Pelatihan Pemahaman dan Keterampilan Koding iDRG untuk Peningkatan Akurasi Klaim dan Mutu Data Pelayanan Rumah Sakit

Reportase Kegiatan

PKMK-Yogyakarta. Pelatihan “Pemahaman dan Keterampilan Koding INA-DRG untuk Peningkatan Akurasi Klaim dan Mutu Data Pelayanan Rumah Sakit” diselenggarakan oleh Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan rekam medis, koding klinis, serta pengajuan klaim dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pelatihan ini menghadirkan dr. Endang Suparniati, M.Kes sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH., CQIPS dari Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan diikuti oleh 38 peserta dari berbagai rumah sakit dan institusi kesehatan di Indonesia yang terlibat dalam pengelolaan rekam medis dan klaim pelayanan kesehatan.

idrg1

Dalam pengantar kegiatan, moderator menekankan bahwa ketepatan pengkodean diagnosis dan tindakan medis memiliki peran penting dalam sistem pembiayaan pelayanan kesehatan berbasis kasus yang digunakan dalam program JKN. Akurasi koding tidak hanya menentukan besaran klaim yang diterima rumah sakit, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas data pelayanan kesehatan yang digunakan untuk analisis, evaluasi, dan perencanaan kebijakan kesehatan.

Materi pelatihan diawali dengan pembahasan mengenai kebijakan dan regulasi JKN serta perkembangan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. dr. Endang menjelaskan bahwa sistem casemix digunakan untuk mengelompokkan pasien berdasarkan kesamaan karakteristik klinis serta penggunaan sumber daya pelayanan. Melalui sistem ini, pelayanan pasien dapat dibandingkan secara lebih objektif antar rumah sakit. Perkembangan terbaru menunjukkan adanya pembaruan menuju sistem iDRG yang memberikan pengelompokan kasus lebih rinci berdasarkan kompleksitas dan tingkat keparahan penyakit.

Peserta kemudian mempelajari konsep dasar pengkodean diagnosis menggunakan ICD-10. Koding merupakan proses klasifikasi diagnosis atau kondisi kesehatan ke dalam kode alfanumerik yang terstandar berdasarkan dokumentasi medis yang lengkap. Penulisan diagnosis yang jelas dan spesifik oleh dokter sangat membantu koder dalam menentukan kode yang tepat sehingga klasifikasi kasus dapat dilakukan secara akurat.

Pelatihan juga membahas pengkodean tindakan medis menggunakan ICD-9-CM, termasuk penentuan prosedur utama dan prosedur sekunder dalam satu episode perawatan pasien. Ketepatan pengkodean tindakan penting untuk memastikan kesesuaian pengelompokan kasus dan nilai klaim pelayanan kesehatan.

Narasumber selanjutnya menjelaskan penentuan diagnosis utama dan diagnosis sekunder. Diagnosis utama merupakan kondisi yang paling bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya pelayanan, sedangkan diagnosis sekunder mencakup komorbiditas atau komplikasi yang mempengaruhi perawatan pasien.

Untuk memperkuat pemahaman, peserta mengikuti studi kasus dan simulasi koding menggunakan sistem iDRG sehingga dapat melihat bagaimana kombinasi diagnosis, prosedur, dan kompleksitas kasus mempengaruhi hasil pengelompokan serta nilai klaim.

Selain aspek teknis, dr. Endang juga menyoroti potensi fraud dalam proses koding, seperti manipulasi diagnosis atau tindakan medis yang dapat meningkatkan nilai klaim secara tidak semestinya, sehingga fasilitas kesehatan perlu menerapkan pengendalian internal yang kuat.

Materi berikutnya membahas strategi pencegahan dispute klaim dalam pengajuan klaim JKN, dengan menekankan pentingnya koordinasi antara dokter, koder, dan verifikator serta kelengkapan dokumentasi medis agar klaim tidak mengalami pending atau penolakan.

Pada bagian akhir kegiatan, Eva Tirtabayu Hasri menyampaikan materi mengenai audit koding klinis sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Audit koding dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara dokumentasi klinis dengan kode diagnosis dan tindakan yang dilaporkan dalam klaim. Melalui audit yang dilakukan secara berkala, rumah sakit dapat mengidentifikasi kesalahan pengkodean serta melakukan perbaikan berkelanjutan dalam pengelolaan klaim.

idrg2

Diskusi antara peserta dan narasumber berlangsung aktif. Peserta berbagi pengalaman mengenai tantangan dalam menentukan diagnosis utama ketika terdapat beberapa kondisi klinis yang sama-sama signifikan serta permasalahan klaim yang mengalami pending akibat perbedaan interpretasi antara rumah sakit dan verifikator BPJS. Narasumber menegaskan bahwa kualitas dokumentasi medis, komunikasi yang baik antara dokter dan koder, serta pemahaman terhadap regulasi klaim menjadi kunci untuk mengurangi permasalahan tersebut.

Melalui pelatihan ini diharapkan peserta dapat meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis dalam proses koding diagnosis dan tindakan medis sehingga akurasi klaim meningkat dan mutu data pelayanan rumah sakit dapat terjaga dengan lebih baik.

Reporter:
dr. Helen Anggraini Budiono

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*