Kamis, 21 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan kesehatan global mulai mengalami pergeseran dari disease-centered care menuju function-centered care, dimana massa otot rangka (skeletal muscle mass) tidak lagi dipandang hanya sebagai alat gerak tubuh, tetapi juga sebagai komponen penting yang berperan dalam kesehatan metabolik, kapasitas fungsional, serta kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Menjawab perkembangan tersebut, Fitness Professional Academy bekerja sama dengan PKMK FK KMK UGM, FKIK Universitas Warmadewa, HOPE Wellness, Fitness Plus, dan APKI menyelenggarakan Webinar Series Muscle is Medicine yang terdiri dari seri 1 sampai 7 sebagai upaya edukasi multidisiplin berbasis sains untuk tenaga kesehatan, akademisi, praktisi kebugaran, serta masyarakat umum.

Seri 1 Muscle is Medicine diawali dengan sesi pengantar oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc., Ph. D. yang membawakan topik “Keterampilan Baru SDM Kesehatan dengan Kompetensi Wellness: Edukasi Multidisiplin Berbasis Sains untuk Tenaga Kesehatan, Akademisi, dan Praktisi Kebugaran.” Dalam paparannya, Prof. Laksono menjelaskan bahwa wellness merupakan bidang yang terus berkembang dan membutuhkan kolaborasi multidisiplin. Kompetensi wellness ke depan akan menjadi kebutuhan penting bagi dokter umum, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan lain agar mampu menjawab perubahan kebutuhan masyarakat.
Dibahas juga pentingnya pengembangan kebijakan sumber daya manusia kesehatan yang mendukung kompetensi wellness secara ilmiah dan terstruktur. Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan diri agar tidak tertinggal dalam perkembangan industri wellness global. Prof. Laksono mengibaratkan wellness sebagai sebuah pohon besar dengan banyak cabang, mulai dari nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, hingga aspek spiritual, sehingga pendekatannya tidak dapat dilakukan secara parsial.

Selanjutnya, sesi utama webinar disampaikan oleh dr. Tanjung Subrata, M.Repro., AIFO-K, ABAARM dengan topik “Muscle as a Metabolic Organ.” Dalam materinya, dr. Tanjung menjelaskan bahwa otot memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar alat gerak tubuh. Otot juga berperan sebagai organ endokrin yang mampu menghasilkan berbagai senyawa biologis yang mempengaruhi metabolisme tubuh, sistem imun, serta proses inflamasi.
Beberapa poin utama yang dibahas pada sesi ini meliputi Muscle as an Endocrine Organ, Muscle and Chronic Disease Prevention, Muscle and Functional Independence, Muscle as a Protein Reservoir and Immune Support, serta Muscle and Metabolism. dr. Tanjung menjelaskan bahwa latihan beban atau resistance training memiliki manfaat besar dalam pencegahan penyakit kronis, mempertahankan fungsi tubuh, serta meningkatkan kualitas hidup terutama pada usia lanjut.
Dalam paparannya, disorot juga tentang perubahan tren penelitian kesehatan yang sebelumnya lebih banyak menekankan latihan kardio. Namun, sejak beberapa tahun terakhir semakin banyak penelitian menunjukkan manfaat latihan resistensi terhadap kesehatan metabolik dan efek antiinflamasi tubuh. Saat otot dilatih, tubuh menghasilkan respons biologis yang dapat membantu mengurangi proses inflamasi sehingga berkontribusi terhadap pencegahan penyakit tidak menular.
Selain itu, dr. Tanjung juga mengangkat isu mengenai penyalahgunaan obat-obatan peningkat performa yang digunakan untuk mempercepat pembentukan massa otot pada sesi mat, meningkatkan energi, maupun membakar lemak secara instan. Menurutnya, penggunaan zat-zat tersebut tanpa pengawasan medis telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat, khususnya di kalangan atlet, binaragawan, hingga pengguna gym rekreasional. Penggunaan obat-obatan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak serius seperti gangguan kardiovaskular, hipertensi, gangguan fungsi hormon reproduksi, kerusakan hati, resistensi insulin, hingga gangguan psikologis seperti agresivitas, depresi, dan ketergantungan.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta seputar latihan beban, kesehatan metabolik, hingga penerapan olahraga pada berbagai kondisi kesehatan. Salah satu pembahasan yang menarik adalah mengenai perkembangan penelitian otot sebagai organ endokrin. dr. Tanjung menjelaskan bahwa penelitian mengenai biomarker otot masih tergolong baru dan saat ini sebagian besar pemeriksaannya masih terbatas di laboratorium riset. Selain itu, peserta juga berdiskusi mengenai cara sederhana memantau progres latihan beban, seperti melalui perubahan berat badan, massa otot, penurunan lemak tubuh, maupun pengukuran lingkar tubuh.
Diskusi juga menyoroti masih kuatnya stigma masyarakat terhadap latihan beban, khususnya pada lansia, yang kerap dianggap berbahaya dan berisiko menimbulkan cedera. Menurut dr. Tanjung, persepsi tersebut perlu diluruskan melalui edukasi berbasis sains karena latihan beban sejatinya merupakan stimulasi otot yang dilakukan secara bertahap, bukan selalu identik dengan beban berat.
Selain itu, dibahas pula manfaat latihan otot dalam mendukung kesehatan pada kondisi tertentu seperti HIV, dimana latihan fisik dapat membantu mempertahankan massa otot dan mendukung sistem imun tubuh. Pada akhir sesi, narasumber juga memberikan penjelasan mengenai hubungan intermittent fasting (IF) dengan latihan fisik, khususnya pentingnya pengaturan waktu makan dan latihan bagi pemula agar tetap aman dan terhindar dari risiko hipoglikemia.
Melalui webinar ini, peserta mendapatkan pemahaman bahwa otot bukan hanya komponen penunjang gerakan tubuh, tetapi juga organ metabolik yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan secara menyeluruh. Pendekatan wellness berbasis latihan resistensi diharapkan dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam menghadapi meningkatnya penyakit kronis di masyarakat.
Reporter : Yuka Nabila Shauma-PKMK FKKMK UGM