Hong Kong, 1 June 2026
Ketua ANHSS – Prof dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD
Prof Laksono membuka Regional Knowledge Event yang bertajuk “Asuransi Kesehatan Swasta (untuk Pembiayaan Kesehatan yang Berkelanjutan demi Memajukan Cakupan Kesehatan Semesta (UHC)” di Hongkong (1/6/2026). Acara ini diselenggarakan oleh Jaringan Asia-Pasifik untuk Penguatan Sistem Kesehatan (ANHSS) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Sistem dan Kebijakan Kesehatan di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Primer Jockey Club, Universitas Cina Hong Kong.“Bagi kita semua apakah kita menyadari bahwa di dalam komunitas sektor kesehatan, peran asuransi kesehatan swasta dalam UHC masih menjadi perdebatan. Ada pro dan kontra. Meskipun isu ini kontroversial, semua orang telah berkumpul di Hong Kong. Kita berada di sini untuk berbagi pengalaman terkini, pengetahuan baru, dan gagasan mengenai peran asuransi kesehatan swasta di masa depan dalam UHC, terutama di negara-negara Asia-Pasifik. Secara lebih rinci, kita berada di sini untuk:
- Menganalisis peran Asuransi Kesehatan Swasta (PHI) dalam mencapai tujuan sistem kesehatan, serta dalam konteks UHC di kawasan Asia-Pasifik.
- Menganalisis kebutuhan dan tantangan sistem kesehatan
- Menjelajahi berbagai model pembiayaan kesehatan, kelebihan, keterbatasan, dan potensi sinergi dengan Asuransi Kesehatan Swasta.
- Membahas kerangka kebijakan dan regulasi yang diperlukan untuk memastikan kontribusi berkelanjutan asuransi kesehatan swasta terhadap pembiayaan kesehatan.
Selain itu, pertemuan ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan guna mengatasi tekanan finansial di bidang layanan kesehatan sambil tetap menjaga aksesibilitas dan keadilan. Singkatnya, diharapkan bahwa “Pertemuan ini menjadi forum penting untuk bersama-sama mengembangkan pengetahuan di seluruh kawasan Asia Pasifik dan mempercepat pertukaran gagasan inovatif mengenai peran Asuransi Kesehatan Swasta dalam UHC.” Sebagai Ketua ANHSS, saya mendorong kita semua untuk memanfaatkan pertemuan ini guna mencari ide-ide segar demi peran yang lebih baik dari Asuransi Kesehatan Swasta dalam UHC, membangun kemitraan baru di seluruh negara di Asia Pasifik, serta mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan masa depan dalam pembiayaan kesehatan. Atas nama ANHSS, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. EK Yeoh dan timnya atas kerja keras tanpa lelah dalam menyelenggarakan acara ini. Juga kepada semua pembicara, narasumber, dan peserta pertemuan ini. Saya berharap Anda semua mendapatkan diskusi yang menarik, ide-ide yang menggugah pikiran, dan pertemuan yang sangat sukses. Terima kasih banyak.
Membahas Mengenai Peran Askes Swasta dalam UHC
Panel Discussion
Moderator : Professor Hong FUNG, JP
Professor of Practice in Health Services Management Centre for Health Systems and Policy Research, JC School of Public Health & Primary Care, The Chinese University of Hong Kong
Raymond Wu sebagai Deputy Secretary for Health, Health Bureau HKASR, China.
Pelayanan kesehatan di Hong Kong telah mencapai standar global, meskipun porsi belanja kesehatan masih sekitar 8,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, menjaga mutu dan akses pelayanan kesehatan bukanlah hal yang mudah. Saat ini, pendanaan kesehatan masih sangat bergantung pada pemerintah. Di sisi lain, Hong Kong menghadapi tantangan berupa penuaan populasi, peningkatan penyakit kronis, serta biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan pendanaan kesehatan semakin besar sehingga tidak dapat terus mengandalkan dana pemerintah. Selama beberapa dekade, pemerintah menanggung beban pembiayaan yang berat, yang salah satunya tercermin dari panjangnya antrean layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan sumber pendanaan baru agar dana pemerintah dapat lebih difokuskan sebagai jaring pengaman (safety net) bagi kelompok yang membutuhkan. Dalam konteks ini, peran pendanaan swasta menjadi semakin penting untuk menciptakan keseimbangan sistem pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan kontribusi pendanaan swasta sesuai dengan semangat “Your Life, Your Health”, yang menekankan tanggung jawab masyarakat terhadap pembiayaan kesehatannya sendiri. Untuk itu, pemanfaatan asuransi kesehatan swasta perlu terus diperluas. Produk asuransi kesehatan harus dirancang dengan strategi penetapan harga yang tepat, sementara cakupan manfaat (coverage) juga perlu diatur secara jelas agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun, tidak ada satu model pembiayaan yang dapat menjadi solusi tunggal. Beberapa prinsip penting perlu diterapkan, antara lain penguatan sistem pelayanan kesehatan primer, penerapan mekanisme co-payment secara proporsional, perlindungan bagi kelompok miskin dan penyandang disabilitas melalui skema safety net, serta dukungan terhadap pembiayaan layanan primer. Selain itu, kualitas klinis harus terjaga melalui tata kelola yang baik dan sistem penjaminan mutu yang kuat. Dengan kombinasi berbagai pendekatan tersebut, sistem pembiayaan kesehatan dapat menjadi lebih berkelanjutan, adil, dan berkualitas.
Dr. Eduardo Banzon – Direktur Unit Kesehatan di ADB Manila
Sebagai Direktur Health Practice Team di Asian Development Bank (ADB) Manila, Dr. Banzon memaparkan perkembangan asuransi kesehatan swasta di berbagai negara Asia. Analisis dilakukan melalui perbandingan besaran pengeluaran kesehatan langsung oleh masyarakat (out-of-pocket expenditure) dan capaian cakupan kesehatan efektif. Selain itu, Dr. Banzon juga menyajikan perkembangan asuransi kesehatan swasta di berbagai kawasan Asia berdasarkan data National Health Accounts.
Di kawasan Asia Selatan, pengembangan asuransi kesehatan swasta masih relatif terbatas, kecuali di India. Sementara itu, Bangladesh masih sangat bergantung pada pembiayaan kesehatan melalui pengeluaran langsung masyarakat (out-of-pocket). Di Asia Tenggara, perkembangan asuransi kesehatan swasta di Indonesia dan Filipina dinilai belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah belum terbangunnya koordinasi yang kuat antara skema asuransi kesehatan sosial dan asuransi kesehatan swasta, baik antara PhilHealth dan asuransi swasta di Filipina maupun antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta di Indonesia. Sebaliknya, Singapura menunjukkan integrasi yang lebih baik, sementara Thailand memiliki porsi pemanfaatan asuransi kesehatan swasta yang lebih besar. Vietnam juga menjadi contoh menarik karena mengalami pertumbuhan signifikan dalam pengembangan asuransi kesehatan swasta dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Dari kawasan Asia Timur, Korea Selatan dilaporkan semakin membuka ruang bagi peran asuransi kesehatan swasta dalam sistem kesehatannya. Sementara itu, sejumlah negara Eropa seperti Belanda dan Swiss telah lama mendorong pemanfaatan asuransi kesehatan swasta sebagai bagian dari sistem pembiayaan kesehatan nasional.
Dr. Banzon menekankan bahwa terdapat variasi pendekatan dalam pengembangan asuransi kesehatan swasta di berbagai negara dan kawasan. Tingginya pengeluaran kesehatan secara langsung oleh masyarakat menunjukkan bahwa asuransi kesehatan sosial tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai Cakupan Kesehatan Semesta (UHC). Diperlukan kebijakan yang mampu mengintegrasikan dan melengkapi peran asuransi kesehatan sosial dengan asuransi kesehatan swasta. Dengan regulasi yang tepat, asuransi kesehatan swasta dapat berfungsi sebagai pelengkap (complementary) maupun tambahan (supplementary) bagi pendanaan kesehatan pemerintah. Oleh karena itu, pembelajaran lintas negara menjadi penting untuk memahami strategi terbaik dalam mengintegrasikan asuransi kesehatan swasta ke dalam upaya pencapaian UHC.
Reporter: Laksono Trisnantoro

Insurance Regulation as an Enabler of Sustainable Universal Health Coverage
Speaker: Mr. Clement CHEUNG Wan-ching, GBS, JP
Chief Executive Officer Insurance Authority Hong Kong Special Administrative Region
Jaring pengaman kesehatan publik (public healthcare safety net) telah menawarkan perawatan yang terjangkau dan andal kepada masyarakat Hong Kong selama beberapa dekade terakhir. Dilengkapi dengan layanan berkualitas yang diberikan oleh lembaga dan praktisi swasta. Sekitar 51 % populasi tercakup dalam asuransi individu maupun grup/kumpulan. Namun kendala yang dihadapi adalah meningkatnya populasi yang menua, kekurangan tenaga kerja dan kemajuan teknologi mulai dihadapi oleh dual track system ini. Terlepas dari upaya untuk mengatasi tantangan yang muncul seperti pengenalan Skema Asuransi Kesehatan Voluntary pada tahun 2019, pengeluaran rumah tangga sebesar 32 % dan tekanan subsidi pemerintah 52 % tetap relatif tinggi. Karena alasan inilah Otoritas Asuransi memutuskan untuk memulai tinjauan holistik bisnis asuransi kesehatan yang bertujuan untuk mempersempit kesenjangan perlindungan, melalui pengembangan data analitik untuk pengembangan desain produk. Juga mampu melakukan supervisi agar peserta dapat membuat keputusan, mendapatkan layanan yang adil. Di sisi lain Industri asuransi dapat melakukan kendali biaya untuk kelangsungan layanan. Pemerintah telah melakukan reformasi fees dan charges sejak 1 Januari 2026 menginisiasi IMACE (Institute for Medical Advancement and Clinical Excellent) untuk pengembangan protocol klinis.
Role of Private Health Insurance in Healthcare Financing to Advance Universal Health Coverage
Speaker : Professor Eng-kiong YEOH, GBS, OBE, JP
Director, Centre for Health Systems and Policy Research JC School of Public Health and Primary Care. The Chinese University of Hong Kong, Hong Kong Special Administrative Region
Sebagai alat transfer risiko, Asuransi Kesehatan Swasta (Private Health Insurance) berfungsi melakukan pool risiko dan sumber pendanaan dari peserta dan mendistribusikannya untuk mengatasi risiko yang tidak terduga dan menimbulkan risiko pengeluaran katastropik dari para anggotanya. Asuransi Kesehatan Swasta memberikan peluang bagi pesertanya untuk meningkatkan pilihan. Literatur review terkait bagaimana peran askes swasta untuk UHC belum menunjukkan secara jelas tentang penjaminan pertama, duplikasi penjaminan dan supplementary. Sebagian besar temuan menjelaskan tentang peran utama askes swasta sebagai suplemen, diperlukan regulasi mendasar dan penguatan agar dapat berdampak konstruktif bagi UHC. Beberapa negara menjadikan PHI sebagai mandatori sepeti contoh di Belanda dan Switzeland, atau dalam bentuk insentif pajak atau system penalty seperti di Hongkong dan Australia.
Reporter: Diah Ayu Puspandari
Membahas Mengenai Situasi Industri Asuransi Kesehatan di Hong Kong

Moderator: Prof. APril Wu. Chinese University of Hong Kong
PHI in practice: Industry Experiences
Perspectives from Industry (Insurers, Pharmaceutical Manufacturers and Providers) Affordability after retired?
A Balancing Act – Keeping Private Health Insurance Afloat Under the Headwinds of Medical Inflation
Speaker: Ms. Sally Yuen-wai WAN
Chairman of Governing Committee Hong Kong Federation of Insurers Hong Kong Special Administrative Region
Asuransi kesehatan swasta (PHI) berada di bawah tekanan yang makin meningkat dengan makin meningkatnya biaya medis, harapan konsumen yang bertambah, dan bertambahnya proporsi populasi yang menua. Berdasarkan data industri, presentasi oleh Federasi Asuransi Hong Kong ini meneliti factor-faktor yang mempengaruhi dan implikasinya terhadap keberlanjutan. Data jumlah klaim yang meningkat 68 %, terutama untuk peningkatan besaran klaim pasien rawat inap yang mencapai 75 %. Jika dilihat lebih detail, pemanfaatan layanan dari provider diluar jejaring meningkat 76,9 % yang berasal dari peserta individu. Perlu dievaluasi kembali pola pemanfaatan layanan (utilisasi) apakah memang diperlukan atau behaviour driven?
Analisis data sangat membantu untuk evaluasi peningkatan klaim dua digit (15 %) setiap tahun, besaran klaim akan meningkat 50 % setiap 5 tahun dan mencapai 10 % dalam 10 tahun ke depan. Beban ini masih ditambah dengan jumlah populasi menua yang meningkat. Perubahan kebijakan seperti co-payment, menentukan batas spending limit, review dan pengembangan desain produk menjadi strategi yang perlu dipertimbangkan.
Integrated Solutions for a Sustainable Healthcare Financing: Perspectives from the Pharmaceutical Industry
Speaker : Ms. Sabrina CHAN
Senior Executive Director Hong Kong Association of the Pharmaceutical Industry Hong Kong Special Administrative Region
SDG 3.8 menyatakan bahwa sistem perawatan kesehatan harus memastikan “semua orang mengakses layanan kesehatan yang berkualitas termasuk obat-obatan dan vaksin tanpa menderita kesulitan keuangan”. Untuk mencapai hal ini, keterjangkauan pasien termasuk peningkatan akses ke obat-obatan inovatif sangat penting. Tetapi isu tersebut masih menjadi salah satu tantangan terbesar karena keterbatasan sumber daya. Sebagai bagian dari ekosistem, industri farmasi berupaya untuk bersama-sama mengembangkan solusi inovatif dengan pemangku kepentingan untuk membangun sistem pelayanan kesehatan yang berkelanjutan dengan kualitas luaran yang meningkat. Industri berupaya menjembatani kesenjangan pembiayaan dan mendukung layanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan. Akses yang tepat ke obat-obatan inovatif bagi pasien, memungkinkan mereka untuk mendapatkan manfaat dari kemajuan teknologi medis, mencapai hasil pasien yang lebih baik, dan meningkatkan kualitas hidup.
Aligning Incentives Across the Care Continuum: The Next Phase of Private Health Insurance in Hong Kong
Speaker : Dr. Yat CHOW
Executive Medical Director Bupa Hong Kong, Hong Kong Special Administrative Region
Meningkatnya beban penyakit kronis, biaya perawatan kesehatan, dan fragmentasi memerlukan desain produk dapat berkembang untuk mendukung perawatan pencegahan, manajemen penyakit kronis, dan pengendalian biaya jangka panjang dengan lebih baik. Ini berfokus pada tiga pertanyaan yang saling terkait: apakah pendanaan berbasis kapitasi dapat diterapkan dalam asuransi kelompok untuk memberi insentif pencegahan, apakah Skema Asuransi Kesehatan Sukarela (VHIS) harus diperluas melampaui perawatan rawat inap, dan bagaimana perusahaan asuransi dapat melayani pasien dengan kondisi kronis umum seperti diabetes dan hipertensi dengan lebih baik.
Pendanaan berbasis kapitasi merupakan mekanisme untuk menyelaraskan kembali insentif terhadap pencegahan dan pengelolaan kesehatan penduduk. Dengan beralih dari model fee for service ke kapitasi mendukung intervensi lebih awal, integrasi pendanaan, jalur pelayanan yang lebih baik, dan manajemen risiko kesehatan yang longitudinal. Namun, penggunaannya yang efektif bergantung pada infrastruktur data yang matang, keahlian klinis dan aktuaria, penyesuaian risiko yang kuat, serta tata kelola yang kuat untuk memastikan kualitas dan akuntabilitas provider.
Batasan struktural utama dalam desain PHI saat ini: pemisahan cakupan rawat inap dan rawat jalan. Memperluas PHI untuk memasukkan perawatan primer dan pencegahan dapat memungkinkan cakupan yang lebih komprehensif sekaligus mengurangi risiko rawat inap.
Perusahaan asuransi dapat beralih dari model fee for service ke pendekatan berbasis nilai untuk penyakit kronis akan mengurangi hambatan akses obat-obatan esensial, pelayanan rutin, dan skrining pencegahan sehingga meningkatkan hasil sekaligus mengelola biaya secara lebih berkelanjutan.
Right Care, Right Time: Redesigning Healthcare Around Patient Needs and Real-World Barriers Addressing emotional, financial and practical factors that delay care
Speaker: Ms. Candy AU-YEUNG
Chief Customer Operations & Health Officer Prudential Hong Kong Limited
Hong Kong Special Administrative Region
Peran penting pasien sebagai peserta dalam ekosistem pelayanan kesehatan, bukan hanya sebagai penerima pelayanan medis yang pasif. Karena sistem pelayanan kesehatan menghadapi tekanan yang meningkat, pergeseran demografis hingga kenaikan biaya, kebutuhan untuk merancang model perawatan yang menggabungkan perspektif pasien sangat diperlukan.
Hasil survei yang dilakukan oleh Prudential menghasilkan : akses ke perawatan yang tepat waktu menjadi tantangan yang signifikan di Hong Kong. Hampir 60% responden melaporkan menunda perawatan medis dalam setahun terakhir dengan alasan tidak menganggap gejala sebagai cukup serius, belum tersedianya waktu dari care giver, dan keengganan untuk membebani orang lain. Temuan ini memberi gambaran bagaimana pertimbangan emosional, keuangan, dan praktis dapat menghalangi individu untuk mencari perawatan disaat dibutuhkan.
Penyedia layanan kesehatan swasta dan PHI dapat bekerjasama mengatasi kesenjangan ini dengan memudahkan akses, memandu pasien ke jalur pelayanan yang tepat, dan menyelaraskan biaya dengan value. Dengan menempatkan pasien sebagai pengambil keputusan pemberian layanan, PHI ini membantu memastikan perawatan yang tepat, waktu dan biaya yang tepat. Pada akhirnya dapat memberikan ketenangan yang lebih baik dari sisi emosional pasien dan memberikan luaran kesehatan yang lebih baik.
Sustainable Private Health Insurance by Addressing What Customers Want vs. What Customers Need
Speaker : Mr. Pang CHYE, FIA
Principal & Consulting Actuary Milliman, Hong Kong Special Administrative Region
Dalam sesi ini, pembicara kembali menekankan bagaimana peserta PHI dapat dibiayai secara berkelanjutan. Tingginya premi bagi peserta lanjut usia, menjadi salah satu faktor tingginya kejadian Lapse (status tidak aktif) karena tunggakan. Angka kejadian Lapse pada peserta lanjut usia 5 kali lebih besar dibandingkan pada peserta di usia produktif. Pembiayaan klaim PHI 40 % ada pada peserta usia diatas 65 tahun, dan 25 % nya ada pada akhir masa hidupnya. Strategi yang saat ini digunakan adalah : 1. Mendesain produk dengan deductible range lebih lebar; 2. Produk saving untuk pre-fund deductible yang tinggi; 3. Claim based pricing.
Reporter: Diah Ayu Puspandari
Knowledge Sharing Event ini menyimpulkan bahwa:
- Peran asuransi kesehatan swasta sebagai supplementary dan complementary asuransi kesehatan sosial dalam UHC diperlukan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian karena dana pemerintah terbatas.
- Asuransi Kesehatan Swasta dapat difungsikan sebagai konektor yang menghubungkan segmen masyarakat mampu dengan kebutuhan layanan berbiaya tinggi. Dengan demikian asuransi kesehatan swasta diperlukan untuk shifting dan mereduksi Out of Pocket (OOP) di kalangan mampu.
- Intervensi kebijakan asuransi kesehatan swasta diperlukan untuk menjamin agar asuransi kesehatan sosial dapat fokus memberikan kesempatan akses bagi lebih banyak peserta sebagai Jaring Pengaman Sosial (Safety Net), dan memberikan layanan/paket manfaat yang berkualitas berdasarkan prinsip keadilan.
- Desain pengembangan produk asuransi kesehatan bervariasi di setiap negara untuk penguatan UHC. Perlu diperhatikan isu tentang pro-poor dan pro-rich, agar pemerintah tidak mengalokasikan anggaran untuk penduduk berpenghasilan sangat tinggi.
- Asuransi Kesehatan Swasta merupakan industri yang sangat rumit, membutuhkan data, sistem informasi dan komunikasi yang baik agar dapat efisien serta memberikan keadilan bagi semua orang dalam kerangka UHC.
Bahan-bahan ini akan dibahas pada pertemuan tanggal 17 Juni 2026 di Indonesia.
Laporan negara-negara di Asia dapat dibaca di buku Program.