Mengembangkan Produk-Produk Inovatif PKMK FK-KMK UGM:
Fokus pada Masyarakat Lanjut Usia dan Wellness &
Memperbaharui Hubungan Internasional
Oleh: Laksono Trisnantoro
Selama hampir 40 tahun saya di Prodi S2 IKM-HPM dan PKMK, hampir setiap 4-5 tahun sekali melakukan perjalanan dinas panjang internasional untuk melakukan networking, presentasi paper internasional, belanja ide, pembelajaran, hingga negosiasi kontrak. Catatan perjalanan pertama dilakukan di Budapest (Hongaria) dan Inggris pada 1995. Kemudian pada tahun 2000 ke Amerika Serikat. Lalu ke negara-negara Asia pada 2005. Tahun 2008 ke Australia. Tahun 2012 ke Eropa dan Amerika Serikat. Tahun 2017 ke Amerika Serikat. Pada masa COVID-19 tidak ada perjalanan dinas. Tahun 2021 saya pindah ke Jakarta sebagai Staf Khusus Menkes.
Perjalanan dinas ini dilakukan dalam kapasitas sebagai Ketua dan sebagai Ketua Board PKMK FK-KMK UGM. Setiap perjalanan dinas menghasilkan sesuatu dan hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan (termasuk Return on Investment) dengan follow-up yang detil. Banyak yang berhasil, walaupun ada juga yang kurang berhasil. Seperti perjalanan-perjalanan yang lampau, bagaimana FK-KMK UGM bisa mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak di dalam dan di luar negeri merupakan hasil yang ingin dicapai. Pencapaian tentunya melalui follow-up detil setiap perjalanan dinas.
Perjalanan bisnis ini merupakan perjalanan terakhir saya sebagai pengurus PKMK (Ketua Board). Setelah perjalanan ini, saya menyerahkan tugas sebagai Ketua Board PKMK ke Dr Lutfan sebagai Kepala Departemen HPM ex-officio. Akhir bulan ini, secara resmi, akan selesai era saya di pengurusan PKMK. Oleh karena itu akan ada perubahan dari perjalanan-perjalanan yang lama. Follow-up dari hasil perjalanan saya pada 2026 ini perlu disetujui dan dipimpin oleh Direktur PKMK dan Ketua Board yang baru. Selama 5 tahun ke depan, saya akan berperan sebagai anggota biasa untuk mem-follow up hasil perjalanan dinas ini, apabila memang disetujui.
Berdasarkan kerangka kerja “toko kelontong”, perjalanan bisnis ini dirancang untuk mendapatkan hasil yang dapat dilakukan oleh FK-KMK UGM. Sebagai catatan pemahaman “toko kelontong” adalah sebagai berikut: penggunanya banyak walaupun besaran rupiah pembelian kecil. Pengguna akan langsung mendapatkan manfaat dari apa yang didapatkannya. Pengguna “toko kelontong” ada 2 kelompok. Kelompok 1 adalah pengguna domestik. Mereka berasal dari 3 ribuan rumah sakit di Indonesia, lebih dari 400 dinas kesehatan, puluhan ribu klinik, jutaan tenaga kesehatan, sampai ke ratusan LSM-LSM/konsultan di bidang kesehatan. Kelompok ke-2: adalah pengguna internasional yaitu kementerian-kementerian kesehatan berbagai negara dan organisasi-organisasi pelayanan kesehatan. Mereka berharap ilmu dari UGM dapat diterapkan dan mengatasi masalah yang mereka hadapi.
Hasil yang diperoleh dari perjalanan bisnis ini adalah bagaimana FK-KMK UGM dapat memberikan produk inovatif untuk pengguna dalam negeri dan luar negeri sekaligus. Produk yang dikembangkan untuk pelayanan usia lanjut dan wellness berbasis IT dengan dukungan alat kesehatan, obat, herbal,dan gizi yang tepat. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari apa yang dikerjakan oleh Laksono Trisnantoro saat menjadi Staf Khusus Menkes, periode 2021 – 2024. Produk-produk ini merupakan inovasi terbaru dengan jangkauan internasional, termasuk Kementerian Kesehatan di setiap negara, juga sejumlah rumah sakit di luar negeri.
Visi Pengembangan dalam Perjalanan Bisnis ini
Visinya adalah FK-KMK UGM mempunyai produk inovatif yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna di seluruh dunia. Produk inovatif ini merupakan sebuah sistem yang dapat dijalankan oleh RS-Klinik-klinik dan dinas kesehatan, masyarakat di rumahtangga, serta hotel/resort.
Produk ini didukung oleh pelatihan SDM di UGM. Pelatihan ini membutuhkan infrastruktur perjalanan luar negeri dan dalam negeri ke Yogyakarta, akomodasi dan tempat konferensi yang baik di UGM, kurikulum pendidikan dan pelatihan yang baik, serta sistem teleconference. Saat ini DIY sedang menuju pusat pengembangan pelatihan SDM internasional dengan adanya YIA dan terhubungnya dengan jalan tol ke Yogya. Di samping itu produk-produk yang ada akan didukung oleh peralatan medik yang terhubung dengan internet (Internet of Medical Devices). Produk inovasi yang dikembangkan adalah berupa pelayanan kesehatan langsung ke masyarakat Penggunanya banyak sekali, dapat jutaan. Produk-produk tersebut adalah:
1. Elderly care, termasuk home care dan Hospital at Home.
Produk Hospital at Home oleh UGM merupakan suatu sistem pelayanan yang dapat dipergunakan oleh RS untuk memberikan pelayanan. Sistem ini terdiri atas:
- Proses bisnis klinis berbasis IT yang terhubung dengan berbagai alat kesehatan dan
- Proses pencegahan dan terapi oleh tenaga-tenaga terlatih dalam sistem Pelatihan dilakukan oleh UGM/RSA untuk dokter spesialis, dokter umum, perawat, fisioterapis, manajer secara interdisiplin.
- Pemberian gizi, herbal, dan obat dengan standar
- Pengembangan sistem pendanaan non-BPJS yang dapat dipergunakan untuk masyarakat mampu yang membayar sendiri atau yang tidak mampu dengan dukungan dana pemerintah dan filantropis. Sebagian obat akan di danai oleh BPJS.
Potensi pengguna:
Indonesia: 300 RS kelas A dan B. Internasional: …
2. Hidroterapi di luar RS (termasuk di rumah) atau di dalam RS
Pengguna: Pusat Aquatherapy/ wellness, RS, serta rumahtangga. Sistem pelayanan hidroterapi dari UGM.
- Proses bisnis klinis di fasilitas Hidroterapi berbasis
- Pool untuk hidroterapi yang pre-fabricated. Supply untuk pool dan peralatan medis oleh anggota ASPAKI
- Proses pencegahan dan hidroterapi oleh tenaga-tenaga terlatih. Pelatihan dilakukan oleh UGM/RSA/RSST untuk dokter spesialis, dokter umum, perawat, fisioterapis, manajer secara
- Pemberian gizi, herbal, dan obat pengguna hidroterapi dengan terapi
- Pengembangan sistem pendanaan non-BPJS yang dapat dipergunakan untuk masyarakat mampu yang membayar sendiri untuk fasilitas hidroterapi atau yang tidak mampu dengan dukungan dana pemerintah dan filantropis.
Potensi pengguna:
Indonesia: 500 Pemda, plus 200 tempat untuk Aqutherapy Center oleh swasta. 300 RS serta ratusan ribu rumah tangga yang membutuhkan.
Internasional: …
3. Health Tourism, termasuk Wellness di Hotel.
Pengguna: Hotel dan Klinik-klinik untuk masyarakat sehat dan yang membutuhkan ambulatory care. Lokasi di hotel/resort.
Sistem kontrak seperti di Komune Living & Wellness di Kuala Lumpur. Potensi pengguna:
Indonesia: 100 hotel di kota-kota dan resort wisata Internasional: …
4. Wellness Campus
Merupakan sistem UGM yang mempunyai komponen:
- peralatan medik
- sistem internet
- pelatihan SDM
- pengembangan business
Potensi pengguna:
Indonesia: 10 kampus besar Internasional: …
Semua produk di atas mempunyai proses business yang sama. Ada sistem IT, medical devices, obat/herbal/gizi, yang disampaikan ke masyarakat pengguna. Medical devices-nya bukan mempunyai teknologi tinggi seperti MRI atau PET-CT. Produk-produk ini dapat disebut sebagai start-up, dengan pengembangnya oleh PKMK FK-KMK UGM. Sistem dibangun oleh UGM yang kemudian ditawarkan ke korporasi-korporasi pengguna yang akan memberikan pelayanan langsung ke masyarakat.
Kegiatan ini bersifat inovatif yang diharapkan mempunyai Social Impact berupa peningkatan kesehatan masyarakat dan terkelolanya kesehatan masyarakat yang menua. Investasi diperlukan dan dapat dilakukan oleh UGM bersama pihak industri serta RS yang berminat menjadi pelaku aktif. Pendekatannya menggunakan model scaling sebagai berikut:

Scaling kegiatan ini akan dilakukan dengan pendekatan industri, termasuk menggandeng perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia. Di semua produk ada keterlibatan medical devices, bahan habis pakai, IT, konstruksi pool, dan juga obat, herbal serta gizi.
Dengan demikian perlu menggunakan model bisnis yang hulu ke hilir sebagai berikut:

Dengan alur ini, pendekatan produk melibatkan pihak-pihak industri sejak masa pre-market hingga marketing. Diharapkan pendekatan ini akan mencegah terjadinya kegagalan di Valley of Death dalam proses hilirisasi. Tahap penelitian dan pengembangan dilakukan oleh UGM bersama dengan RS, industri alkes, farmasi, dan distributor yang tertarik. Produksi
dilakukan oleh industri dengan registrasi NIE dan obat/makanan sesuai dengan aturan yang ada di Kementerian Kesehatan dan Badan POM.
Pada tahap marketing, iklan atau promosi produk-produk ini dapat dilakukan melalui berbagai cara:
- Pameran nasional misal di hospital expo
- Pameran internasional di IHF, Dubai, atau
- Melalui jaringan distributor ke RS
- Melalui jaringan K-
- dan seterusnya
Pelaku-pelaku industri yang dilibatkan dalam perjalanan bisnis ini adalah:
- PT Inspiry dan anggota-anggota PT Inspiry merupakan konsultan manajemen kesehatan khususnya dalam industri peralatan medik. ASPAKI merupakan asosiasi yang anggotanya adalah para produsen alat kesehatan.
Diharapkan ASPAKI dapat memproduksi pre-fabricated pool.
- Gadjah Mada Multi Usaha (GMU): akan meng–upgrade University Club (UC) Hotel sebagai hotel untuk mice dan wellness. Hotel UC diharapkan bisa menjadi mitra FK-KMK UGM untuk hosting pertemuan-pertemuan internasional, disamping Gelanggang Inovasi dan Kemahasiswaan (GIK).
Sebagai catatan DIY sudah memperbaiki dan mempersiapkan sebagai pusat pelatihan tenaga kesehatan global. Hal ini terkait dengan adanya bandara YIA dan tol yang sudah dibangun, yang terhubung dengan Kompleks Borobudur sudah menjadi pusat destinasi wisata.
- Apotik K-24: untuk persiapan penyediaan obat yang personalized dan bahan-bahan
- Perusahaan farmasi, herbal, dan
Dalam pengembangan produk tersebut:
- UGM (Departemen HPM) akan menjadi inovator pembangun produk dengan didukung oleh lembaga-lembaga nasional dan internasional antara lain: Kemenkes, ANHSS, WHO WPRO, ADB. Inovator ini perlu didukung oleh sistem Health Technology Assessment (HTA) yang baik.
- Untuk scaling-up secara komersial, akan dilakukan oleh lembaga-lembaga komersial termasuk Gadjahmada Multi Usaha (GMU) serta PT Inspiry.
Apabila scaling-up berhasil, Departemen HPM akan mempunyai pendapatan yang steady di masa mendatang. Pendapatan Departemenn HPM dari:
- Penggunaan IT
- Pelatihan-pelatihan
- Persentase dari penjualan obat, dan gizi
`Di samping pendapatan dari SPP, riset dan konsultasi (PKMK) akan ada dari pelayanan kesehatan yang bekerja sama dengan berbagai RS dan klinik serta hotel/pusat wellness.
- Shanghai:
- Mengikuti China International Medical Equipment Fair 2026
- Menyiapkan pertemuan ANHSS di Shanghai untuk HTA
- Kuala-Lumpur:
- Mengantar GMU di Komune Living untuk benchmarking hotel yang fokus pada
- Diskusi dengan Medisca untuk obat-obat yang
- Manila
- WHO WPRO untuk health sytem.
- ADB untuk private health insurance dan pengembangan ADB ke
Hasil yang didapat
Pameran Peralatan Medis Internasional China ke-93 (CMEF) 2026.
Ini event global utama untuk teknologi perawatan kesehatan, di Pusat Pameran dan Konvensi Nasional di Shanghai. Bersaing dengan Dubai Expo WHX dan Dusseldorf Medica Expo.
- Total Exhibitors: 5,000+ inovator medis dari seluruh
- Country Pavilions: 30+ paviliun negara, menunjukkan peta kekuatan rantai pasok
- Total Visitors: 200,000+ profesional kesehatan, investor, dan eksekutif rumah
Di pagi hari, ribuan peserta hadir dan antre setiap pagi hari. Pameran ini merupakan penyelenggaraan yang ke-93 kali. Kita di UGM jarang sekali masuk ke lingkungan ini. Kita terbiasa di forum IHEA, IHF, Bank Dunia, WH), ANHSS dan lain-lain. Pameran seperti ini memang jauh berada di hilir dalam translasi pengetahuan kedokteran. Berhadapan langsung dengan pengguna produk-produk penelitian dan teknologi kesehatan/kedokteran. Sebuah dunia nyata yang sangat dinamis.
Indonesia hanya pengguna. Mohon diperhatikan banner-banner ini. Di Hall International ada Malaysia, Singapura, India dan lain-lain, namun Indonesia tidak ada. PT Inspiry yang mendanai saya ke sini, satu-satunya peserta Indonesia.
Salah satu keterkaitan kegiatan ini dengan program Hospital at Home adalah ketersediaan berbagai alat untuk pelayanan kesehatan yang terhubung dengan internet dan AI. Di pameran ini banyak sekali. Kategori produk utama yang terkait dengan Hospital at Home antara lain:
- Pencitraan Medis: Peralatan pencitraan, radiologi, dan
- Diagnostik In Vitro (IVD): Peralatan pengujian dan reagen
- AI: Perangkat yang dapat dikenakan dan aplikasi kesehatan Internet of Medical Things. Plus AI.
Meeting dengan Sekjen ASPAKI
Di sela-sela kegiatan pameran ada pertemuan-pertemuan dengan ASPAKI dan anggotanya. Secara umum industrialis di ASPAKI memberikan perhatian besar dan melihatnya sebagai inovasi yang masuk akal. Ini penting untuk memberikan arah bahwa produksi anggota-anggota ASPAKI jangan hanya untuk kepentingan proyek pemerintah atau RS. Namun juga untuk kepentingan swasta, rumah tangga, sampai ke personal care.
Pertemuan di kafe di sela-sela pameran di Shanghai, saya bersama dengan Sdr. Hartanto dari PT Inspiry dan Sdr. Erwin dari ASPAKI
Diskusi bersama HTA WHO Collaborating Center
Untuk pengembangan HTA, Fudan University sudah berkomitmen untuk memajukan HTA melalui ANHSS. Fudan membuka kerjasama dengan UGM yang akan dibahas lebih lanjut oleh Prof. dr. Jarir At Thobari, D.Pharm, PhD pada kunjungan Juni mendatang.
Bersama Prof Chen dan para peneliti di WHO Collaborating Center untuk HTA di Fudan University Shanghai
Mengantar executives GMU (Hotel UC) untuk mengawali benchmark di Komune Living & Wellness Hotel di Cheras.
Hasil: Dewan Direksi GMU bertekad untuk menjadikan Hotel UC dengan brand baru MICE & Wellness. hasil kunjungan akan dilaporkan ke Komisaris Utama GMU. Renovasi Hotel UC akan memberikan dukungan bagi pelatihan-pelatihan internasional dan nasional yang diselenggarakan FK-KMK UGM di masa mendatang. Tidak perlu lagi ke Hotel Santika atau Mercure.
Bersama dengan Sdr. Ibnu Direktur Gama Multi Usaha yang sedang merencanakan merenovasi Hotel UC. Hal ini juga akan memberi dampak pada pengembangan Wellness Campus.
Pertemuan dengan Medisca Canada dan apotik K-24.
Mengapa bertemu? Ada pasien-pasien indonesia yang ke Malaysia untuk mencari pengobatan personalized. Mereka membeli produk-produk Medisca sebagai salahsatu produsen obat personalized. Di Malaysia obat yang personalized dapat diracik di apotik. Tujuan meeting mengembangkan personalized medicine dan juga pemberian gizi terfokus untuk Indonesia.
Hasil: UGM akan menyelenggarakan seri webinar.
WHO WPRO
Rapat dengan: LLouis Torres, Annie Chung Feby Oldfira dari Group Health System & Policy di kantor WHO WPRO di UN Avenue Manila
Hasil:
- WHO Manila siap membantu mencapai member state untuk penyebaran informasi knowledge sharing. Ini terkait meeting di Hong Kong dan Shanghai Juni dan juga Post Graduate Program di Thailand.
- UGM akan mengembangkan webinar-webinar dengan WHO WPRO dalam kebijakan dan manajemen kesehatan. Akan membahas topik-topik spesifik di suatu negara, atau perbandingan antar negara.
- Membahas pengembangan rencana scientific-meeting pada Oktober 2027 di Yogyakarta bersama ANHSS. Topik mengenai Reformasi Sektor Kesehatan dan Climate Change. WHO WPRO siap membantu pembicara dan menyebarkan informasi.
ADB
Rapat dengan: Eduardo Bonzon, Health Specialist ADB bersama stafnya Akihito di kantor ADB Manila. Saya disertai Maya Herera dari Asian Institute of Management, anggota ANHSS.
Latar belakang kunjungan: ADB kembali ke sektor kesehatan pada 2014 sebelumnya program tersebut berhenti pada 2008. Setelah COVID-19, ADB akan lebih banyak bergerak di bidang kesehatan. PKMK pernah menjadi mitra ADB pada 2000-an. Waktu itu ADB sebagai “pembeli besar”, bukan pengguna “toko kelontong”. Memang terkadang ada aspek pertemanan. Jacques Jeugman (teman saya sekelas di LSHTM pada 1989, 20 tahun sebelumnya) sebagai pimpinan Health Sector di ADB. Kami teman akrab di London, dan dipertemukan kembali di Manila dalam kegiatan ADB Kesehatan. Pada 2026 ini Jacques sudah lama pensiun dari ADB. Saya belum pensiun dari UGM dan kembali ke kantor ADB di Manila dalam perjalanan dinas terakhir.
Sekarang yang memimpin adalah Eduardo Banzon, seorang Filipina, muda, dan ambisius. Pimpinan PKMK dan para peneliti/konsultan perlu pengenalan lebih dalam dengan kegiatan ADB. Saya melihat perlu ada diskusi untuk mencocokkan kegiatan PKMK dengan strategi masa depan ADB. Apa yang akan dikembangkan oleh ADB pada 2027 dan seterusnya. Eduardo menerangkan dengan detil pada pertemuan di Manila 15 April 2026. Ke dapan ada di berbagai isu yang menjadi concern ADB:
- UHC and Long-term Care
- UHC and Preparedness for Disaster
- Multisectoral Action, include Climate Change
- Digital Health Transformation
- Harnessing Private Sector, termasuk Private Health
- Investment in Health as an industry and place of employment and Job creation.
Apa yang disampaikan Eduardo mirip dengan apa yang dikerjakan PKMK saat ini. Sebagai catatan Dean ADB Institute di Tokyo saat ini dijabat oleh Prof Bambang Brojonegoro. Perlu ada kunjungan ke Tokyo. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan PKMK FK-KMK UGM bersama dengan FEB UGM melalui program Ekonomi Kesehatan.
Di samping itu, dibahas juga penelitian askes swasta bersama ANHSS. Penelitian segera dijalankan dan akan disajikan di meeting PMAC pada 2027 di Bangkok. Dana tersedia dari ADB.