupakan aktivitas yang dilakukan secara terencana dengan tujuan tertentu seperti meningkatkan massa otot atau kebugaran. Aktivitas kerja berat seperti kuli bangunan juga dapat memberikan efek mirip resistance training karena tubuh beradaptasi terhadap beban kerja yang dilakukan terus-menerus.
Diskusi juga membahas latihan full body seperti yoga dan kalistenik yang tetap dapat membantu membangun otot apabila dilakukan dengan intensitas, progresivitas, dan pemulihan yang tepat. Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa wanita menopause tetap dapat meningkatkan massa otot melalui latihan resistensi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh dan diawali assessment yang baik agar tidak menimbulkan nyeri.
Pada materi ketiga, pembahasan difokuskan pada prinsip dasar latihan resistensi berbasis sains yaitu SAID Principle, Gradual Progressive Overload (GPO), dan FITT Principle. dr. Tanjung menjelaskan bahwa tubuh akan beradaptasi secara spesifik terhadap stimulus latihan yang diberikan, sehingga program latihan harus disesuaikan dengan tujuan individu, baik untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, maupun kesehatan metabolik. Prinsip Gradual Progressive Overload dijelaskan sebagai peningkatan beban latihan secara bertahap agar tubuh mampu beradaptasi tanpa meningkatkan risiko cedera atau overtraining. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada konsep FITT Principle yang meliputi frequency, intensity, time, dan type sebagai dasar penyusunan program latihan yang aman, efektif, dan berkelanjutan. Dalam sesi ini, dr. Tanjung juga menekankan bahwa manfaat kesehatan dari olahraga rutin sebenarnya mulai muncul lebih cepat dibandingkan perubahan fisik yang terlihat secara langsung, sehingga konsistensi menjadi faktor utama dalam latihan jangka panjang.
Lebih lanjut, dr. Tanjung menjelaskan bahwa setiap program latihan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu. Peningkatan intensitas latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap karena stimulus latihan yang terlalu berat tanpa pemulihan yang cukup dapat meningkatkan risiko cedera dan memperpanjang waktu pemulihan tubuh. Ia juga menekankan bahwa perubahan positif dari latihan rutin tidak selalu langsung terlihat dari penampilan fisik atau penurunan berat badan, namun berbagai manfaat kesehatan metabolik seperti perbaikan tekanan darah, sensitivitas insulin, dan kesehatan jantung sebenarnya sudah mulai terjadi sejak seseorang konsisten melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Pada sesi diskusi kedua, peserta membahas penerapan progressive overload dalam latihan resistensi. dr. Tanjung menjelaskan bahwa peningkatan latihan dapat dilakukan secara bertahap melalui penambahan repetisi, set, maupun beban agar tubuh mampu beradaptasi dengan aman. Diskusi juga membahas cara menentukan beban latihan selain metode 1RM, yaitu dengan melihat kemampuan tubuh, kualitas gerakan, dan respons individu saat latihan. Selain itu, dijelaskan bahwa perbedaan alat latihan, sudut gerak, dan mekanisme mesin dapat memengaruhi sensasi berat meskipun angka bebannya sama. Faktor recovery tubuh juga dipengaruhi oleh tipe tubuh, pengalaman latihan, nutrisi, dan adaptasi fisiologis masing-masing individu.
Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa latihan resistensi tidak hanya berperan dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan metabolik, fungsi tubuh, serta kualitas hidup secara menyeluruh. Pemahaman mengenai fisiologi otot, prinsip latihan berbasis sains, serta pentingnya pemulihan diharapkan dapat membantu masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menerapkan exercise yang aman, efektif, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif terhadap berbagai penyakit kronis.
Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM