Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Seri 4: Resistance Training Upper Body – Push 

Kamis, 11 Juni 2026

Latihan resistensi telah berkembang menjadi salah satu pendekatan penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Tidak hanya berperan dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot, latihan resistensi juga terbukti mendukung kesehatan metabolik, menjaga kapasitas fungsional, serta membantu mencegah berbagai penyakit kronis. Namun demikian, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh secara optimal apabila latihan dilakukan dengan teknik yang benar dan pemahaman yang memadai mengenai fungsi setiap kelompok otot yang dilatih. Menjawab kebutuhan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 4 bertajuk “Resistance Training Upper Body – Push” pada Kamis, 11 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip latihan resistensi pada kelompok otot tubuh bagian atas yang berperan dalam gerakan mendorong (push movement) sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan fungsi tubuh secara optimal. read more

Reportase policy course | From Evidence to Action: The application of Health Technology Assessment, Priority Setting, and Strategic Purchasing for Population Health in enhancing Health System Performance and advancing Universal Health Coverage

Waktu

Kegiatan / Topik

Narasumber

Hari 1 – Rabu, 3 Juni 2026

08.30 – 09.00

Registrasi Peserta

09.00 – 09.15

  • Sambutan Pembukaan
  • Pengantar dan Struktur Pelatihan
  • Prof. Laksono Trisnantoro
    Guru Besar Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM
  • Prof. Yingyao Chen
    Direktur NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

09.15 – 10.00

Gambaran Umum Health Technology Assessment (HTA) dan Pengalaman Implementasinya di Tiongkok

MATERI

Prof. Yingyao Chen

10.00 – 11.00

Pengembangan Kebijakan Nasional Health Technology Assessment sebagai Dasar Pengambilan Keputusan: Pengalaman Indonesia

MATERI

Prof. Laksono Trisnantoro

11.00 – 11.30

Istirahat dan Jamuan Ringan

11.30 – 12.30

Pemanfaatan Health Technology Assessment untuk Meningkatkan Keadilan Sistem Kesehatan: Kebijakan, Tantangan, dan Pengalaman Program Universal Coverage Scheme di Thailand

MATERI

Prof. Siripen Supakankunti
Centre of Excellence for Health Economics, Fakultas Ekonomi, Universitas Chulalongkorn, Thailand.

12.30 – 14.00

Istirahat Makan Siang

14.00 – 15.00

Dari Bukti Ilmiah Menjadi Kebijakan: Pembelajaran dari Health Technology Assessment Vaksin di Indonesia untuk Mendukung Pengambilan Keputusan Program Imunisasi yang Berkelanjutan

MATERI

Prof. Jarir At Thobari
Departemen Farmakologi dan Terapi; Pusat Kajian Epidemiologi dan Biostatistik Kesehatan (CEBU); Pusat Kajian Kesehatan Anak (PKKA-PRO), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada; Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI); serta Indonesia Health Technology Assessment (Ina-HTA).

15.00 – 16.00

Peran Health Technology Assessment dalam Pengendalian Biaya dan Pembiayaan Kesehatan yang Strategis

MATERI

Prof. Sharifa Ezat Wan Puteh
Departemen Kedokteran Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia.

16.00 – 16.30

Istirahat dan Jamuan Ringan

16.30 – 17.30

Sintesis Bukti untuk Menilai Keamanan dan Efektivitas dalam HTA: Prinsip Meta-Analisis dan Praktik Penggunaan RevMan

MATERI

Prof. Madya Pei Wang
Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

Hari 2 – Kamis, 4 Juni 2026

09.00 – 10.00

Metode Evaluasi Ekonomi dalam Health Technology Assessment: Analisis Cost-Effectiveness dan Implementasinya Menggunakan Microsoft Excel

Prof. Madya Yan Wei
NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

10.00 – 11.00

Penetapan Prioritas dan Peran Strategis Health Technology Assessment

Prof. Madya Shimeng Liu
NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

11.00 – 11.15

Istirahat dan Jamuan Ringan

11.15 – 12.15

Metode Evaluasi Ekonomi dalam Health Technology Assessment: Analisis Dampak Anggaran (Budget Impact Analysis)

Prof. Min Hu
NHC Key Laboratory of Health Technology Assessment, Universitas Fudan, Shanghai, Tiongkok.

12.15 – 13.30

Istirahat Makan Siang

13.30 – 14.15

Pembelian Strategis dalam Universal Coverage Scheme Thailand

Prof. Chantal Herberholz
Direktur Centre of Excellence for Health Economics, Fakultas Ekonomi, Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand.

14.15 – 15.00

Penetapan Prioritas Berbasis HTA untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

Prof. Eng-Kiong Yeoh
Direktur Centre for Health Systems and Policy Research, JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong.

15.00 – 15.45

Pembelian Strategis untuk Mendukung Pencapaian Universal Health Coverage dan Peningkatan Kesehatan Masyarakat

Prof. Eng-Kiong Yeoh

15.45 – 16.15

Istirahat dan Jamuan Ringan

16.15 – 17.00

Diskusi dan Refleksi Pelatihan

Strategic Purchasing and Health Technology Assessment

PKMK-Shanghai. Dalam sambutannya, Prof. dr Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan ilmiah bertajuk “Dari Bukti ke Tindakan: Penerapan Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Asessment/ HTA), Penetapan Prioritas, dan Pembelian Strategis untuk Kesehatan Masyarakat dalam Meningkatkan Kinerja Sistem Kesehatan dan Memajukan Cakupan Kesehatan Universal.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jaringan Asia-Pasifik untuk Penguatan Sistem Kesehatan (ANHSS) bersama Fudan University, Tiongkok ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran, diskusi, dan pertukaran pengalaman antarnegara dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis bukti.  read more

Reportase Webinar Muscle is Medicine

Kamis, 04 Juni 2026 

Dalam beberapa tahun terakhir, latihan resistensi (resistance training) semakin diakui sebagai salah satu intervensi efektif dalam menjaga kesehatan metabolik, meningkatkan kapasitas fungsional, serta mencegah berbagai penyakit kronis. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh secara optimal apabila latihan dilakukan dengan prinsip biomekanika yang tepat dan memperhatikan aspek keselamatan. Kesalahan teknik, penggunaan beban yang tidak sesuai, serta kurangnya pemahaman mengenai mekanisme gerak tubuh masih menjadi penyebab utama cedera saat berolahraga. Menjawab tantangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI telah menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 3 bertajuk “Biomechanisms and Safety of Resistance Training” pada Kamis, 04 Juni 2026 pukul 13.00-16.00 WIB sebagai upaya meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, dan masyarakat umum mengenai prinsip biomekanika serta keselamatan latihan resistensi berbasis sains.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Biomechanisms and Safety of Resistance Training.” Pada materi pertama, dr. Tanjung membahas mengenai Biomechanical Principles dan How Injuries Occur. Dalam paparannya dijelaskan bahwa biomekanika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana tubuh bergerak dan berinteraksi dengan gaya yang bekerja padanya selama aktivitas fisik. Pemahaman biomekanika menjadi dasar penting dalam latihan resistensi karena dapat membantu seseorang melakukan gerakan secara lebih efektif dan efisien. Dengan memahami prinsip-prinsip biomekanika, peserta dapat mengetahui bagaimana posisi tubuh, arah gerakan, dan distribusi beban memengaruhi kinerja otot sekaligus mengurangi risiko cedera.

Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa sebagian besar cedera saat latihan bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi kesalahan teknik, penggunaan beban yang tidak sesuai kapasitas, kurangnya pemanasan, atau latihan yang dilakukan secara berlebihan tanpa pemulihan yang memadai. Oleh karena itu, setiap individu perlu memahami batas kemampuan tubuhnya dan memastikan bahwa setiap gerakan dilakukan dengan teknik yang benar. Menurutnya, tujuan utama latihan bukan hanya meningkatkan performa fisik, tetapi juga menjaga fungsi tubuh dalam jangka panjang.

Pada sesi diskusi pertama, peserta aktif berdiskusi mengenai penerapan prinsip biomekanika dalam latihan beban sehari-hari. Pembahasan banyak berfokus pada posisi tubuh dan teknik gerakan yang tepat saat melakukan berbagai latihan resistensi, termasuk konsep scapular positioning dan pengaruhnya terhadap keamanan latihan. dr. Tanjung menjelaskan bahwa perkembangan ilmu latihan beban saat ini telah mengalami banyak perubahan dibandingkan pendekatan yang digunakan pada masa lalu. Jika sebelumnya banyak teknik latihan mengacu pada praktik binaraga yang berkembang berdasarkan pengalaman lapangan, saat ini semakin banyak penelitian ilmiah yang digunakan sebagai dasar penyusunan program latihan yang lebih aman dan efektif. Beberapa teknik yang dahulu dianggap umum ternyata diketahui dapat meningkatkan risiko cedera apabila tidak dilakukan dengan mempertimbangkan aspek biomekanika dan kondisi individu.

Diskusi juga membahas berbagai variasi latihan yang sering ditemui di pusat kebugaran, termasuk penggunaan alat seperti leg press dan pengaruh perubahan posisi tubuh terhadap kerja otot. dr. Tanjung menjelaskan bahwa perubahan sudut gerakan maupun posisi tubuh yang tampak kecil dapat menghasilkan aktivasi otot yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan teknik latihan perlu disesuaikan dengan tujuan latihan yang ingin dicapai, baik untuk meningkatkan kekuatan, massa otot, maupun fungsi gerak tertentu.

Pada materi kedua, dr. Tanjung membahas tentang The Point of Injury serta Breathing & Timing. Dalam sesi ini dijelaskan bahwa cedera sering kali terjadi pada titik tertentu ketika struktur tubuh menerima tekanan yang melebihi kapasitas adaptasinya. Risiko cedera dapat meningkat apabila seseorang melakukan gerakan dengan rentang gerak yang tidak tepat, kehilangan kontrol terhadap beban, atau memaksakan tubuh untuk berlatih melebihi kemampuan yang dimiliki. Karena itu, pemahaman mengenai titik-titik rawan cedera menjadi penting dalam penyusunan program latihan yang aman.

Narasumber juga menyoroti pentingnya pola pernapasan dan pengaturan waktu saat melakukan latihan resistensi. Teknik pernapasan yang benar membantu menjaga stabilitas tubuh, meningkatkan efisiensi gerakan, serta mengurangi tekanan berlebihan pada sistem kardiovaskular. dr. Tanjung menjelaskan bahwa sinkronisasi antara gerakan dan pernapasan sering kali diabaikan oleh banyak orang, padahal hal tersebut merupakan salah satu faktor yang berperan dalam keselamatan dan efektivitas latihan. Dengan pengaturan napas yang baik, tubuh dapat bekerja lebih optimal sekaligus meminimalkan risiko kelelahan dan cedera.

Pada materi ketiga, pembahasan difokuskan pada General Safety Guidelines for Exercise Programs, Shoulder Safety, Elbow Safety, Knee Safety, Back Safety, serta Cardiovascular Safety Guidelines. dr. Tanjung menjelaskan bahwa keselamatan merupakan komponen utama dalam setiap program latihan. Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan antara lain menggunakan pakaian dan perlengkapan yang sesuai, menjaga hidrasi tubuh, memahami lingkungan latihan, serta memastikan setiap alat digunakan dengan benar. Ia menegaskan bahwa olahraga yang aman harus dimulai dari kesadaran terhadap kondisi tubuh dan penerapan prinsip keselamatan secara konsisten.

Lebih lanjut, dr. Tanjung menguraikan berbagai aspek keselamatan pada bagian tubuh yang sering mengalami cedera saat latihan. Pada area bahu, peserta diingatkan untuk menghindari posisi yang dapat menekan rotator cuff. Pada lutut, penting menjaga agar arah gerakan lutut tetap sejalan dengan posisi jari kaki serta menghindari gerakan yang memberikan tekanan berlebihan pada sendi. Sementara pada punggung, posisi kepala, bahu, dan tulang belakang perlu dijaga tetap netral untuk mencegah cedera akibat postur yang salah. Webinar juga membahas keselamatan kardiovaskular, termasuk pentingnya mengenali faktor risiko penyakit jantung, mengatur intensitas latihan sesuai kemampuan individu, dan memperhatikan tanda-tanda tubuh yang menunjukkan adanya gangguan selama berolahraga.

Pada sesi diskusi kedua, peserta aktif membahas berbagai aspek keselamatan latihan resistensi, khususnya pada latihan yang melibatkan area bahu dan punggung. Diskusi berkembang pada berbagai variasi gerakan lat pulldown, penggunaan beban latihan yang sesuai kapasitas individu, serta pentingnya memahami stabilitas tubuh saat menggunakan berbagai jenis alat latihan. dr. Tanjung menekankan bahwa keamanan latihan tidak hanya ditentukan oleh jenis gerakan yang dilakukan, tetapi juga oleh teknik, mobilitas sendi, kemampuan tubuh, serta pemilihan beban yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Selain itu, peserta juga berdiskusi mengenai pemulihan setelah olahraga intensitas tinggi, penggunaan air dingin pasca latihan, serta berbagai pertimbangan kesehatan yang perlu diperhatikan sebelum menjalani program latihan jangka panjang. Dalam sesi ini, dr. Tanjung kembali menekankan pentingnya melakukan asesmen kondisi kesehatan, memahami keterbatasan tubuh masing-masing, dan menerapkan prinsip latihan secara bertahap agar manfaat latihan dapat diperoleh secara optimal dengan risiko cedera yang minimal.

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya penerapan prinsip biomekanika dan keselamatan dalam latihan resistensi. Tidak hanya berfokus pada peningkatan kekuatan dan massa otot, latihan resistensi juga perlu dilakukan dengan teknik yang benar, memperhatikan kondisi individu, serta menerapkan prinsip keselamatan berbasis sains untuk meminimalkan risiko cedera. Diharapkan, pengetahuan yang diperoleh dari webinar ini dapat menjadi bekal bagi tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, maupun masyarakat umum dalam merancang dan menerapkan program latihan yang aman, efektif, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup sepanjang usia. 

Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM

Reportase “Webinar Series Resiliensi Fasilitas Kesehatan: Membangun Kesiapsiagaan Operasional dalam Menghadapi Krisis Kesehatan Seri 2: Struktur Organisasi dan Uji Aktivasi Sistem”

2 Juni 2026

 webinar series2 resiliensi 1

Dok. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

PKMK-Yogyakarta-Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Webinar Series Resiliensi Fasilitas Kesehatan Seri 2 dengan tema “Struktur Organisasi dan Uji Aktivasi Sistem” pada Selasa (2/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana dan krisis kesehatan. Webinar menghadirkan tiga narasumber yang membahas aspek penting dalam membangun kesiapsiagaan operasional rumah sakit, mulai dari struktur organisasi saat bencana, pembentukan Emergency Medical Team (EMT), hingga perencanaan simulasi bencana dan krisis kesehatan.

webinar series2 resiliensi 2

Materi pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes yang membahas struktur organisasi saat bencana melalui pendekatan Incident Command System (ICS). Dalam paparannya dijelaskan bahwa kondisi kedaruratan tidak dapat ditangani menggunakan pola birokrasi rutin karena membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat, koordinasi yang jelas, serta pembagian tugas berdasarkan fungsi. Sistem Komando Insiden menjadi solusi untuk mengintegrasikan berbagai sumber daya rumah sakit ke dalam lima fungsi utama, yaitu komando, operasional, perencanaan, logistik, serta keuangan dan administrasi. Penerapan ICS diharapkan mampu meningkatkan efektivitas koordinasi dan mempercepat respons rumah sakit dalam situasi krisis.

webinar series2 resiliensi 3

Pada sesi kedua, dr. Corona Rintawan, Sp.EM memaparkan proses pembentukan Emergency Medical Team (EMT) di fasilitas pelayanan kesehatan. EMT dijelaskan sebagai tim kesehatan multidisiplin yang terorganisir, terlatih, mandiri, serta dapat dimobilisasi secara cepat untuk memberikan pelayanan kesehatan pada saat terjadi bencana maupun krisis kesehatan. Narasumber menekankan pentingnya komitmen pimpinan, pengembangan sumber daya manusia, penyusunan standar operasional prosedur, penguatan logistik, serta pelaksanaan pelatihan dan simulasi secara berkelanjutan. Selain itu, EMT juga harus terintegrasi dengan sistem krisis kesehatan nasional agar mampu memberikan respons yang efektif dan sesuai standar nasional maupun internasional.

webinar series2 resiliensi 4

Materi ketiga disampaikan oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid yang mengulas perencanaan simulasi bencana dan krisis kesehatan sebagai bagian penting dari implementasi Hospital Disaster Plan (HDP). Simulasi dipandang sebagai sarana untuk menguji kesiapan organisasi, kemampuan personel, efektivitas koordinasi, serta kelayakan prosedur yang telah disusun. Narasumber menjelaskan berbagai bentuk simulasi, mulai dari table top exercise, command post exercise, hingga full scale exercise, yang dapat dipilih sesuai tujuan dan kapasitas fasilitas kesehatan. Penyusunan skenario yang realistis, alur respons yang jelas, serta mekanisme evaluasi menjadi komponen penting dalam memastikan simulasi memberikan manfaat optimal bagi peningkatan kesiapsiagaan.

Diskusi yang berlangsung dalam webinar menunjukkan bahwa kesiapsiagaan fasilitas kesehatan bukan hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, melainkan juga pada kualitas tata kelola, koordinasi lintas fungsi, serta kompetensi sumber daya manusia. Struktur organisasi yang adaptif, keberadaan EMT yang siap dimobilisasi, dan simulasi yang dilakukan secara berkala merupakan elemen yang saling melengkapi dalam membangun ketangguhan sistem pelayanan kesehatan menghadapi berbagai ancaman bencana dan krisis.

Melalui penyelenggaraan webinar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya membangun sistem kesiapsiagaan operasional yang terintegrasi di fasilitas kesehatan. Diharapkan pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan oleh para narasumber dapat menjadi referensi bagi rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam memperkuat kapasitas respons, meningkatkan resiliensi organisasi, serta menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan pada saat terjadi bencana maupun krisis kesehatan di masa depan.

 

Reporter: Vina Yulia Anhar, SKM, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM)

 

 

Reportase Regional Knowledge Event Private Health Insurance (PHI) for Sustainable Health Financing to Advance Universal Health Coverage (UHC)

Hong Kong, 1 June 2026
  Pembukaan Diskusi Panel 1 Diskusi Panel 2 Buku Program Kesimpulan Pembukaan

Ketua ANHSS – Prof dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Prof Laksono membuka Regional Knowledge Event yang bertajuk “Asuransi Kesehatan Swasta (untuk Pembiayaan Kesehatan yang Berkelanjutan demi Memajukan Cakupan Kesehatan Semesta (UHC)” di Hongkong (1/6/2026). Acara ini diselenggarakan oleh Jaringan Asia-Pasifik untuk Penguatan Sistem Kesehatan (ANHSS) bekerja sama dengan  Pusat Penelitian Sistem dan Kebijakan Kesehatan di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Primer Jockey Club, Universitas Cina Hong Kong.“Bagi kita semua apakah kita menyadari bahwa di dalam komunitas sektor kesehatan,  peran asuransi kesehatan swasta dalam  UHC masih menjadi perdebatan. Ada pro dan kontra. Meskipun isu ini kontroversial, semua orang telah berkumpul di Hong Kong. Kita berada di sini untuk berbagi pengalaman terkini, pengetahuan baru, dan gagasan mengenai peran asuransi kesehatan swasta di masa depan dalam UHC, terutama di negara-negara Asia-PasifikSecara lebih rinci, kita berada di sini untuk: read more

Reportase Webinar “Dari Kebijakan ke Aksi: Strategi Penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Perluasan Akses Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK)”

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Direktorat Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI dan Health Systems Insight (HSI) menyelenggarakan Webinar Series #7 bertajuk “Strategi Penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Perluasan Akses Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK)” pada Selasa (26/5/2026) secara daring.

Kegiatan dibuka oleh dr. Elvieda Sariwati, M.Epid., Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, yang dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) memerlukan strategi khusus dalam penguatan layanan kesehatan primer yang kontekstual, adaptif, dan sesuai kebutuhan daerah. dr Elvienda menekankan pentingnya adopsi praktik baik berbasis bukti yang dapat disesuaikan dengan tantangan lokal masing-masing wilayah. Webinar ini menjadi ruang berbagi pengalaman, inovasi, dan praktik baik dalam implementasi ILP serta perluasan akses layanan promotif dan preventif, termasuk melalui program CKG. Melalui forum ini diharapkan dihasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat implementasi ILP serta memperluas akses layanan kesehatan dasar yang lebih merata bagi masyarakat, khususnya di wilayah DTPK.

VIDEO

 

Sesi Pertama

Sesi pertama webinar bertajuk “Dari Kebijakan ke Praktik: Tantangan, Peluang, dan Strategi Penguatan Implementasi ILP di Puskesmas” dimoderatori oleh Retno Pujisubekti, SKM., M.Sc. dari Health Systems Insight. Pada sesi ini, dr. Rima Damayanti, M.Kes., selaku Ketua Tim Kerja ILP Direktorat Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, menekankan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup yang terintegrasi dari Puskesmas hingga Posyandu. Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) difokuskan pada penguatan layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang lebih dekat dengan masyarakat, serta didukung pemanfaatan data dan jejaring layanan kesehatan. Hingga 20 Mei 2026, ILP telah diimplementasikan di 8.903 Puskesmas. Sementara itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025 telah menjangkau lebih dari 73 juta masyarakat sebagai upaya memperluas akses layanan kesehatan primer di Indonesia.

VIDEO

Paparan pertama disampaikan oleh Henny Rista, S.ST., M.Keb., Kepala Puskesmas Pidie, yang membagikan pengalaman implementasi ILP di Kabupaten Pidie, Aceh. Berbagai tantangan yang dihadapi meliputi belum optimalnya peran kader, kesulitan integrasi data, orientasi masyarakat yang masih kuratif, lemahnya koordinasi lintas sektor, serta keterbatasan SDM dari segi jumlah, beban kerja, dan kompetensi. Selain itu, terdapat kendala pada tata kelola, pembiayaan, sistem informasi yang belum terintegrasi, serta kondisi geografis wilayah. Inovasi yang dikembangkan antara lain ILP bergerak, pemetaan keluarga berisiko, dan kader sahabat keluarga. Sebagai tindak lanjut, disusun strategi yang mencakup penguatan SDM, integrasi sistem informasi, dukungan kebijakan daerah, pembiayaan fleksibel, serta kolaborasi lintas sektor. Strategi tersebut akan dilakukan secara bertahap melalui penguatan internal dan kolaborasi eksternal untuk mendukung keberlanjutan implementasi ILP.

MATERI          VIDEO

Paparan praktik baik oleh dr. Made Ratna Dewi, Kepala Puskesmas Abiansemal 1, menyoroti implementasi layanan ILP yang telah terintegrasi di tingkat desa di Kabupaten Badung. Pelayanan dilaksanakan berbasis siklus hidup melalui kegiatan dalam dan luar gedung serta didukung akses masyarakat melalui aplikasi Nak Badung Sehat. Pada desa dengan Pustu, kunjungan rumah dikoordinasikan oleh penanggung jawab Pustu dan dilaksanakan bersama kader ILP serta kader posyandu, sedangkan pada desa tanpa Pustu dikoordinasikan oleh penanggung jawab desa dengan pelibatan darbin, pelaksana klaster, dan kader posyandu. Penguatan layanan juga mencakup integrasi home care untuk kasus kronis, digitalisasi layanan, serta kolaborasi lintas fasilitas dan layanan swasta. Capaian ini didukung oleh pelaksanaan layanan berbasis klaster, posyandu terintegrasi, ketersediaan tenaga kesehatan dan kader, serta sistem pemantauan kinerja ILP yang terus diperkuat.

MATERI        VIDEO

Paparan oleh dr. Yulia Dewi Irawati, M.Sc (FM), Sp.KKLP menekankan pentingnya pendekatan kedokteran keluarga dalam implementasi ILP, dimana layanan primer tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga penguatan deteksi dini faktor risiko serta kesinambungan pelayanan kesehatan keluarga. Pendekatan ini diperkuat melalui berbagai inovasi berbasis komunitas yang berfokus pada pengendalian hipertensi melalui skrining, edukasi, kunjungan rumah, serta keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat. Penguatan layanan juga dilakukan melalui kartu kendali hipertensi, gerak dialog family meeting, rekam medis holistik, serta integrasi pendekatan budaya seperti pemanfaatan jamu, akupresur, dan toga. Upaya tersebut memperkuat peran dokter keluarga dalam pelayanan promotif, preventif, serta keberlanjutan perawatan di komunitas.

MATERI       VIDEO

Pada sesi pembahas, Dr. dr. Trihono, M.Sc. menekankan bahwa keberhasilan Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) ditentukan oleh penguatan Indeks Keluarga Sehat (IKS), yang mencakup indikator perilaku hidup bersih dan sehat, kepesertaan JKN, serta kepatuhan pengobatan penyakit kronis. Dalam implementasi ILP, disampaikan apresiasi kepada tiga Puskesmas penyaji atas penguatan layanan berbasis kebutuhan, termasuk optimalisasi Poskesdes di Puskesmas Pidie serta layanan terintegrasi seperti Posbindu UKK, Posyandu, layanan disabilitas, dan kesehatan jiwa di Puskesmas Jetis II. Ke depan, tantangan utama adalah memastikan roadmap ILP dapat berjalan merata di seluruh desa dan posyandu.

MATERI        VIDEO

Sementara itu, dr. Aghnaa Gayatri, M.Sc, PhD, Sp.KKLP, Subsp.FOMC menekankan bahwa implementasi ILP merupakan perubahan paradigma dari pendekatan berbasis program menjadi berbasis siklus hidup yang menuntut penyesuaian dengan konteks wilayah. Tantangan di lapangan dipandang sebagai sumber inovasi dalam penguatan layanan yang lebih kontekstual, mengingat pelayanan kesehatan harus berangkat dari karakteristik demografi, sosial, budaya, serta faktor risiko masyarakat setempat. Oleh karena itu, penguatan jejaring dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, karena puskesmas tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi determinan kesehatan yang bersifat multidimensi. ILP juga selaras dengan prinsip kedokteran keluarga yang menekankan pelayanan komprehensif, kontinu, terkoordinasi, serta berorientasi pada individu, keluarga, dan komunitas sepanjang siklus hidup. Dalam implementasinya, Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) menjadi instrumen penting, tidak hanya untuk mencatat cakupan layanan, tetapi juga memastikan tindak lanjut hasil skrining berjalan berkesinambungan dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.

 VIDEO

 

Sesi Kedua

Sesi kedua webinar mengangkat tema “Dari Tantangan ke Aksi: Strategi Daerah dan Praktik Mencapai Target CKG di Wilayah DTPK” yang dimoderatori oleh dr. Novie Manurung, MPH. Diskusi pada sesi ini berfokus pada pengalaman daerah dalam memperluas akses CKG di wilayah dengan keterbatasan geografis dan sumber daya.

Hj. Leli Yuliani, M.M. memaparkan strategi Kabupaten Garut dalam memperluas cakupan Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui penguatan jejaring layanan, perubahan mindset dari pengobatan gratis menjadi skrining kesehatan, serta integrasi layanan CKG dalam dan luar gedung. Sosialisasi dilakukan secara luas kepada masyarakat, ormas, lembaga, hingga kegiatan reses, sehingga mendorong permintaan aktif pelaksanaan CKG di berbagai momentum komunitas. Integrasi ILP dan CKG diperkuat melalui skrining di puskesmas, posyandu siklus hidup, serta kegiatan terintegrasi seperti ORI Campak dan Gebyar CKG ibu hamil. Penguatan juga dilakukan melalui evaluasi mingguan capaian, pemberian apresiasi pada puskesmas berprestasi, serta pembagian tugas entri secara merata di seluruh tenaga kesehatan untuk memperkuat pelaporan. Strategi khusus juga diterapkan untuk sasaran usia sekolah, dewasa, dan lansia melalui pendekatan berbasis sekolah, komunitas, SKPD, posyandu, serta berbagai momentum layanan lainnya guna meningkatkan capaian secara signifikan.

MATERI         VIDEO

Selanjutnya, Ismail T. Akase, SKM., M.Kes., Kadinkes Kabupaten Gorontalo, menjelaskan bahwa keberhasilan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sangat ditentukan oleh strategi implementasi yang tepat sasaran, adaptif terhadap kondisi geografis, serta didukung keterlibatan lintas pemangku kepentingan. Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo menerapkan pendekatan multi strategi melalui penguatan Tim Kesehatan Keliling (Mobile Health Unit) untuk menjangkau wilayah terpencil dengan tenaga medis lengkap dan peralatan diagnostik portabel, pemberdayaan kader kesehatan desa sebagai ujung tombak layanan CKG di komunitas, serta pemanfaatan sistem informasi kesehatan digital berbasis aplikasi Android untuk pencatatan dan pelaporan real time yang terintegrasi. Keberhasilan program juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah desa, organisasi masyarakat, sektor swasta, dan lembaga lainnya guna memastikan keberlanjutan program serta penguatan dukungan sumber daya dan kebijakan di tingkat lokal.

MATERI        VIDEO

Paparan terakhir disampaikan oleh dr. Carlof, M.MRS., MQM yang membagikan pengalaman penguatan layanan kesehatan primer melalui integrasi program dan tata kelola pelayanan di daerah. Penguatan dilakukan melalui inovasi Kartu Sumbawa Barat Maju berbasis kartu keluarga sebagai implementasi SPBE dan smart city yang mengintegrasikan akses layanan kesehatan berbasis digital, serta pengembangan layanan TRC ambulans untuk layanan panggilan masyarakat yang sakit ke rumah, sekaligus melakukan CKG bagi anggota keluarganya. Pendekatan ini memperkuat koordinasi layanan, mempercepat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, serta mendukung integrasi sistem kesehatan primer yang lebih efektif dan responsif di tingkat daerah.

MATERI        VIDEO

Sebagai pembahas akhir, dr. Pramutia Haryati Harirama, M.K.K., Direktorat Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa keberhasilan implementasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) memerlukan strategi yang adaptif sesuai konteks daerah serta dukungan kebijakan kepala daerah dan Dinas Kesehatan. CKG diposisikan sebagai indikator kinerja daerah dan diintegrasikan dengan implementasi ILP melalui kolaborasi lintas sektor, kemitraan swasta, serta dukungan pembiayaan APBD untuk sarana prasarana, alat kesehatan, BMHP, transportasi, dan perangkat digital. Penguatan juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM, pembagian tugas yang efektif, serta integrasi kegiatan CKG dengan agenda komunitas dan pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan sasaran. Di wilayah terpencil, implementasi didukung melalui tim kesehatan keliling, penguatan kader desa, serta pemanfaatan sistem informasi digital dan jejaring kemitraan. Pelaksanaan juga diperkuat melalui evaluasi rutin mingguan, pemberian apresiasi kepada Puskesmas berprestasi, serta integrasi dengan berbagai inovasi layanan kesehatan lainnya.

  VIDEO

Sebagai penutup, webinar ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk mengidentifikasi variasi implementasi ILP dan pelaksanaan CKG di berbagai daerah, termasuk wilayah DTPK, serta menganalisis tantangan pada aspek sumber daya manusia, pembiayaan, tata kelola, dan akses geografis layanan kesehatan. Berbagai praktik baik, inovasi, dan pendekatan adaptif yang dipaparkan menunjukkan bahwa penguatan layanan primer dapat dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, optimalisasi jejaring layanan, serta kepemimpinan daerah yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui diskusi dan pertukaran pengalaman antardaerah, webinar ini diharapkan dapat mendorong perumusan strategi penguatan implementasi ILP dan CKG yang lebih kontekstual, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk mendukung transformasi layanan kesehatan primer yang merata dan berkualitas di seluruh Indonesia.

Reporter: Ghofur H. (PKMK FK-KMK UGM)

Reportase Webinar Bagian 1c: “Kesejahteraan profesi medik dan kesehatan serta situasi pendanaan kesehatan saat ini. Apakah akan bertumpu pada BPJS saja? Bagaimana prospek Asuransi Kesehatan untuk Praktek?”

laksono memahami bpjsPKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Bagian 1c dengan tema “Kesejahteraan profesi medik dan kesehatan serta situasi pendanaan kesehatan saat ini. Apakah akan bertumpu pada BPJS saja? Bagaimana prospek Asuransi Kesehatan untuk Praktek?” secara daring pada Selasa (26/5/2026).

Webinar ini membahas kesejahteraan profesi medik dan kesehatan serta situasi pendanaan kesehatan di Indonesia saat ini. Webinar ini dipandu oleh Vini Aristianti, S.KM., MPH., AAK dengan menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku narasumber sekaligus fasilitator diskusi.

Sebagai pengantar dan pemantik diskusi, Prof. Laksono menyampaikan bahwa situasi pendanaan kesehatan di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang cukup menantang karena persentase belanja kesehatan terhadap PDB stagnan di angka sekitar 3% selama 15 tahun terakhir, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (4,12%) dan Thailand (4,36%). Kondisi ini menyebabkan tenaga medis dan fasilitas kesehatan mengalami “sesak napas” akibat defisit keuangan BPJS Kesehatan serta sistem pembayaran kapitasi yang rendah di tingkat layanan primer.

Sesi diskusi menyoroti realitas pahit tenaga medis yang merasa “sesak napas” akibat upah rendah (underpaid) dan beban kerja berlebih (overwork). Masalah ketimpangan juga mengemuka, di mana fiskal daerah yang terbatas sering menjadi hambatan, meski model insentif tinggi seperti di RSD Betun, NTT, yang memberikan hingga Rp150 juta bagi spesialis, terbukti efektif menarik tenaga medis ke daerah terpencil. Selain itu, diskusi mengenai efektivitas JKN mengungkapkan adanya ketidakadilan dalam sistem single pool yang cenderung lebih menguntungkan kelompok mampu.

Sebagai solusi strategis, perlu bagi organisasi profesi untuk aktif mengawal revisi UU SJSN dan UU BPJS guna menciptakan ekosistem pendanaan yang lebih sehat melalui penguatan asuransi swasta sebagai komplementer. Kondisi dimana pendanaan BPJS dan Non-BPJS sama-sama membaik dapat dicapai jika ada kemauan politik untuk memperbaiki regulasi sehingga kesejahteraan tenaga kesehatan tidak lagi dikorbankan demi efisiensi biaya semata.

Reporter: Latifah Alifiana (PKMK UGM)

 

Reportase Webinar Muscle is Medicine Seri 2: Physiology & Principles of Resistance Training

Selasa, 26 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan kesehatan global mulai mengalami pergeseran dari disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) tidak lagi dipandang hanya sebagai alat gerak tubuh, tetapi juga sebagai komponen penting yang berperan dalam kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Menjawab perkembangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK-KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine Seri 2 bertajuk “Physiology & Principles of Resistance Training” sebagai upaya edukasi multidisiplin berbasis sains untuk tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, serta masyarakat umum dalam memahami pentingnya latihan resistensi sebagai strategi preventif dan terapeutik pada berbagai penyakit kronis.

Sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata dengan topik “Physiology & Principles of Resistance Training.” Pada materi pertama, dr. Tanjung membahas mengenai Gender and Endocrine Systems serta Characteristics of Skeletal Muscle Fibre Type. Dalam paparannya dijelaskan bahwa respon tubuh terhadap latihan dipengaruhi oleh sistem hormonal dan karakteristik serat otot yang dimiliki setiap individu. Otot terdiri dari beberapa tipe serat dengan fungsi yang berbeda, mulai dari slow-twitch fibers yang dominan pada aktivitas daya tahan hingga fast-twitch fibers yang berperan pada aktivitas kekuatan dan eksplosif. Narasumber juga menjelaskan bahwa tubuh akan merekrut jenis serat otot tertentu sesuai intensitas latihan yang dilakukan, sehingga pemahaman mengenai fisiologi otot menjadi penting dalam penyusunan program latihan yang efektif.

Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa faktor jenis kelamin dan sistem endokrin turut mempengaruhi kemampuan tubuh dalam membangun massa otot, proses pemulihan, hingga adaptasi terhadap latihan. Perbedaan hormon seperti testosteron, estrogen, dan hormon pertumbuhan menyebabkan respons latihan pada laki-laki dan perempuan dapat berbeda. Namun demikian, ia menekankan bahwa latihan resistensi tetap memberikan manfaat besar bagi semua kelompok usia dan jenis kelamin apabila dilakukan sesuai kapasitas tubuh dan prinsip latihan yang benar.

Pada materi kedua, dr. Tanjung membahas tentang Somatotypes, Concentric & Eccentric Contraction, serta How Muscles Grow. Dijelaskan bahwa setiap individu memiliki karakteristik bentuk tubuh (somatotype) yang dapat mempengaruhi respon latihan dan perkembangan massa otot. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada jenis kontraksi otot, yaitu kontraksi konsentrik dan eksentrik, yang memiliki fungsi berbeda dalam latihan resistensi. Kontraksi eksentrik dijelaskan memiliki peran penting dalam peningkatan kekuatan, hipertrofi otot, rehabilitasi cedera, hingga pencegahan jatuh pada lansia. Sementara, proses pertumbuhan otot (muscle hypertrophy) terjadi melalui kombinasi mechanical tension, metabolic stress, dan muscle damage yang kemudian diikuti proses pemulihan dan adaptasi tubuh. dr. Tanjung menekankan bahwa recovery menjadi bagian penting dalam pembentukan otot karena tanpa waktu pemulihan yang cukup, tubuh tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan membangun kembali serat otot yang mengalami kerusakan selama latihan.

Dalam sesi ini juga dijelaskan bahwa pertumbuhan otot tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses biologis yang kompleks. Saat latihan dilakukan, tubuh mengalami stres mekanik yang memicu aktivasi satellite cells untuk membantu proses perbaikan dan pembentukan jaringan otot baru. dr. Tanjung juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara latihan, nutrisi, dan waktu istirahat agar proses sintesis protein otot dapat berlangsung optimal. Menurutnya, banyak individu terlalu fokus pada intensitas latihan namun mengabaikan pemulihan, padahal fase pemulihan merupakan bagian utama dari proses adaptasi tubuh terhadap latihan resistensi.

Pada sesi diskusi pertama, peserta membahas perbedaan antara physical activity dan exercise. dr. Tanjung menjelaskan bahwa physical activity mencakup seluruh aktivitas yang menggerakkan otot tubuh, sedangkan exercise merupakan aktivitas yang dilakukan secara terencana dengan tujuan tertentu seperti meningkatkan massa otot atau kebugaran. Aktivitas kerja berat seperti kuli bangunan juga dapat memberikan efek mirip resistance training karena tubuh beradaptasi terhadap beban kerja yang dilakukan terus-menerus.

Diskusi juga membahas latihan full body seperti yoga dan kalistenik yang tetap dapat membantu membangun otot apabila dilakukan dengan intensitas, progresivitas, dan pemulihan yang tepat. Selain itu, dr. Tanjung menjelaskan bahwa wanita menopause tetap dapat meningkatkan massa otot melalui latihan resistensi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh dan diawali assessment yang baik agar tidak menimbulkan nyeri.

Pada materi ketiga, pembahasan difokuskan pada prinsip dasar latihan resistensi berbasis sains yaitu SAID Principle, Gradual Progressive Overload (GPO), dan FITT Principle. dr. Tanjung menjelaskan bahwa tubuh akan beradaptasi secara spesifik terhadap stimulus latihan yang diberikan, sehingga program latihan harus disesuaikan dengan tujuan individu, baik untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, maupun kesehatan metabolik. Prinsip Gradual Progressive Overload dijelaskan sebagai peningkatan beban latihan secara bertahap agar tubuh mampu beradaptasi tanpa meningkatkan risiko cedera atau overtraining. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada konsep FITT Principle yang meliputi frequency, intensity, time, dan type sebagai dasar penyusunan program latihan yang aman, efektif, dan berkelanjutan. Dalam sesi ini, dr. Tanjung juga menekankan bahwa manfaat kesehatan dari olahraga rutin sebenarnya mulai muncul lebih cepat dibandingkan perubahan fisik yang terlihat secara langsung, sehingga konsistensi menjadi faktor utama dalam latihan jangka panjang.

Lebih lanjut, dr. Tanjung menjelaskan bahwa setiap program latihan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu. Peningkatan intensitas latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap karena stimulus latihan yang terlalu berat tanpa pemulihan yang cukup dapat meningkatkan risiko cedera dan memperpanjang waktu pemulihan tubuh. Ia juga menekankan bahwa perubahan positif dari latihan rutin tidak selalu langsung terlihat dari penampilan fisik atau penurunan berat badan, namun berbagai manfaat kesehatan metabolik seperti perbaikan tekanan darah, sensitivitas insulin, dan kesehatan jantung sebenarnya sudah mulai terjadi sejak seseorang konsisten melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Pada sesi diskusi kedua, peserta membahas penerapan progressive overload dalam latihan resistensi. dr. Tanjung menjelaskan bahwa peningkatan latihan dapat dilakukan secara bertahap melalui penambahan repetisi, set, maupun beban agar tubuh mampu beradaptasi dengan aman. Diskusi juga membahas cara menentukan beban latihan selain metode 1RM, yaitu dengan melihat kemampuan tubuh, kualitas gerakan, dan respons individu saat latihan. Selain itu, dijelaskan bahwa perbedaan alat latihan, sudut gerak, dan mekanisme mesin dapat memengaruhi sensasi berat meskipun angka bebannya sama. Faktor recovery tubuh juga dipengaruhi oleh tipe tubuh, pengalaman latihan, nutrisi, dan adaptasi fisiologis masing-masing individu.

Melalui webinar ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa latihan resistensi tidak hanya berperan dalam meningkatkan kekuatan dan massa otot, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan metabolik, fungsi tubuh, serta kualitas hidup secara menyeluruh. Pemahaman mengenai fisiologi otot, prinsip latihan berbasis sains, serta pentingnya pemulihan diharapkan dapat membantu masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menerapkan exercise yang aman, efektif, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif terhadap berbagai penyakit kronis. 

Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM

Reportase Webinar Muscle is Medicine Seri 1: Muscle is Medicine

Kamis, 21 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan kesehatan global mulai mengalami pergeseran dari disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) tidak lagi dipandang hanya sebagai alat gerak tubuh, tetapi juga sebagai komponen penting yang berperan dalam kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Menjawab perkembangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine yang terdiri dari seri 1 sampai 7 sebagai upaya edukasi multidisiplin berbasis sains untuk tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, serta masyarakat umum.

Seri 1 Muscle is Medicine diawali dengan sesi pengantar oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc., Ph. D. yang membawakan topik “Keterampilan Baru SDM Kesehatan dengan Kompetensi Wellness: Edukasi Multidisiplin Berbasis Sains untuk Tenaga Kesehatan, Akademisi, dan Praktisi Kebugaran.” Dalam paparannya, Prof. Laksono menjelaskan bahwa wellness merupakan bidang yang terus berkembang dan membutuhkan kolaborasi multidisiplin. Kompetensi wellness ke depan akan menjadi kebutuhan penting bagi dokter umum, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan lain agar mampu menjawab perubahan kebutuhan masyarakat.

Dibahas juga pentingnya pengembangan kebijakan sumber daya manusia kesehatan yang mendukung kompetensi wellness secara ilmiah dan terstruktur. Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan diri agar tidak tertinggal dalam perkembangan industri wellness global. Prof. Laksono mengibaratkan wellness sebagai sebuah pohon besar dengan banyak cabang, mulai dari nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, hingga aspek spiritual, sehingga pendekatannya tidak dapat dilakukan secara parsial. 

Selanjutnya, sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata, M.Repro., AIFO-K, ABAARM dengan topik “Muscle as a Metabolic Organ.” Dalam materinya, dr. Tanjung menjelaskan bahwa otot memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar alat gerak tubuh. Otot juga berperan sebagai organ endokrin yang mampu menghasilkan berbagai senyawa biologis yang mempengaruhi metabolisme tubuh, sistem imun, serta proses inflamasi.

Beberapa poin utama yang dibahas pada sesi ini meliputi Muscle as an Endocrine Organ, Muscle and Chronic Disease Prevention, Muscle and Functional Independence, Muscle as a Protein Reservoir and Immune Support, serta Muscle and Metabolism. dr. Tanjung menjelaskan bahwa latihan beban atau resistance training memiliki manfaat besar dalam pencegahan penyakit kronis, mempertahankan fungsi tubuh, serta meningkatkan kualitas hidup terutama pada usia lanjut.

Dalam paparannya, disorot juga tentang perubahan tren penelitian kesehatan yang sebelumnya lebih banyak menekankan latihan kardio. Namun, sejak beberapa tahun terakhir semakin banyak penelitian menunjukkan manfaat latihan resistensi terhadap kesehatan metabolik dan efek antiinflamasi tubuh. Saat otot dilatih, tubuh menghasilkan respons biologis yang dapat membantu mengurangi proses inflamasi sehingga berkontribusi terhadap pencegahan penyakit tidak menular.

Selain itu, dr. Tanjung juga mengangkat isu mengenai penyalahgunaan obat-obatan peningkat performa yang digunakan untuk mempercepat pembentukan massa otot pada sesi mat, meningkatkan energi, maupun membakar lemak secara instan. Menurutnya, penggunaan zat-zat tersebut tanpa pengawasan medis telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat, khususnya di kalangan atlet, binaragawan, hingga pengguna gym rekreasional.   Penggunaan obat-obatan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak serius seperti gangguan kardiovaskular, hipertensi, gangguan fungsi hormon reproduksi, kerusakan hati, resistensi insulin, hingga gangguan psikologis seperti agresivitas, depresi, dan ketergantungan.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta seputar latihan beban, kesehatan metabolik, hingga penerapan olahraga pada berbagai kondisi kesehatan. Salah satu pembahasan yang menarik adalah mengenai perkembangan penelitian otot sebagai organ endokrin. dr. Tanjung menjelaskan bahwa penelitian mengenai biomarker otot masih tergolong baru dan saat ini sebagian besar pemeriksaannya masih terbatas di laboratorium riset. Selain itu, peserta juga berdiskusi mengenai cara sederhana memantau progres latihan beban, seperti melalui perubahan berat badan, massa otot, penurunan lemak tubuh, maupun pengukuran lingkar tubuh.

Diskusi juga menyoroti masih kuatnya stigma masyarakat terhadap latihan beban, khususnya pada lansia, yang kerap dianggap berbahaya dan berisiko menimbulkan cedera. Menurut dr. Tanjung, persepsi tersebut perlu diluruskan melalui edukasi berbasis sains karena latihan beban sejatinya merupakan stimulasi otot yang dilakukan secara bertahap, bukan selalu identik dengan beban berat.

Selain itu, dibahas pula manfaat latihan otot dalam mendukung kesehatan pada kondisi tertentu seperti HIV, dimana latihan fisik dapat membantu mempertahankan massa otot dan mendukung sistem imun tubuh. Pada akhir sesi, narasumber juga memberikan penjelasan mengenai hubungan intermittent fasting (IF) dengan latihan fisik, khususnya pentingnya pengaturan waktu makan dan latihan bagi pemula agar tetap aman dan terhindar dari risiko hipoglikemia.

Melalui webinar ini, peserta mendapatkan pemahaman bahwa otot bukan hanya komponen penunjang gerakan tubuh, tetapi juga organ metabolik yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan secara menyeluruh. Pendekatan wellness berbasis latihan resistensi diharapkan dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam menghadapi meningkatnya penyakit kronis di masyarakat.

Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM

Reportase Webinar Bagian 1b: “Bagaimana Situasi Indonesia Dibandingkan dengan Thailand dalam Asuransi Kesehatan Swasta dan Sistem Kesehatannya”

Seri Webinar Memahami “Sesuatu yang Salah” dalam Kebijakan Pendanaan Kesehatan di Indonesia: Prospek Revisi UU SJSN Tahun 2004 & UU BPJS Tahun 2011

Bagian 1b: “Bagaimana Situasi Indonesia Dibandingkan dengan Thailand dalam Asuransi Kesehatan Swasta dan Sistem Kesehatannya”

Selasa, 12 Mei 2026 | 10.00–11.30 WIB

 

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Webinar Bagian 1b dengan tema “Bagaimana situasi Indonesia dibandingkan dengan Thailand dalam asuransi kesehatan swasta dan sistem kesehatannya?” secara daring pada Selasa (12/5/2026). Webinar ini membahas situasi indonesia dibandingkan dengan thailand dalam asuransi kesehatan swasta dan sistem kesehatannya. Webinar ini dipandu oleh Vini Aristianti, S.KM., MPH., AAK dengan menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D selaku narasumber sekaligus fasilitator diskusi.

LT bagian1bSebagai pengantar. Prof. Laksono menyampaikan bahwa sektor kesehatan Indonesia saat ini dinilai sedang mengalami “sesak napas” akibat stagnasi pendanaan yang tertahan di angka sekitar 3% dari PDB selama 15 tahun terakhir. Angka ini jauh di bawah rata-rata dunia dan diperburuk oleh minimnya perkembangan asuransi kesehatan swasta dan kebijakan single pool BPJS Kesehatan.

Berbeda dengan Indonesia, Thailand berhasil meningkatkan belanja kesehatan melalui sistem yang memisahkan jaminan sosial pemerintah bagi masyarakat miskin, pekerja, dan PNS (3 pool) dan asuransi swasta bagi kelompok mampu. Pendekatan ini perlu dibahas lebih lanjut apakah memang lebih efektif dalam meningkatkan akses layanan berkualitas sekaligus meningkatkan pemerataan. Indonesia perlu mempertimbangkan pengalaman Thailand yang mendorong kelompok mampu menjadi peserta asuransi kesehatan swasta demi memperkuat pendanaan kesehatan dan mewujudkan keadilan sosial.

VIDEO   MATERI

Diskusi

Dalam sesi diskusi menyoroti ketimpangan layanan kesehatan yang nyata, seperti di Papua dimana fasilitas cath lab jantung dilaporkan mangkrak akibat hambatan proses kredensialing oleh BPJS Kesehatan.. Selain itu, perwakilan rumah sakit swasta di Yogyakarta mengungkapkan kondisi keuangan yang kian “kempas-kempis” akibat kebijakan yang dinilai tidak berpihak, termasuk fenomena masyarakat mampu yang masih menggunakan BPJS. Ada kritik terhadap narasi “BPJS gratis” yang sering dijadikan alat propaganda politik, padahal sistem ini memerlukan pendanaan berkelanjutan dan kepercayaan publik terhadap kualitas layanan yang kini dirasakan kian menurun.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Prof. Laksono Trisnantoro menekankan bahwa penerapan sistem JKN harus menjamin bahwa subsidi pemerintah difokuskan bagi masyarakat miskin. Apabila subsidi pemerintah melalui PBI APBN banyak terpakai oleh anggota BPJS yang relatif lebih mampu, akan terjadi masalah defisit terus menerus. Dengan pengalaman Thailand perlu ada “perubahan kebijakan” untuk menarik pendanaan dari kelompok masyarakat mampu melalui mekanisme asuransi kesehatan swasta. Diskusi ini juga menyimpulkan bahwa Indonesia tidak bisa lagi hanya bertumpu pada BPJS sendirian, Diperlukan integrasi peran sektor swasta dan perbaikan regulasi guna meningkatkan belanja kesehatan nasional demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

VIDEO

Reporter: Latifah Alifiana (PKMK UGM)