Pos oleh :

chsm

Reportase Pelatihan Jarak Jauh Penyusunan Rencana Strategis Rumah Sakit Daerah Pertemuan 6 “Strategi Advokasi RSD Kepada Pemerintah Daerah”

Selasa, 10 Juni 2025

PKMK-Yogyakarta. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., dalam pengantarnya menyampaikan bahwa renstra merupakan dokumen yang berisi peta jalan suatu rumah sakit daerah untuk menuju suatu titik tujuan tertentu yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak baik eksternal maupun internal sehingga diperlukan tahap selanjutnya berupa advokasi, yaitu suatu upaya untuk membela atau mendorong kepentingan. Untuk menyampaikan suatu advokasi yang baik dibutuhkan bahan bahan yang dapat meyakinkan pihak eksternal seperti susunan draft renstra yang matang, visi misi dan tujuan rumah sakit daerah, hingga proyeksi anggaran jangka panjang. Selain itu, isu kelembagaan BLUD juga penting untuk disampaikan dalam proses advokasi rumah sakit daerah kepada pemerintah daerah. Kemampuan komunikasi persuasif merupakan modal utama yang harus dimiliki para direktur rumah sakit untuk menunjang proses advokasi. read more

Seminar Transformasi Sistem Kesehatan dalam Perspektif Desentralisasi Kesehatan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bersama Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM kembali menggelar “Seminar Transformasi Sistem Kesehatan dalam Perspektif Desentralisasi Kesehatan” pada Hari Selasa, 28 Desember 2021 pukul 10.00-11.40 WIB. Terdapat dua pembicara yang menyampaikan materi dengan fokus yang berbeda yaitu:

  1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
  2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman

Pembawa acara seminar yaitu Dr. dr. Dwi Handono, M.Kes, kemudian seminar dibuka dengan pengantar yang disampaikan oleh dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH. Dalam pengantar dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH terkait “Health System Transformation” disampaikan bahwa transformasi sistem kesehatan merupakan salah satu prioritas Kemenkes yang perlu diperbaiki terutama terkait pandemi COVID-19 untuk mengatasi health crisis kedepan. Transformasi tidak hanya menjadi kebutuhan bagi Indonesia tetapi juga internasional dan global. Faktor kegagalan transformasi dapat disebabkan karena:

  1. Tidak ada sense of urgency
  2. Tidak ada leadership team dari pihak kunci
  3. Tidak ada visi yang jelas dari transformasi
  4. Masalah komunikasi
  5. Kendala implementasi yang tidak diantisipasi
  6. Tidak ada perencanaan jangka panjang
  7. Capaian secara premature dianggap sudah berhasil
  8. Kegagalan untuk melembagakan transformasi setelah dilaunch

Salah satu kendala transformasi sistem kesehatan adalah friksi antara intervensi top-down dan bottom up. Sehingga seminar ini melihat respon daerah terkait transformasi sistem kesehatan dalam perspektif desentralisasi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Yulianto Prabowo, M.Kes menyampaikan materi I terkait “Respon Dinas Kesehatan Provinsi terhadap Reformasi Sistem Kesehatan”. Penanganan Covid-19 di Jawa Tengah memberikan pelajaran bahwa pengendalian sudah cukup baik dengan surveilans yang terus-menerus dan peningkatan laju vaksinasi. Meskipun demikian, disparitas antar daerah perlu menjadi perhatian. Aksi penanganan menuju transformasi: penguatan layanan primer, pemberdayaan masyarakat, penguatan layanan rujukan, penguatan laboratorium PCR, karantina terpusat sampai di daerah, percepatan vaksinasi, serta refocusing anggaran. Pemerintah daerah merevisi rencana strategis terkait pandemi untuk penguatan sistem kesehatan tidak hanya UKP tetapi juga UKM.

Materi II terkait “Transformasi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman” disampaikan oleh dr. Cahya Purnama, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Transformasi layanan primer di Kabupaten Sleman memprioritaskan upaya preventif dan promotif. Overkapasitas SDM perlu diatasi dan ditingkatkan kapabilitas, termasuk untuk jenjang karir SDM BLUD.

Dari hasil diskusi, disimpulkan oleh dr. Dwi Handono meskipun transformasi sistem kesehatan tampak sentralistis, pemerintah daerah memiliki kesiapan untuk komitmen transformasi kesehatan. Transformasi kesehatan di daerah diprioritaskan untuk mengatasi permasalahan spesifik di daerah, Tetapi tetap menangani seluruh aspek kesehatan untuk mencegah kegagalan pada sistem kesehatan.

Publikasi WHO: Memperkuat Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya disingkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu penyakit infeksi yang saat ini menjadi focus utama di seluruh dunia adalah COVID-19. Pandemi ini mendorong fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat aktivitas PPI-nya.

World Health Organization (WHO) telah menerbitkan berbagai standar dan tools yang terkait implementasi PPI. Namun perlu diakui bahwa publikasi sebelumnya tidak spesifik ditujukan pada fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) primer. Publikasi baru ini didasarkan pada pedoman, standar, dan tools PPI WHO yang sudah ada dan memiliki relevansi langsung bagi fasyankes primer. Target audiens utama dari dokumen ini adalah tenaga kesehatan, staf PPI, staf dinas kesehatan atau kementerian, para manajer fasyankes primer, dan tenaga professional lain yang tertarik untuk mengembangkan atau memperkuat program PPI di fasyankes primer.Program PPI merupakan bagian integral dalam sistem kesehatan nasional.

Selengkapnya

Publikasi WHO: Monitor Respon Sistem Kesehatan di Indonesia dalam Menghadapi COVID-19

World Health Organization (WHO) telah menerbitkan publikasi terbarunya mengenai monitor respon sistem kesehatan di Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19. Publikasi ini merupakan salah satu hasil rangkaian laporan The Health System Response Monitor (HSRM) yang digagas oleh kolaborasi kemitraan dalam The Asia Pacific Observatory on Health Systems and Policies (the APO).

The Health System Response Monitor (HSRM) dirancang untuk mengumpulkan berbagai informasi terkini terkait bagaimana sistem kesehatan sebuah negara merespon pandemi COVID-19. Laporan ini akan diperbaharui secara berkala apabila terjadi perubahan tindakan ataupun kebijakan dalam penanganan COVID-19. Laporan disusun oleh kontributor dari setiap negara, tim peneliti dan konsultan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK – KMK UGM) turut berperan menyusun laporan dari Indonesia.

Laporan ini berfokus pada enam topik utama, (1) pencegahan penularan/transmisi lokal, (2) memastikan jumlah infrastruktur fisik dan tenaga kesehatan yang memadai, (3) pelayanan kesehatan yang efektif, (4) pembiayaan pelayanan kesehatan, (5) tata kelola sistem kesehatan terkait COVID-19, dan  (6) tindakan atau kebijakan dari sektor lain non kesehatan dalam menangani pandemi.

Selengkapnya

Layanan Kesehatan yang Bermutu dan Tangguh Terhadap Bencana: Apakah membutuhkan Pendekatan Reformasi Kesehatan?

Sistem Kesehatan di Indonesia mengalami goncangan hebat sepanjang 2020 lalu akibat bencana non alam pandemi COVID-19. Pandemi ini berdampak dan menguji langsung Sistem Kesehatan Nasional dan Daerah (SKN dan SKD), yang mana keduanya diperhitungkan lemah untuk menghadapi ancaman ketahanan kesehatan, bencana alam, maupun bencana non alam seperti saat ini. Dalam menghadapi tantangan berat ini, ada pertanyaannya apakah Pemerintah akan melakukan strategi Reformasi Kesehatan? Apakah pendekatan reformasi ini tepat dilakukan dalam masa pandemi COVID-19 dan sesudahnya? Kegiatan Outlook ini akan mencoba membahas apa yang terjadi di tahun 2020 dan apa yang mungkin akan terjadi pada 2021. Acara diselenggarakan pada Rabu, 13 dan 20 Januari 2021 oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK – KMK UGM melalui zoom meeting, selengkapnya

Memori Kegiatan Tahun 2020 PKMK FK-KMK UGM

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), merupakan salah satu pusat kajian di bawah struktur Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada. PKMK merangkum dokumentasi kegiatan tahun 2020 dalam Memori Kegiatan Tahun 2020 PKMK FK-KMK UGM. Perjalanan tim manajemen, staf, peneliti, dan konsultan PKMK dapat disaksikan mulai dari saat sebelum pandemi, saat pandemi, dan setelah ada tatanan baru.

Sepanjang 2020, PKMK melaksanakan 677 kegiatan daring dan luring. Secara umum, kegiatan dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu: kegiatan organisasi yang didukung oleh unit publikasi, kegiatan proyek penelitian dan kerjasama yang dilaksanakan oleh divisi, dan kegiatan pengabdian masyarakat atau social events.

Selama Januari – November 2020, total kegiatan penelitian, pelatihan, dan konsultasi di PKMK adalah sebagai berikut:

  • 12 kegiatan penelitian, dengan 10 kegiatan bersumber dana internasional dan 2 kegiatan bersumber dana pemerintah,
  • 10 kegiatan kerjasama dengan sumber dana luar negeri dan dalam negeri, dan
  • 13 pelatihan dengan sumber dana dalam negeri.

PKMK telah banyak belajar dari pandemi COVID-19 dan terus aktif mengembangkan lembaga dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa tatanan baru (new normal).

Saksikan video lengkapnya di bawah ini:

Seminar Progress Hasil Literature Review SDM Kesehatan dalam Adaptasi Sistem Kesehatan Nasional Menghadapi Bencana dan Krisis Kesehatan

Sistem kesehatan diharapkan menjadi unsur yang penting dalam situasi apapun, baik situasi normal maupun merespon situasi bencana dan krisis kesehatan bagi sebuah negara. Seperti halnya, pandemi global COVID-19 tahun ini telah menguji sistem kesehatan nasional dan daerah. Apakah sistem kesehatan yang telah terbangun mampu berdaptasi dalam situasi kegawatdaruratan dan respon bencana menjadi sebuah pertanyaan yang menarik saat ini. Padahal, reformasi kesehatan harusnya mampu memberikan perhatian penuh terhadap isu pemerataan, pengembangan pelayanan kesehatan, pembiayaan, kepemimpinan, dan organisasi sistem kesehatan yang ada. Untuk itulah, krisis kesehatan yang hadir saat dan pasca pandemi COVID-19 ini menjadi momentum bersama untuk perbaikan sistem kesehatan di Indonesia yang ternyata masih belum berdaptasi dengan tingginya ancaman ketahanan kesehatan baik karena dampak bencana alam maupun non-alam.

Tantangan terbesar dalam penguatan kesiapsiagaan bencana bidang kesehatan adalah kesadaran yang rendah untuk mengadaptasi program kesehatan yang berwawasan manajemen risiko karena kita tinggal di negara yang tinggi risiko bencana alam serta ancaman penularan penyakit akibat tingginya lalu lintas global di negara ini, juga jenis ancaman terorisme dan konflik yang terus mengancam ketahanan kesehatan. Tidak hanya itu, apakah wawasan risiko telah menjadi budaya dan prinsip dalam tatanan pelaksanaan sistem kesehatan nasional dan daerah? Jika iya, apakah semua program telah menganggarkan dan siapsiaga menghadapi dampak bencana alam dan pandemi seperti saat ini? Atau upaya penanggulangan bencana dan krisis kesehatan hanya menjadi tanggungjawab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau hanya tanggung jawab satu dua orang di dinas kesehatan yang selama ini ditugaskan untuk mengelola sub kegiatan krisis kesehatan di bawah bidang Layanan Kesehatan atau di bawah seksi rujukan/ wabah? Semua hal ini berhubungan dengan kemampuan SDM kesehatan dalam merencanakan dan merespon situasi bencana.

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK – KMK UGM) didukung oleh Knowledge Sector Initiative (KSI), sebuah inisiatif dari Pemerintah Indonesia dan Australia yang mendukung perumusan kebijakan berbasis pengetahuan dan kajian yang semakin berkualitas, dalam beberapa tahun ini berkomitmen mendampingi pemerintah dan masyarakat adalam agenda – agenda kebijakan kesehatan melalui hasil kajian dan advokasi isu terkait, diantaranya manajemen bencana, krisis kesehatan, pembiayaan dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Tahun ini, di bawah konsorsium LIPI, PKMK FK – KMK UGM diamanatkan untuk menganalisis dan mengembangkan adaptasi pilar SDM dalam SKN yang adaptif menghadapi situasi bencana dan krisis kesehatan ke depannya.

Dugaan penelitian atau hipotesis sementara adalah SKN yang ada belum berwawasan manajemen risiko bencana dan krisis kesehatan, akibatnya SDM kesehatan bingung dalam merespon situasi bencana dan krisis kesehatan. Pembuktian ini akan dilakukan melalui kegiatan kajian literatur, penelitian dokumentasi dan penelitian evaluasi terkait SDM kesehatan. Harapannya, kajian – kajian ini dapat menjadi dasar rumusan draft rekomendasi kebijakan untuk memasukkan manajemen risiko sebagai salah satu prinsip dan nilai dasar pelaksanaan SKN ke depannya.

Berdasarkan pengantar di atas, PKMK FK – KMK UGM menyelenggarakan seminar progress hasil literature review mengenai SDM kesehatan dalam adaptasi SKN menghadapi bencana dan krisis kesehatan.

 

TUJUAN KEGIATAN

Seminar ini bertujuan untuk:

  1. Menyampaikan kerangka, proses dan hasil sementara kajian literatur terkait pilar SDM kesehatan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan
  2. Mendapatkan masukan dan rekomendasi untuk penyempurnaan hasil kajian litertur

WAKTU, TEMPAT DAN AGENDA KEGIATAN

Hari/ Tanggal      : Senin / 21 Desember 2020
Waktu                    : 10.00 – 12.00 WIB
Tempat                  : Di tempat masing – masing menggunakan platform online

Jam Kegiatan Keterangan
10.00 – 10.10 WIB Pengantar dan pembukaan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD
Ketua Departemen HPM FKKMK UGM

Moderator : Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, SKM, M.Kes

Konsultan/ Kepala Divisi Manajemen Rumah Sakit PKMK FK-KMK UGM

10.10 – 10.30 WIB Presentasi progres kajian literatur: SDM kesehatan dalam adaptasi SKN menghadapi bencana dan krisis kesehatan Tim Penulis : Madelina Ariani, SKM, MPH

Peneliti Divisi Manajemen Bencana PKMK FK-KMK UGM

10.30 – 10.50 WIB Diskusi 1:

Tantangan SDM kesehatan disituasi pra bencana dan krisis kesehatan dalam pelaksanaan SKN

Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes, MAS

Ketua PKMK FK – KMK UGM/ Senior Lecturer of Health Poilcy and Management FK-KMK UGM

10.50 – 11.10 WIB Diskusi 2:

Tantangan SDM kesehatan dalam merespon bencana dan krisis kesehatan serta penerapan SPM layanan kesehatan dan pelaksanaan SKN

dr. Bella Donna, M.Kes

Konsultan/ praktisi bencana kesehatan/ Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

11.10 – 11.30 WIB Diskusi 3:

Reformasi SKN untuk negara rawan bencana dan krisis kesehatan, serta tantangan ketahanan kesehatan global

Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional RI/ Bappnenas
11.30 – 11.55 WIB Diskusi umum Moderator
11.55 – 12.00 WIB Kesimpulan dan penutup Moderator

 

KEPESERTAAN

  • Seminar ini terbuka untuk umum, PKMK FK – KMK UGM sebagai host akan mempublikasikan infografis seminar beserta link pendaftaran Zoom
  • Presentasi akan dilaksanakan dalam Bahasa Indonesia dan tidak disediakan penerjemah bahasa isyarat.
  • PKMK FK – KMK UGM akan mempublikasikan reportase hasil kegiatan di website bencana-kesehatan.net
  • read more

    Pelatihan Teknik Berbicara di Depan Kamera

    Pada Jumat, 11 Desember 2020 dilaksanakan Pelatihan Teknik Berbicara di Depan Kamera yang diselenggarakan oleh PKMK FK – KMK UGM. Pelatihan ini dibuka oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, dan sebagai pemateri adalah  Sealvy Kristianingsih, S.E., M,Sc., dan Dr. Ayu Helena Cornelia, BA, M.Si.

    Prof. Laksono membuka pelatihan ini dengan menjelaskan bahwa sebagai konsultan itu penting untuk meningkatkan mutu isinya (Modul A) dan meningkatkan mutu komunikasi (Modul B). Termasuk penampilan di depan kamera yang akan dipelajari pada sesi ini. Selanjutnya, Sealvy menjelaskan tentang Broadcasting dan Home Studio. Selama masa pandemi ini, ada banyak kegiatan online yang dilaksanakan dari rumah, sehingga penting untuk menyediakan perlengkapan serta koneksi internet yang memadai. Sealvy menjelaskan tentang perlengkapan yang direkomendasikan, termasuk green screen, laptop, lampu vlog, headset, dan mic USB. Dalam sesi ini juga dijelaskan tentang proses produksi broadcasting yang dikerjakan di PKMK. Dalam diskusi dijelaskan mengapa harus memakai green screen dan kemungkinan permasalahan koneksi yang terjadi. Selengkapnya, simak materi lebih lanjut di sini.

     

     

    Sesi selanjutnya adalah materi dari Ayu dengan judul “Bicara Lancar dan Mempesona di Depan Kamera”. Saat menjadi konsultan, klien kita bervariasi sehingga para konsultan harus menyesuaikan diri. Saat berbicara di depan umum, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyampaikan materi kita supaya berkesan.  Walaupun materi yang disampaikan berat, bila kita bisa menyampaikan dengan baik, maka audiens bisa menerima dengan lebih mudah. Untuk bisa berbicara dengan baik di depan kamera, yang pertama adalah mata kita harus sejajar dengan kamera. Meskipun selama bicara di seminar online kita tidak melihat audiens, namun kita harus yakin bahwa audiens mendengarkan dan kita harus membuat audiens tidak mengantuk, dengan membuat intonasi suara naik turun. Suara perut menghasilkan suara yang lebih tenang dan ada tekanan.

    Persiapan untuk berbicara di depan kamera antara lain tersenyum dari hati, penampilan, peralatan, dan mikrofon.  Ayu melanjutkan menjelaskan tentang environment yang mencakup background, situasi yang tenang, dan lighting, lalu posisi dimana kamera harus sejajar mata, berdiri untuk presentasi formal dan duduk untuk meeting dan diskusi. Bila ada kendala saat berbicara online, sebaiknya disampaikan kepada audiens supaya tidak bingung. Selanjutnya adalah grooming/non verbal atau self confident, agar audiens senang mendengarkan kita berbicara. Kita juga bisa mengandaikan seperti kita berbicara kepada orang terkasih, keluarga, atau teman atau orang yang menyenangkan, supaya powerful dan energi kita keluar. Ketika berbicara di depan kamera, kita harus memproyeksikan energi kita, apalagi bila berbicara tentang passion. Apa yang kita ucapkan berbeda dengan tulisan, oleh karena itu kontak mata, ekspresi, suara yang jelas dan tidak dibuat-buat, serta gestur/penggunaan tangan itu penting. Selanjutnya adalah practice makes perfect, supaya bisa lebih lancar berbicara di depan kamera. dr. Ayu menyampaikan juga tentang poin utama materi yang disampaikan : salam pembuka, poin – poin diskusi, summary/closing, dan infografik.

     

     

    Pada diskusi, Ayu membahas bahwa kita harus yakin kalau audiens mendengarkan kita, dan kita harus memegang prinsip “we have to give more and expect less” sehingga yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan materi seenergik mungkin. Selanjutnya Ayu menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan bila ada kendala materi, yaitu dengan memiliki back up materi baik hard copy maupun laptop yang lain.Ayu juga memberikan tips sebagai moderator untuk menghadapi audiens yang terlalu rumit, yaitu mengenali audiens dan memberikan agreement terhadap audiens di awal acara dan menyimpulkan pertanyaan audiens tersebut. Moderator juga harus bisa menghentikan pembicara bila melebihi waktu yang ditentukan dengan sopan. Prof Laksono menambahkan pembicara juga harus berlatih agar materi yang dibawakan tidak melebihi waktu yang ditentukan.

    Sesi pelatihan ini ditutup Prof. Laksono dengan saran untuk para konsultan berlatih berbicara di depan kamera, agar tidak tampak sembarangan dan mendapatkan trust dari para klien, karena berbicara di depan umum bukan hanya bakat, namun juga teknik.

     

    Reporter : Srimurni Rarasati

    Arsip Video

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=CGNLHwAXOis[/embedyt]